BANDA ACEH – Peringatan Hari Buruh di seluruh dunia merupakan suatu momentum yang besar terhadap kebangkitan kaum buruh dari berbagai macam kesenjangan ekonomi dan politik. Kesenjangan politik dan ekonomi global berimbas terhadap golongan kaum buruh dengan teror PHK dan kesejahteraan.
Demikian disampaikan Koordinator Mahasiswa Peduli Perdamaian Aceh (M@PPA), Azwar AG, S.Pd, melalui siaran persnya kepada portalsatu.com, Senin, 2 Mei 2016. Dia mengatakan momentum hari buruh bukan hanya sekedar menjadi ajang demonstrasi bagi kaum buruh dalam menuntut haknya kepada pemerintah.
“Akan tetapi tetapi bagaimana momentum ini bisa menjadi media untuk menyampaikan aspirasi serta potensi kaum buruh terhadap pemangku kepentingan dikarenakan dalam hal ini, potensi kaum buruh sangat dibutuhkan untuk meningkatkan derajat hidup menuju kesejahteraan rakyat,” ujarnya.
M@PPA selama ini melihat banyaknya problematika yang terjadi, seperti aspirasi para kaum buruh yang belum dipenuhi secara maksimal oleh pemerintah, terutama dalam bidang upah dan PHK, “sehingga keberadaan PP No. 78 Tahun 2015 Tentang Pengupahan perlu ditinjau kembali.”
Menurutnya kaum buruh hari ini sudah dapat mengakses keterbukaan informasi dan pendidikan yang luas untuk meningkatkan potensi kaum buruh. “May Day hari ini harus menjadi pintu masuk untuk terus meningkatkan potensi kaum buruh secara lokal maupun nasional. Perbaikan nasib kaum buruh harus menjadi tugas kita bersama,” katanya.
Dia mengatakan hari ini tidak akan jalan ekonomi dan politik jika nasib kaum buruh masih terabaikan. Kaum buruh di Indonesia sudah meninggalkan cara-cara konfrontatif untuk menyampaikan apa yang menjadi tuntutan mereka. Menurutnya pemusatan pada pemenuhan hak sejahtera, belajar hukum dan bergotong royong menjadi segmen penekan untuk terus menggali potensi kaum buruh.
“Dalam konteks lokal, pemerintah daerah harus segera menyelaraskan semua program-program terkait dengan kaum buruh karena selama ini industrialisasi sudah mulai berkembang di daerah. Kaum buruh juga jangan hanya dijadikan sebagai sumber PAD saja bagi daearah dan perusahaan. Kaum buruh di Aceh juga sebagai katalisator perdamaian yang berkelanjutan di Aceh. Kami juga mendorong pemerintah untuk terus memperhatikan nasib kaum buruh dengan meningkatkan potensi mereka. Serta meninjau ulang semua regulasi yang ada untuk memangkas akar persolan yg selama ini masih menghantui kaum buruh,” ujarnya.[]

