Paris – Intelijen Eropa mengingatkan adanya rencana serangan teror yang dijuluki 'Eropa 9/11' di benua tersebut pada tahun ini. Para anggota militan telah kembali dari Suriah dalam keadaan terlatih untuk melakukan serangan.
“Kita bergerak menuju Eropa 9/11: serangan serentak pada hari yang sama di beberapa negara, beberapa lokasi,” sebut seorang pejabat antiterorisme Prancis yang enggan disebut namanya kepada media Prancis dan dilansir news.com.au, Senin (11/1/2015).
“Itu serangan yang sangat terkoordinir. Kita tahu teroris tengah merencanakan ini,” imbuhnya.
Dituturkan pejabat ini, militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) secara khusus melatih unit Eropa di Suriah untuk mengirimkan mereka kembali ke Eropa untuk melakukan serangan di negara asal mereka.
“Mereka memiliki dokumen-dokumen palsu yang ditemukan, menguasai bahasa asing, lokasi dan juga persenjataan. Kami mencegat banyak dari mereka, tapi harus diakui bahwa kami kewalahan. Beberapa akan lolos — bahkan beberapa dari mereka telah lolos,” ucapnya.
Informasi intelijen soal rencana serangan teror besar-besaran ini, muncul berdekatan dengan momen peringatan setahun tragedi Charlie Hebdo di Paris, Prancis. Presiden Prancis Francois Hollande hadir dalam peringatan yang dihadiri ribuan orang di Place de la Republique.
Selain tragedi Charlie Hebdo, wilayah Prancis pada tahun 2015 lalu dilanda serangkaian aksi teror yang mengkhawatirkan dunia. Namun pejabat antiterorisme Prancis ini menyebut insiden sepanjang tahun 2015 bukan apa-apa, jika dibandingkan dengan apa yang diperkirakan akan terjadi di Prancis dan Inggris tahun ini.
Secara terpisah, mantan analis dinas intelijen Prancis, DGSE, Yves Trotignon menyatakan, ancaman nasional bagi negara-negara Eropa bukanlah hal baru. Tahun 2010 lalu, jaringan Al-Qaeda sempat merencanakan serangan serentak di Eropa, namun sel-sel teroris mereka berhasil digagalkan sebelum tiba dari Afghanistan dan Pakistan.
“Jenis serangan serentak semacam ini menjadi bagian skenario terburuk untuk tahun 2016. Saya tahu di beberapa ibukota negara-negara Eropa, khususnya London, dinas khusus tengah mempelajari teori ini,” sebut Trotignon.[] Sumber: detik.com

