SIGLI – Museum Tsunami atau lebih dikenal In Memoriam Tsunami di Kabupaten Pidie luput dari perhatian pemerintah. Ratusan foto terkait gempa dan tsunami sudah rusak tanpa ada perbaikan.
Kondisi luar gedung yang terletak di depan Pendopo Bupati atau tepatnya di pintu gerbang masuk Pantai Pelangi, Gampong Kuala Pidie, Kecamatan Kota Sigli, tak terurus. Padahal gedung itu dibangun untuk menyimpan dokumen memori penting tentang musibah maha dahsyat mengguncang sebagian besar Aceh, termasuk Kabupaten Pidie.
Teuku Musliadi, salah seorang warga Kota Sigli, Rabu, 25 Desember 2019, sangat menyesalkan pemerintah tidak menghiraukan gedung tersebut. Bahkan, dia menilai pemerintah setempat terkesan menutup mata terhadap pemeliharaan gedung yang menyimpan bukti sejarah itu.
“Bayangkan saja, sejak dibangun 11 tahun silam dan foto-foto korban ditempelkan dalam gedung, hingga saat ini tidak pernah diperbarui termasuk perawatan, sehingga foto-foto mengalami kerusakan,” kata T. Musliadi yang berprofesi pengacara.
Selain itu, lanjutnya, keberadaan mushalla tidak bisa digunakan karena terkunci pintunya dari dalam. Begitu juga WC, sehingga terlihat jorok. Sementara tiap sore, apalagi hari libur, ramai pengunjung berfoto di gedung itu.
“Kita berharap pemerintah peduli akan keberadaan gedung Museum Tsunami sebagai gedung menyimpan dokumen sejarah dari kerusakan,” harapnya.

Kepala Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Pidie, Apriadi, Rabu, 25 Desember 2019, mengaku, selama dirinya menjabat kadis, tidak ada biaya pemeliharaan yang dialokasikan untuk gedung itu. “Selama ini tidak ada anggaran pemeliharaan. Insya Allah, tahun ini kita coba usulkan, agar ada biaya pemeliharaan,” kata Apriadi.
Apriadi mengaku tahun 2020 dirinya akan menempatkan satu bidang dari dinas yang dia pimpin ke gedung itu. Dengan penempatan bidang tentunya gedung akan terawat.
“Rencana saya, satu bidang ditempatkan operasional di Gedung Tsunami demi menjaga dan terawatnya gedung dan peralatan lainnya,” imbuh Apriadi.
Dia mengaku saat melakukan survei, Selasa, 24 Desember 2019, dalam rangka persiapan peringatan tsunami ke-15 tahun, melihat tidak ada barang dan foto dokumen di dalam gedung museum. Foto-foto yang terpajang sudah pudar dan rusak karena lama tak terawat.
“Lalu, saya koordinasi dengan Kabag Pengelolaan Data Elektronik (PDE) Pidie, memohon dokumen terkait gempa dan tsunami di Pidie untuk dipajang di museum dalam bentuk galeri foto. Tapi tidak ada respons,” ungkap Apriadi.[]




