Oleh Taufik Sentana*

Disebutkan dalam sebuah Hadis Mulia bahwa “agama merupakan nasihat”. Nasihat yang menguatkan ikatan tentang  kebenaran  Allah dan Rasul-Nya. Dengan nasihat, kehidupan seorang mukmin akan mendatangkan manfaat yang lebih banyak, karena nasihat akan menopang kesalihan yang membutuhkan kesabaran.

Walaupun mungkin tidak pada tempatnya atau bahkan kurang pantas, tapi nasihat yang ingin penulis sampaikan ini merupakan bagian dari penghormatan, kemuliaan dan dukungan kepada Ust. Abd. Somad yang telah mengisi ruang perekat dalam kehidupan umat Islam khususnya.

Pertama, Ingatlah Akhir Perjalanan Ini: Setiap zaman berisi tokoh dan kisahnya sendiri. Ini adalah dimana keberadaan anda dianggap sepesial dan melekat di hati ummat. Namun, bayangan akhirnya adalah bisa saja keramaian akan berganti kesunyian, riuh rendah pujaan akan memupus  dan itulah waktu yang menyisakan ruang untuk refleksi diri, agar benar-benar sendiri secara privat. Menikmati hari hari tanpa padatnya jadwal dan seremoni.

Kedua, Pandanglah kami dengan rendah hati: kami adalah bagian dari umat yang gelisah, yang hari hari kami semakin bising dan sibuk oleh silau dunia ataupun lelah menempuh tantangan hidup. Maka kerendahan hati anda dengan memandang kami akan membangkitkan semangat memperbaiki diri dan menemukan kekuatan diri kami. Teruslah melayani kami dengan segenap kapasitas, keikhlasan dan kelapangan hati.

Ketiga, Abaikan semua cercaan dan maafkan. Terkadang cercaan dan cemoohan difungsikan untuk memperkuat makna keberadaan diri. sehingga kita terus belajar dan berlatih sabar dan memaafkan. Sungguh, alangkah rendah yang mencerna, menghina dan mencemooh karaktermu dalam berdakwah.

Keempat. Nikmatilah waktumu yang sempit: Anda seakan telah menghibahkan diri anda untuk perbaikan ummat, maka waktu seakan sempit. Maka nikmatilah, sebagaimana anda menikmatinya sekarang ini, walau dengan tidur sesaat, jauh dari keluarga, sambil tak lupa berzikir dan salawat serta mengulang beberapa kitab sambil menulis lalu bermunajat di malam sunyi. semoga semua menjadi pintu pintu kebaikan dalam mizan keabadian.

Kelima, Berhati-hatilah: Inilah nasihat untuk siapa saja. terlebih bagi anda yang telah menjadi figur dalam model budaya kita. Maka berhati-hatilah atas bisikan diri sendiri, atas orang orang dekat yang bisa saja hanya mencuri wangi dan berhati hatilah akan lisan yang dengannya anda dapat menyampaikan semua kebaikan, tapi bisa pula terpeleset karena alpa.

*Peminat kajian sosial-dakwah dan budaya pop. Menetap di Meulaboh. Aceh Barat.