Oleh T.A. Sakti*
Berbekal dua bungkus Majun buatan sendiri, sore kemarin bersama teman RBT (Ojek), saya mengunjungi rumah Tgk Hasyem Piah di Piyeung Mon Ara, Montasik, Aceh Besar, Rabu, 7 Oktober 2020.
Kedatangan saya kali pertama ini terkait postingan saya kemarin saat berjumpa beliau di satu warung kopi Darussalam. Postingan itu banyak mendapat sambutan dari teman WhatsApp (WA) saya.
Sebagian besar turut bersimpati, tapi salah seorang di antaranya langsung menanyakan nomor rekening Tgk Hasyem Piah. Karena itulah tanpa berlama-lama saya mencari nomor rekening ke rumah beliau.
Setelah menempuh perjalanan sejauh sekira 9 kilometer, kami tiba di jalan kampung dekat rumahnya. Sebelum sampai ke rumah, yang halamannya penuh dengan semak belukar bekas sebuah PAUD yang telah lama tidak digunakan lagi.
Dengan dipapah teman, saya tertatih-tatih berjalan menuju rumahnya dengan melintasi sebuah tanjakan yang penuh bebatuan.
Dalam pembicaraan dengan Pak Hasyem Piah, dia menjelaskan kendala-kendala dalam menerbitkan karyanya berupa hikayat, like/kasidah, dan cae Aceh. Kecilnya modal yang dimiliki menjadi penyebab distribusi karyanya tersendat-sendat.
Selain itu putri bungsunya yang sudah dua tahun tamat MAN terpaksa tidak dapat kuliah karena terkendala biaya. Padahal sang putri sangat berkeinginan kuliah. Dia terlihat murung dan minder, dan malu keluar rumah, akibat kekalutan pikirannya. Tgk Hasyem Piah juga mengadukan ketidakmampuannya membeli Honda (sepeda motor) kepada putrinya.
Setelah mendapatkan nomor rekening atas nama istrinya Kartini, saya pun segera pulang. Pada jam 10 malam nomor rekening itu saya WA-kan kepada seorang Ibu simpatisan Pak Hasyem. Ibunda ini bukanlah orang Aceh, tapi ayah beliau berteman dengan seorang Aceh karena itu banyak membaca buku-buku tentang Aceh.
Pada jam 08.30 pagi tadi saya mendapat kabar dari beliau bahwa uangnya telah ditransfer ke rekening Kartini. Tanpa menunggu lama saya pun menelepon putri Pak Hasyem memberitahukan berita gembira tersebut.[]
*Budayawan Aceh.




