Kamis, Juli 25, 2024

Capella Honda Gandeng Jurnalis...

BANDA ACEH - Dalam rangka kampanye Sinergi Bagi Negeri, PT Astra Honda Motor...

Kejari Gayo Lues Eksekusi...

BLANGKEJEREN - Kejaksaan Negeri Kabupaten Gayo Lues kembali mengeksekusi uqubat cambuk terhadap delapan...

Pj Bupati Gayo Lues...

 BLANGKEJEREN - Askab PSSI Kabupaten Gayo Lues mulai mengelar pertandingan sepak bola Antar...

Bank Indonesia Aceh Ajarkan...

BANDA ACEH - Bank Indonesia Provinsi Aceh, melaksanakan kegiatan Kick Off serentak implementasi...
BerandaInspirasiBudayaMenonton Teater ‘Wasiat’,...

Menonton Teater ‘Wasiat’, Karya Pertama Djamal Sharief Sebagai Sutradara

Menonton Teater ‘Wasiat’, Karya Pertama Djamal Sharief Sebagai Sutradara

Oleh Thayeb Loh Angen
Jurnalis Portalsaatu.com
Pemimpin Kelompok Teater “Portalsatu Opera Theatre”, Banda Aceh.

MALAM itu, ruang teater tertutup Taman Seni Dan Budaya Aceh–Taman Budaya, disesaki penonton dari berbagai usia dan kalangan.

Suara musik sayup-sayup mengiringi akting para pemain yang berbicara secara bergantian. Pengunjung khidmat. Ini pertunjukan yang dinantikan sekian lama.

Mereka menonton pertunjukan teater berjudul: ‘Wasiat’ yang naskahnya dikarang oleh Novizal dan disutradarai oleh Djamal Sharief. Peristiwa bersejarah bagi Djamal Sharief dan kaulanya itu berlangsung pada Rabu malam, 3 Juli 2024, pukul 2):00 WIB sampai selesai.

Usai salat Isya malam itu, aku bersama maestro musik Moritza Thaher dan budayawan Nab Bahany As, memasuki ruang teater tertutup. Pertunjukan tengah berlangsung. Ruangan tribun penonton temaram. Panggung bersinar terang. Pakaian para pemain yang dikuasai warna kekuningan itu terlihat semakin cerah.

Aku menuruni tangga tribun yang dipadati pengunjung, duduk rapi di kursi masing-masing. Aku mencari-cari kursi yang belum diduduki saat itu. Setelah beberapa menit, akhirnya terlihat ada kursi kosong, cukup untuk kami bertiga.

Di sayap kiri belakang ruangan yang disesaki ratusan orang itu, kami menonton pertunjukan di atas panggung besar yang berada di sebelah timur ruangan.

Di ruangan itu, kami disuguhkan pertunjukan sebuah drama bergenre thriller, atau kisah yang menegangkan. Itu pertunjukan yang diperankan oleh beberapa orang perempuan dan seorang laki-laki.

Kita tidak akan berkesempatan menonton teater setiap bulan di Banda Aceh. Jadi, kami beruntung punya kesempatan untuk menontonnya malam itu.

Aku tidak akan menceritakan tentang kisah yang ditampilkan di teater tersebut, karena sudah kukisahkan di berita sebelumnya. Plot atau kelompok alur cerita yang dramatis itu disajikan secara lengkap sehingga memiliki nilai yang bagus untuk genre tersebut.

Kami menikmati pertunjukan tersebut, melihat gerak para aktris dan aktor, memerhatikan penampilan mereka. Hanya saja, suara mereka terdenar agak kecil—karena pengantar suara ke pengeras ditaruh jauh dari aktor, untuk kendahan pertunjukan—sehingga harus benar-benar mendengarkan, supaya memahami apa yang diucapkan oleh para pemain.

Suara musik yang sesekali menggelegar di antara kesayup-sayupannya, mengejutkan sesisi ruangan. Cukup untuk menyadarkan orang-orang yang hanyut di dalam kisah yang diperankan di panggung, bahwa itu adalah sebuah pertunjukan drama.

Ada beberapa bagian di dalam pertunjukan tersebut mendapatkan tepuk tangan meriah beberapa kali dari penonton. Para aktor mampu menjiwai perannya. Hal itu merupakan sebuah keserhasilan mereka.

