Pikiran positif dibahas pada kajian psikologi populer. Terutama berkaitan tentang kebermaknaan diri dan cara memandang hidup.
Sebenarnya dalam pendekatan kesehatan juga memerlukan pikiran positif ini. Sebab pikiran ini tidak hanya menangkal kemungkinan penyakit, tapi mampu juga mempercepat kesembuhan serta merasa lebih bahagia.
Konon, sebagian penelitian menunjukkan,lompatan pikiran itu sekitar 6000 kali perhari. Dan dalam setiap sepuluh menit akan selalu berubah.
Untuk itu diperlukan daya tersendiri agar setiap diri dan komunitas merawat pikiran positif. Apalagi di tengah suasana yang tidak menentu dan penuh berita yang mencemaskan seperti sekarang ini.
Pikiran positif ini diperlukan setidaknya dapat menahan diri kita agar lebih selektif mencerna berita, tidak terburu buru dan mendukung stabilitas mental agar tetap optimis.
Dalam mekanisme ritus agama Islam,misalnya, pikiran positif ini dapat ditarik dengan pola zikir dan istighfar atau sejenisnya. Tetap memelihara amal yang wajib serta mengembangkan aktivitas sedapat mungkin. Sebab, pikiran kita terkait dengan aktivitas fisik kita, keduanya pun saling memengaruhi. Artinya,kita bisa juga merawat pikiran postif kita dengan menjaga ritme aktivitas fisik, seperti olahraga dan mengerjakah hobi kita. Di samping itu, kita juga hendaknya bergaul dengan mereka yang memiliki karakter berfikir positif juga.
Bila masih sulit mengembangkan pikiran positif, maka seseorang boleh merefleksikan perasaannya lewat konsultasi, menulis daftar yang ia risaukan, membayangkan harapan
terbaiknya, atau memperbanyak doa di waktu sunyi.
Selebihnya, setiap kita bisa memilih gambaran apa yang melintas di pikiran, yang kemudian menjadi konsep diri dan bahkan memengaruhi hidup kita. Sedang dalam Islam,pikiran baik itu senilai dengan niat baik, jadi akan menerima balasan yang baik pula dari Alllah.[]
Taufik Sentana
Peminat psikologi populer



