BANDA ACEH – Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) melakukan meuseuraya dalam kompleks makam tokoh istana Kesultanan Aceh Darussalam, di Gampong Pango Raya, Kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh, Minggu, 30 Agustus 2020.

Ketua Mapesa, Mizuar Mahdi, mengatakan pihaknya rutin menggelar meuseraya atau gotong royong untuk membersihkan kompleks situs-situs sejarah di Aceh. Namun, karena keterbatasan, pihaknya hanya melakukan meuseraya setiap pekan di kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar.

“Lazimnya kita membersihkan dan menata ulang kompleks pemakaman yang kondisinya sangat memprihatinkan,” kata Mizuar Mahdi, Minggu sore.

Mizuar menyampaikan, sebaran nisan tinggalan sejarah di Aceh jumlahnya sangat banyak dengan kondisi tidak mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat sekitar. 

“Jadi, kegiatan ini adalah cara kita untuk mensosialisasikan penyelamatan dan perawatan cagar budaya di Aceh,” ujar Mizuar.

Mizuar menjelaskan, kompleks makam tinggalan sejarah di Gampong Pango Raya itu pertama kali ditemukan pada awal 2012. Setelah delapan tahun, kondisinya masih sama sehingga hari ini Mapesa melakukan kegiatan penataan dan pembersihan.

“Kita tidak sembarangan melakukan proses penataannya, kita mengikuti kaedah-kaedah dalam arkeologi. Lazimnya nisan-nisan yang telah jatuh ini kita tata pada posisi aslinya. Jadi, tidak ada pemindahan dan pergeseran nisannya,” jelas Mizuar.

Menurut Mizuar, jika dilihat dari kompleks pemakaman ini adalah makam orang-orang atau tokoh istana kerajaan dahulu. Di samping itu letak kompleks makam juga lokasi inti dari bekas Kerajaan Meukuta Alam yang kemudian bergabung dengan Kerajaan Aceh Darussalam. 

“Secara tipe dan model nisannya ini berasal dari abad ke-17 dan 18 Masehi. Namun, kita tidak menemukan inskripsi pada nisannya,” ungkapnya.[]