Teater atau drama merupakan sebuah seni yang lengkap. Di dalamnya ada gerak, musik, sastra, dan seni rupa. Ada belasan kelompok teater yang aktif di Aceh, tetapi pertunjukan teater kurang. Hal ini disebabkan oleh banyak hal.

Melihat pertunjukan ini, aku berusaha memahami bagaimana besarnya upaya sutradara dan para aktor dalam berlatih selama sekira setahun, supaya mereka bisa menampilkan karya sebaik yang mereka inginkan.

Mereka berlatih sekian lama, dan ini adalah pertunjukan pertama. Menurut Djamal Sharief, seharusnya, sebuah teater yang latihannya memerlukan waktu lama, bisa ditampilkan beberapa kali, bukan sekali. Itu salah satu masalah dalam teater di Aceh selama ini. Kurangnya kesempatan menampilkan karya.

Hal tersebut membuat para pengurus kelompok teater mencari jalan supaya teater mendapatkan tempatnya, menjadi seni yang diminati oleh masyarakat. Itu bukan perkerjaan mudah. Walaupun tidak mudah, tetapi dapat dilakukan. Begitulah kata para penghasut, eh motivator.

Sebagai karya pertamanya sebagai sutradara, Djamal Sharief berhasil membentuk gaya akting para pemeran di dalam teater ‘Wasiat’, sebagai sebuah cerita yang dipertunjukkan.

Tentu, pengalaman sebagai pemain berbeda dengan pengalaman menjadi sutradara.

“Menjadi pemain atau menjadi sutradara, sama-sama menantang. Perbedaannya, aktor mengikuti dan melakukan apa yang diarahkan oleh sutradara, sesuai dengan karakter dan tokoh yang dituntut di dalam naskah. Sementara, sutradara tugasnya mengatur laku dan akting untuk semua aktor termasuk musik pengiring, setting dan dekorasi bahkan pakaian,” kata Djamal Sharief, di Banda Aceh, Selasa, 9 Juli 2024.

Pertunjukan Teater berjudul: ‘Wasiat’ ini diproduksi Studi Klub Pekerja Teater Aceh (SPARTA) yang dipimpin oleh Djamal Sharief sendiri. Didukung oleh Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Aceh melalui UPTD (Unit Pelaksana Teknis Dinas) Taman Seni Dan Budaya Aceh, Majelis Seniman Aceh (MaSA), dan Kubah (Komunitas Bersedekah Aceh).

Seusai pertunjukan, sebagian hadirin tidak langsung pulang, tetapi menunggu giliran berfoto dengan para pemain, sutradara, dan sekalian crew.

Setelah menyalami sutradara dan beberapa pemain, dan menikmati ruangan itu sekira setengah jam usai pertunjukan, kami meninggalkan gedung tersebut. Walaupun ada pengunjung yang tidak ingin pertunjukan itu berakhir, tetapi pertunjukan telah usai.

Sebagai kabar, Portalsatu Opera Theatre, bersama Majelis Seniman Aceh, Skeolah Musik Moritza, dan berbagai pihak lainnya, tengah menyiapkan sebuah opera—sebuah teater yang seluruh percakapannya dinyanyikan dengan aturan vokal yang khusus.

Opera itu bertajuk “Laksamana Keumalahayati” yang, insyaallah, akan ditampilkan pertama sekali, pada hari Perayaan Internasional Laksamana Keumalahayati, 1 Januari 2025, yang telah ditetapkan oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization).

Sebelum ini belum ada yang membuat opra di Aceh, atau di Sumatra. Menyiapkan sebuah pertunjukan opera, merupakan sebuah pekerjaan yang butuh waktu lama.

Sebuah opera melibatkan puluhan seniman dari berbagai bidang, serta belanja yang jumlahnya puluhan kali lipat dari kebutuhan seni pertunjukan lainnya. Djamal Sharief dan beberapa pemain teater ‘Wasiat’ akan dilibatkan di dalam produksi opera tersebut.

Pertunjukan Teater ‘Wasiat” semakin mengayakan perbendaharaan dunia teater di Aceh. Pengalaman penyutradaraan Djamal Sharief dan rekan lainnya dan akting para aktris dan aktor merupakan sebuah aset dunia seni dan kebudayaan di negeri ini. Sebagai seniman, aku merasa beruntung bisa menyaksikannya.

Kita memang mengharapkan dunia teater atau seni drama semakin maju di Aceh. Namun, hidup jangan penuh drama, seperti kisah di dalam drama Korea.[]

Baca juga: