BANDA ACEH – Ketua Umum DPP Partai SIRA, Muhammad Nazar, mengaku lebih fokus pada strategi darat pasca pengundian nomor urut partai politik peserta Pemilu. Mantan aktivis referendum ini juga enggan menjelaskan secara detil semua persiapan yang bakal dilakukan jelang Pemilu 2019.
“Sekarang kami ingin bekerja saja di lapangan,” ujar Muhammad Nazar menjawab portalsatu.com/, Senin, 19 Februari 2018.
Nazar mengatakan saat ini Partai SIRA hanya ingin menciptakan pemilih yang cerdas agar pembangunan di Aceh lebih baik. Menurutnya SIRA berkewajiban untuk kembali tampil di panggung politik untuk menyelamatkan pembangunan Aceh secara tepat.
“Kami tidak rela Aceh itu hancur dan tertinggal terus menerus,” kata pria yang pernah menjadi Wakil Gubernur Aceh tersebut.
Muhammad Nazar juga tidak mempersoalkan nomor urut 16 untuk partai SIRA di pemilihan mendatang. Menurutnya SIRA tidak terjebak dengan mistik angka di zaman logika dan akal yang sesuai pedoman Alquran dan hadist.
“Sebuah negeri harus diatur tidak dengan mistik angka. Ini zaman logika dan akal sesuai Alquran dan hadist. Sebab itulah negara maju sudah melepaskan diri dari mistik. Sementara manusia diciptakan sebagai khalifah, pemimpin itu harus menggunakan logika dan akal sehat tanpa mistik,” katanya.
Nazar menyebutkan SIRA merupakan pihak yang mengajukan kelahiran partai lokal di Aceh melalui berbagai perundingan, sejak tahun 1999. Selain itu, kata Nazar, SIRA merupakan partai lokal tertua di Aceh.
“Sebelum mendirikan Partai SIRA, dulu SIRA (Sentral Information for Referendum Aceh) sudah berisi para mahasiswa, santri, intelektual muda dan aktivis pembangunan, sosial dan kemanusiaan, yang sudah lama paham apa harus dilakukannya. Sekarang mereka sudah sangat matang dengan pengalaman dari lapangan dan realitas sosial, sekaligus umumnya mereka adalah orang orang pintar yang punya ideologi pembangunan yang berperadaban,” kata M Nazar.[]



