SIDNEY — Imam Zainadine Johnson meyakini ajaran agama Islam yang telah menempatkannya di tempat yang tidak terbayangkan oleh banyak orang Australia.

Dia dibesarkan di Brisbane, bermain liga rugby untuk Mitchelton dan menghabiskan musim panasnya dengan berselancar di Sunshine Coast.

Keterampilannya bermain rugby membuatnya mendapatkan penghargaan perwakilan sekolah. Dia ingat pernah menjadi kapten tim junior Mitchelton Panthers dan memenangkan tiga gelar perdana menteri berturut-turut dengan klubnya.

Ketaatannya terhadap agama Kristen ditegaskan dengan kehadirannya yang rutin di gereja Presbiterian.

Setelah sekolah selesai, dia pindah ke Sunshine Coast untuk mencari pekerjaan dan berselancar. “Saya berselancar tiga kali sehari,” kata Imam Zainadine, dilansir dari laman Sunshine Coast Daily, Senin 3 Mei 2021.

“Itu adalah hasratku. Kami biasa bepergian dan berburu ombak,” ujarnya.

Imam Zainadine awalnya tidak tahu apa-apa tentang Islam. Tapi sebuah insiden di usia 20-an, yang tidak ingin dia bicarakan membawa perubahan.

“Sesuatu terjadi dalam hidup saya yang mendorong saya untuk menjadi orang yang lebih baik dan mencoba menemukan petunjuk dalam hidup,” katanya.

Dia juga melihat teman-temannya, laki-laki berusia 20-an, meninggal karena overdosis narkoba, mengemudi dalam keadaan mabuk dan bunuh diri.

“Saya merasa jika kamu terus berjalan seperti ini, kamu sedang menuju ke arah yang sama,” ujarnya.

Dia pindah ke Gold Coast sekitar tahun 1998 dan fokus menjadi peselancar profesional. “Saya mencoba mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi,” jelasnya.

Dia bertemu dengan calon istri Katoliknya, Fernanda Gonzalez, seorang mahasiswa internasional dari Columbia. Mereka menikah pada tahun 1999 dan putra pertama mereka lahir tak lama kemudian.

Saat itu dia bekerja sebagai konsultan di bidang pinjaman investasi. Imam Zainadine mulai pergi ke gereja Katolik setiap Ahad dan membaca Alkitab.

Itu membantunya tetapi rasanya tidak seperti yang dia cari. “Saya ingin menjadi seperti Yesus. Saya pikir dia benar-benar pria yang hidup bersih dan pria yang baik,” ujarnya.

Istri Imam Zainadine berteman dengan beberapa mahasiswa Muslim. “Kami mengundang Muslim ke rumah kami dan kami duduk bersama mereka sebentar,” katanya.

Imam Zainadine ingin mencari tahu tentang Muslim. “Karena saat itu ada propaganda yang membuat Muslim terlihat seperti iblis,” ujarnya.