Oleh: Afridany Ramli*
Menjadi penulis di masa pandemi ini memang memiliki tantangan berat. Bukan hanya dari segi kondisi yang tidak memungkinkan, namun juga dari segi finansial. Apalagi bagi para jurnalis yang tugasnya meliput di lapangan, tentu membutuhkan biaya yang sangat besar.
Meski pemerintah telah menetapkan protokol kesehatan dengan tetap di rumahAja, bagi penulis kerja di luar rumah adalah tugas yang harus diembangkan untuk mencari nafkah dan memberikan informasi untuk publik. Selain beresiko tinggi, sebagai penulis, membutuhkan kinerja ekstra, dengan melewati berbagai proses serta rintangan. Namun, walau demikian harus tetap dikerjakan dengan penuh rasa syukur dan sabar.
Selama masa pandemi ini banyak sekali penerbit yang vakum, sehingga penulis harus mencari segenap alternatif untuk mendapatkan pemasukan, misalnya untuk komunitas bloger atau media online yang mengandalkan pemasukannya dari adsense. Menunggu masa reviews site dan hasil yang minimal akan membuat penulis jenuh dan kewalahan karena selama masa corona ini pihak adsense dari Ltd, Singapura juga mengalami gangguan. Sehingga penulis serba salah.
Di sini saya bukan bermaksud hati untuk menjelaskan keabsahan pendapatan seorang penulis. Akan tetapi, selain pedagang, pengrajin, pekerja usaha mikro dan lainnya, selalu mendapatkan tempat yang layak di depan pemerintah dengan memberikan bantuan, kenapa dengan penulis, apakah penulis bukan profesi yang harus mendapatkan perhatian?
Memang penulis adalah pekerja publik yang selalu mengawasi dan mengedepankan kepentingan rakyat yang tidak mengharapkan imbalan apapun, selain dari honornya ia dapatkan, bahkan penulis rela menjadi mitra pemerintah dalam menjalankan amanah. Selain mulia dan terhormat, menjadi penulis merupakan pemanggul tanggung jawab untuk jalannya roda pemerintahan.
Perlu diketahui selama masa pandemi dan pasca corona, sangat tidak beruntung untuk menutupi kebutuhan hidupnya, apalagi untuk isi kantong yang bisa untuk mengisi kebutuhan sampingan lainnya.
Selama masa pandemi banyak sekali bantuan yang mengucur untuk berbagai pihak dari pemerintah baik untuk pelaku UMKM, maupun untuk pekerja lainnya. Tapi, untuk kategori penulis, sungguh sangat disayangkan tak ada program bantuan khusus yang bisa membantu kinerja para pelaku literasi Indonesia, khususnya di Aceh.
Sehingga, baik di media sosial, maupun di media online, berita hoaks menyebar dan menjadi rancu bagi asumsi publik. Maraknya informasi bohong dapat membuat masyarakat bingung dalam menanggapinya bukan tak mungkin kalau diakibatkan oleh lemahnya daya penulis dalam memberikan informasi, inilah kenapa penulis mesti diberikan bantuan untuk membantu kinerja publik.
Kehadiran para penulis hoaks sangat meresahkan, karena merugikan publik sendiri. Salah satunya, adalah para bloger amatiran yang hanya mengejar Cost Per Kli (CPC) atau BPK dari pihak pengiklan untuk mendulang hasil yang maksimal. Sedang akurasi berita berbentuk kebohongan, dan semata-mata kerja plagiasi yang tidak sah secara hukum. Sedangkan penulis profesional, yang bekerja pontang-panting harus gigit jari.
Menurut hemat penulis, sudah seharusnya pemerintah turun aktif melakukan berbagai terobosan agar kinerja insan penulis lebih maksimal. Dengan demikian perkembanga informasi publik lebih akurat dan tepat guna.
Adapun di samping itu, memberikan sedikit bantuan untuk para penulis, merupakan suatu langkah konkret yang harus dilakukan oleh pemerintah di saat masa pandemi dan pacca corona seperti ini, baik secara tunai maupun program bebas tak langsung.
Dengan demikian penulis yang mendapatkan bantuan semakin berpeluang dalam bekerja, di suatu negara maju penulis selalu mendapatkan fasilitas yang memungkinan untuk kelancaran informasi. Pastinya, negara itu akan berubah dan berkembang, begitu pula di daerah. Tanpa penulis negara akan hancur dan merugi disebabkan kebohongan yang timpah tindih menjadi asumsi publik.
