Oleh: Mulia Mardi*

Berada di China, tidak lengkap rasanya jika tidak menikmati permainan ski. Negara Tirai Bambu ini telah mengembangkan reputasi sebagai destinasi bermain ski internasional. Setiap tahun di Tiongkok memiliki 4 musim, musim dingin berlangsung dari bulan Desember hingga Maret. Setiap liburan musim dingin warga China beramai-ramai menikmati permianan ski, tidak terkecuali saya.

Saat liburan pada 8 Februaru lalu, saya berangkat sendiri. Kenekatan saya melangkah dan mencari pengalaman di negara orang pasti otomatis dinodai adegan deg-degan, takut salah jalan, ataupun misskomunikasi dan bisa saja salah tujuan. Area bermain ski terletak sangat jauh dengan Kota Wuhan tempat saya tinggal, kira-kira butuh 12 jam jarak tempuh.

Dari Kota Wuhan ke Kota Yichang saya naik kereta api selama 4 jam. Selanjutnya untuk menuju ke Kota Shennongjia (area permainan ski) dari stasiun Yichang harus mencari bus antarkota masih berada di area Stasiun Yichang. Bus menuju ke pegunungan ski akan berangkat pukul 5 pagi, artinya saya hanya memiliki waktu 1 jam untuk mencari loket bus tersebut. Sempat deg-degan karena takut ketinggalan bus, tapi alhamdulillah on time. Busnya masih ada.

Sesampainya di sana jadi bahagia banget, karena melihat pemandangan yang memukau. Hamparan bukit pegunungan salju dan orang-orang yang udah pada meluncur seperti profesional di olimpiade. Berasa jadi anak kecil yang pertama kali lihat gunung salju. Langsung saja nyicipin gimana rasanya makan salju, dan ternyata hambar seperti bunga es di kulkas.

Keluar fitting room (penyewaan alat ski) dengan kostum ski lengkap sambil tersenyum ngerasa paling keren, padahal angkat sepatu aja udah kaya robot. Pertama kalinya coba main ski dan merasa mengulang masa kecil ketika belajar dayung sepeda. Jatuh beberapa kali itu hal yang biasa bagi kita pemula dalam permainan ini, yang paling ngenes melihat anak-anak kecil ngetawain yang jatuh berkali-kali, karena anak-anak kecil tersebut sudah pada mahir seluncuran sana-sini. Sudah jatuh untuk bangun saja susah, harus butuh bantuan orang. Coba lagi tanpa sadar tiba-tiba di depan ada orang berhenti dan langsung saya nabrak orang sambil teriak “Aaaaa ”. Untungnya orang yang saya tabrak itu baik, katanya “meishi-meishi”, artinya tidak apa-apa.

Di area Shennongjia Resort skiing ada 5 level lapangan ski dari level pemula dan anak-anak sampai level profesional, level paling tinggi dan curam. Pertama main ski mungkin akan sulit buat tipe orang pemula seperti saya, kita yang belum mahir bisa mencoba di level pertama atau kedua, tapi saya mecoba di level kedua yang dominasi oleh orang-orang dewasa. Karena di daerah kita tidak ada salju sehingga membuat kita menjadi level pemula, ini yang membuat selalu penasaran kita dari indonesia untuk menikmati terjun dengan ski di atas salju.

Setelah mulai mengerti dan sudah bisa meluncur dengan lancar saatnya mempraktekkan langsung dari ketinggian yang lebih extrem. Yang paling berkesan waktu menaiki puncak tertinggi gunung dengan semacam kereta gantung. Langsung nekat mencoba kelas level 4 bermain ski di luar jalur dan heli-skiing untuk yang lebih berjiwa bertualang meluncur dengan kecepatan tinggi. Dari atas memberanikan diri untuk berselancar tapi masih juga terjatuh dua kali dan tergguling-guling keseret 50 meter. Sebenarnya puncak gunung tersebut yang membuat kita ketagihan para pemain ski. Jadi ke puncak sebanyak dua kali dan itupun harus mengantre panjang untuk naik dengan kareta gantung. Menyusurinya yang kedua kali ini sudah terasa agak mudah bagi saya, karena sebenarnya yang paling susah saat bermain ski yaitu ngerem dengan sempurna.

Bermain ski ternyata butuh keberanian dan usaha yang keras jika ingin mahir dan lancar. Begitu dalam proses kehidupan untuk melatih mental menghadapi hal yang sulit dengan jiwa yang selalu berusaha tanpa menyerah dan berani ambil resiko jika gagal.[]

Mulia Mardi, Mahasiswa Master Wuhan University. Pernah Aktif di KTM Teater Rongsokan