LHOKSUKON – Anggota DPD-RI asal Aceh, H. Sudirman atau Haji Uma kembali mengunjungi lokasi pilot project percontohan pabrik produksi garam teknologi geomembran di Gampong Matang Tunong, Kecamatan Lapang, Aceh Utara, Selasa, 14 Agustus 2018 sore. Dana yang dikucurkan untuk proyek dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tersebut bersumber dari APBN sebesar Rp 2,35 miliar.

“Bantuan dari pusat itu sudah turun, mulai dari alat berat jenis ekskavator. Untuk pengerjaan proyek dibarengi dengan pemasangan geomembrannya sudah berjalan mulai berjalan minggu ini. Durasi kontrak tiga bulan dengan harapan di penghujung 2018 ini sudah selesai dan berproduksi,” ujar Haji Uma kepadaportalsatu.com di lokasi kemarin (Selasa) sore.

Haji Uma menyebutkan, tujuannya turun langsung ke lokasi untuk mengecek bantuan yang sudah dijanjikan oleh kementerian dan ternyata sudah sesuai. Haji Uma berharap alat yang telah diberikan agar dijaga sebaik-baiknya dan diperuntukkan sebagaimana mestinya, yaitu untuk kepentingan pengerjaan garam geomembran.

“Saya di sini betul-betulstringent kepada semua anggota dan ketua kelompok tani yang berkecimpung di sini. Saya ingatkan untuk menjaga dan merawat alat tersebut. Agar ini dapat menjadi satu bekal untuk kesinambungan upaya pengembangan garam geomembran ini, terutama kita titip kepada anggota dan ketua kelompok agar tidak menyalahgunakan amanah. Kita ingin ini menjadi contoh bagi daerah lain supaya ke depannya nanti, apabila kita berharap dan meminta lagi ke pusat minimal kita bukan rapor merah, tapi baik,” ucap Haji Uma.

Haji Uma turun mengawal langsung agar penggunaannya tepat sasaran. Jika ini salah digunakan dan mengakibatkan kerusakan alat-alat, kata Haji Uma, dirinya akan menjadi orang pertama yang melaporkan ke pihak kepolisian. Hal itu dilakukan agar perjuangannya tidak sia-sia, sehingga bisa dinikmati oleh masyarakat Lapang dan Aceh Utara.

“Saya kawal dan saya jaga untuk masyarakat, bukan untuk saya. Saya mungkin sedikit keras dalam hal ini agar keberhasilan tersebut bisa dinikmati masyarakat. Sejauh ini saya lihat sudah berjalan, meski ada kondisi hujan dan air pasang, itu faktor alam yang menjadi kendala. Namun seperti yang dikatakan pihak dinas, dalam tempo paling telat tiga bulan kita upayakan ini harusclear,” katanya.

Haji Uma memberikan satu perimbangan, baik dari koperasi atau dinas silahkan berpacu siapa yang lebih cepat. “Proyek yang kita ajukan ke pusat terkait garam geomembran ini ada dua, yaitu di Aceh Utara dan Pidie Jaya. Mari kita mengukur prestasi di sini, siapa yang cepat, siapa yang terbaik, usahakan itu. Saat ini kedua lokasi tersebut sama-sama baru memulai. Nanti kita lihat finishnya siapa yang duluan. Silahkan saling memotivasi baik kepada kelompok tani ataupun dinas supaya lebih maju ke depannya, agar ini menjadi satu penilaian prestasi dari kementerian nantinya. Semoga msyarakat sekitar juga bisa ikut bahu-membahu menjaga ini.”

Haji Uma berharap untuk ke depan, ketua koperasi dalam mengambil keputusan tetap berkoordinasi dengan ketua dan anggota kelompok, serta dinas terkait. Jangan sampai mengambil keputusan sendiri, sehingga melahirkan hal-hal yang melawan hukum. Upaya yang dilakukan hari ini adalah kebersamaan, di mana ada kekurangan dan ketimpangan mari sama-sama dilaksanakan dan diselesaikan bersama.

“Ini merupakan program swakelola dengan koperasi, luas areal 15 Ha. Kita lihat perkembangannya nanti, kemungkinan jika hasilnya baik bisa ditambah lagi tahun depan, termasuk akan ada pendirian gudang garam yang terintegrasi dengan nasional. Mengenai program yang sudah direncanakan akhir tahun 2017 dan baru berjalan saat ini, karena harus ada persiapan dokumen lengkap. Di sini juga untuk mensinergikan lahan-lahan masyarakat, membuat pemetaan dan menyatukan itu, intern juga berpengaruh,” ungkap Haji Uma.

Ditambahkan, “Anggaran awal kita rencanakan di Pidie Jaya Rp 6 M dan Aceh Utara Rp 3 M, namun yang turun dan tertera di DIPA Aceh Utara Rp 2,35 M. Itu secara umum, tapi untuk rincian secara teknis saya tidak tahu, mungkin dinas terkait lebih tahu. Di sini saya hanya mengawal programnya saja,” pungkas Haji Uma. 

Kunjungan tersebut ikut didampingi pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh Utara dan anggota kelompok tani setempat.[]