Karya: Taufik Sentana”
Sejak Adam yang memahami benda benda
Lalu Idris yang menulis dan membaca
Atau Nuh dengan bahteranya
Dan Ibrahim yang selamat dari panasnya api
Dan Musa yang membelah laut.
Atau unta yang keluar dari bukit berbatu
Dan Yunus yang selamat di perut ikan hut
Atau Sulaiman yang mengendarai angin
Dan ayahnya Daud yang melunakkan besi
Dan Isa yang menghidupkan si mayat
…..kesemua hanya pertanda, hanya ayat,
sekeping mu'jizat dari bukti kenabian,
agar si mata yang menyaksikan
menemukan iman.
Tapi mata itu akan sirna
dan pertanda itu akan jadi cerita
dengan ragam versinya.
Hingga tiba di Muhammad
yang kepadanya seluruh salawat,
mu'jizatnya tak semata yang diraba indera mata.
Baginya diwahyukan Qur'an Mulia,
yang seluruh isinya adalah mu'jizat,
dan seluruh keterangannya adalah ayat
dari Rabb yang Tinggi penuh rahmat.
Maka apa yang tampak oleh mata
dan dan dicerna oleh akal sehat
akan terus menjadi ayat untuk mengenalNya:
Lihatlah seekor nyamuk,
keberadaannya melampaui kuasa tongkat Musa.
Lihatlah beburung yang terbang,
keberadaannya melampaui Sulaiman yang mengerti bahasa binatang.
Lihatlah awan yang mengandung hujan
dan gunung gunung yang menjadi pasak,
Lihatlah lebah yang mengisi rumahnya dengan madu.
Lihatlah laut dan isinya,
Lihatlah langit dan perhiasannya,
Lihatlah yang engkau makan
Atau lihatlah ke dalam dirimu,…
Kesemua adalah ayat, penanda mu'jizat
bahwa tiada yang dapat dilakukan manusia atas QudrahNya. KepadaNya tunduk dan berpasrah
Setiap wujud.
Lihatlah mu'jizat yang ditampakkan Alquran,
Dengannya mata dan akal kita terbuka lebar
Lalu hatipun bergetar dan sadar….,
Manusia hanya setitik wujud
yang teramat lemah dan mudah tersesat.
Maka Al Qur'an menjadi mu'jizat
Agar setiap kita kembali selamat
Dengan memilih jalan yang dilalui Muhammad.[]
Taufik Sentana*
Peminat literasi sosial dan dakwah
Menetap di Aceh Barat.



