MEULABOH – Bagi Iksan (36), HUT RI ke 73 bukan semata perayaan bersifat seremonial. Pedagang musiman asal Jawa Barat, yang sejak 20 hari lalu menjual bendera dan umbul-umbul di Meulaboh, Aceh Barat ini, percaya, makna kemerdekaan tak sesederhana itu. 

"Saya simpel aja kang jawabnya. Merdeka itu, ya ketika kita mampu mandiri secara ekonomi. Tidak terikat dan diperbudak orang lain. Cinta dan mau membangun negeri, enggak korupsi. Enggak cuma naikin bendera tiap 17 Agustus. Ikut upacara karena disuruh pimpinan, ya, pencitraan. Bukan nasionalisme itu kang namanya!" ucap Iksan, kepada portalsatu.com/, Rabu, 15 Agustus 2018, siang, ditemui di tempatnya jualan, di Jalan Imam Bonjol, Meulaboh, Aceh Barat. 

Meski begitu, ia sendiri tidak mau disebut  seorang nasionalis. Menurutnya, seseorang dikatakan nasionalis jika ia mampu menerapkan semua yang disebutkannya tadi, tanpa iming-iming apapun. Tanpa pamrih. 

“Kalau saya mah, yang mampu saya lakukan ya ini kang, jual bendera sama umbul-umbul. Jauh dari tempat tinggal, tinggalin anak istri. Netap disini sebentar, ntar tanggal 16 Agustus besok mesti balik ke Garut. Yang penting mandirilah,” ujarnya. 

Iksan menyebutkan, sudah dua kali perayaan 17 Agustus ia menjual atribut 17-san itu di Meulaboh. Tahun lalu dan tahun ini. Ia berangkat dari Jawa Barat, bersama dua rekannya, yang seprofesi, dan saat ini juga berjualan di Meulaboh, namun di tempat berbeda. 

Bendera dan umbul-umbul yang mereka jual diambil dari salah seorang produsen di Medan, Sumatera Utara. Hasil penjualan, nantinya, akan dibagi dengan produsen tersebut. Ia dan rekannya berjualan di Meulaboh sejak 27 Juli lalu. Iksan mengaku seorang pekerja serabutan, ia hanya menjual bendera menjelang perayaan 17 Agustus saja. Selebihnya, ia menjadi pekerja lepas. 

“Sejak awal jualan, terkumpul Rp8 juta kang. Cuma nanti kita mesti ke produsen di Medan. Palingan kita dapat berapa-lah. Tapi, ya daripada enggak. Itu juga nanti terpotong dengan ongkos sewa kontrakan selama disini. Belum lagi ongkos pulang kang,” ucapnya. 

Bendera yang dijual Iksan, berkisar Rp25 hingga 45 ribu perlembarnya. Tergantung ukuran yang diinginkan pembeli. Sementara, umbul-umbul dihargainya Rp45 ribu perlembar. Ia berjualan sejak pukul 08.00 WIB, hingga pukul 17.00 WIB. Jika beruntung, dalam sehari barang dagangannya laku puluhan lembar. Uang yang terkumpul mencapai Rp800 ribu. 

“Namun seringnya sepi mas. Seperti hari ini. Tapi untung-untungan lah mas tetap ada yang beli. Maklum menjelang 17-san,” kata lelaki kelahiran Garut, 5 Mei 1982 itu.

Menjelang peringatan Proklamasi Indonesia 17 Agustus 1945, pedagang musiman yang menjual bendera dan umbul-umbul banyak bermunculan. Di Meulaboh, Aceh Barat, terpantau, pedagang musiman tersebut tersebar di beberapa titik, yakni di Jalan Imam Bonjol, Manek Roo, Gajah Mada serta Sisimangaraja.[]