Negara akan lebih berkembang, apabila pemerintah dan penulis seiring bahu dan seayun langkah dalam memberikan informasi penting terhadap publik. Karena masyarakat semata-mata hanya mendapatkan informasi dari para jurnalis, apalagi masyarakat pedalaman.
Di negara maju dan berkembang, konten-konten yang menarik bahkan dibayar dengan harga yang mahal. Seperti yang dapat kita dapati di internet, penulis di luar negeri itu lebih terarah dan dapat melahirkan karya-karya bermutu. Kenapa penulis di Indonesia tidak?
Sebenarnya, penulis di Indonesia lebih berkualitas dengan penulis asing, hanya saja penulis di Indonesia, dan khususnya di Aceh keterbatasan waktu dan dana. Sehingga mereka harus membagi waktu untuk bekerja, dan meluaangkan sedikit waktu untuk mencari berita. Sedangkan untuk melakukan survei dan observasi terhadap suatu peristiwa, dan mendelik data yang mesti dan harus dituliskan akan menjadi hambatan, karena keterbatasan. Nah, maka dari itulah literasi kita tidak begitu berkembang.
Kehadiran konten-konten menarik yang diupdate di media akan menambahkan pendapatan bagi daerah, dan menambah pajak untuk negara. Informasi merupakan sumber kehidupan yang mesti digagas agar lebih mencerahkan dalam melihat dunia. Kalau pembawa berita, sakit bagaimana mungkin berita atau informasi yang berkembang dalam masyarakat bisa sehat.
Dalam hal ini kita harus saling memperhatikan. Maka oleh karena itu, saya mengajak semua unsur dan elemen pemerintahan untuk turut bekerja sama dengan penulis agar informasi yang beredar dalam masyarakat lebih berkembang. Karena selama masa pandemi, berbagai masalah harus dihadapi, salahsatunya adalah resesi ekonomi yang sedang melanda, suntik vaksin yang akan kita hadapi ke depan, semua itu diperlukan penulis dalam memberikan solusinya.
Terhadap masalah publik yang perlu segera dituntaskan, saya melihat penulis juga seperti vakum mengembangkan ide-idenya untuk berperan aktif dalam masyarakat yang seharusnya telah menjadi kewajiban dan tanggung jawab informasi umum.
Selama masa pandemi Indonesia turut mengalami resesi ekonomi yang mengancam ekonomi, masyarakat hanya bisa mengandalkan hidup dengan bantuan semata tanpa informasi yang solutif dan alternatif. Jauh sebelumnya, masyarakat yang lebih produktif disebabkan oleh mediasi yang berkecimpung, maka segala inspirasi lahir di ranah media, sekarang malah vakum.
Bagi para penulis tidak bisa berperan lebih untuk mengedepankan segala informasi yang beruntung dan membawa manfaat untuk masyarakat. Saya sendiri mengakui bahwa masa sulit seperti sekarang ini, pekerjaan menulis harus dikesampingkan.
Mungkin, memang saatnya resesi bukan hanya melanda para pengusaha besar, perusahaan-perusahaan multiplayers di Indonesia, akan tetapi juga berimbas pada penulis. Namun, saya dapat membenarkan dan berani membuktikan bahwa solusi yang terbaik bagi segala permasalahan bangsa dan negara ada di tangan penulis.
Sebagai contoh lain hutan, di saat hidup manusia sudah terpuruk dari segala aspek kehidupan di dunia ini, hutan bisa dijadikan ladang untuk meningkatkan kembali kehidupan yang sudah hancur, lantas bagaimanakah itu bisa terjadi? Seorang penulis akan menelisik lebih jauh apa yang dapat dihasilkan dari hutan. Manfaat dari hutan, cara mengolah hutan menjadi kehidupan, penulis lebih tahu dan akan menjadi pencerahan yang bermakna setelah ditulis.
Akihrnya kreativitas yang dibentuk secara literal oleh penulis akan terekspos untuk publik. Dan masyarakat akan terpola oleh tulisan-tulisan yang dibaca. Semoga nasib penulis di era pandemi dan pasca corona nanti, mendapat perhatian dari pihak berwajib. Karena nasib rakyat ada di tangan penulis.
Sigli, 13 Januari 2021.[]
*Anggota Komunitas Forum Aktif Menulis Indonesia, menetap di Kembang Tanjong, Pidie.







