BANDA ACEH – Sebuah bangunan tanpa dinding dengan tiang kayu berdiri kukuh dan beratap daun rumbia di sisi Jalan Syiah Kuala, kawasan Lamdingin, Kota Banda Aceh. Di dalam bangunan berukuran persegi panjang itu, berjejer bambu muda dengan posisi miring. Bambu-bambu berisikan ketan, santan, dan air itu disusun berdempetan dan saling berhadapan. Di bawahnya, api dari kayu bakar tampak menyala rata.
Seorang pria paruh baya tampak berjaga, sesekali ia mengecek kematangan tiap-tiap bambu tersebut. Jika sudah berwana agak kecoklatan, ia akan memindahkan ke tempat lain. Peluh terus membasahi wajahnya, hawa bara api tak menyulitkan tatapannya ke bambu tersebut.
Pria itu bernama Muhammad Yakob (42), ia sedang membakar Lemang. Makanan khas Aceh ini sangat diminati masyarakat. Apalagi di bulan Ramadan, panganan ini diburu untuk menu berbuka puasa.
Muhammad Yakob mengatakan, dalam bulan Ramadan, ia mampu memproduksi lemang sampai 65 batang bambu perhari, dengan menghabiskan beras atau ketan hingga 100 kilogram.
“Kalau bulan Ramadan bisa 60-65 bambu dibakar, menghabiskan 100 kg beras atau ketan. Bulan Ramadan insya Allah tiap hari ada,” kata M Yakob saat ditemui portalsatu.com/ di lokasi itu, Selasa, 12 Mei 2020.

Yakob menjelaskan, bahan baku utama untuk membuat lemang yakni, bambu muda, santan kelapa, ketan atau beras, gula dan garam. Kemudian semua bahan tersebut diisi ke dalam bambu yang sudah dilapisi daun pisang muda, lalu dibakar di bawah bara api secara merata.
Proses membakar lemang, ucap Yakob, membutuhkan waktu sekitar 4 jam untuk mendapatkan kematangan yang merata. Maka dari itu, proses membakar lemang tidak boleh ditinggal, tapi terus dijaga agar tidak ada yang hangus. Ada tiga jenis lemang yang dibuat Yakob secara bersamaan.
“Dibakar selama 4 jam. Biasanya mulai dibakar sekitar pukul 11.00 WIB, sorenya sudah bisa dijual untuk warga buka puasa. Di sini ada lemang putih, hitam dan lemang ubi,” ucap Yakob.
Jika di luar bulan puasa Ramadan, ia hanya memproduksi lemang 8 sampai 10 batang perhari, lantaran permintaan masyarakat tidak begitu signifikan. Kata Yakob, itupun karena ada musim durian.
“Tahun ini produksinya meningkat, dari puasa sebelumnya cuma 50 bambu yang dibakar. Karena peminat juga tinggi, jadi untuk tahun ini jumlah produksi pun meningkat,” ujarnya.
Di Aceh, berburu takjil sudah menjadi kebiasaan masyarakatnya. Lemang menjadi salah satu idola ketika berbuka puasa. Lemang yang telah matang, lalu dijual tidak jauh dari lokasi pembakaran, persis di bahu jalan kawasan Lamdingin. Di kiri kanannya juga terdapat penjual berbagai jenis takjil dan minuman segar.
Di sana, terlihat beberapa pedagang sedang melayani pembeli. Masyarakat yang lalu lalang kemudian berhenti rela antre demi mendapatkan lemang khas Aceh ini. Lemang buatan Muhammad Yakob tersebut dijual dengan harga yang bervariasi, tergantung ukuran bambu yang dibeli.
“Harga lemang perbatang Rp100 ribu, kalau yang kecil Rp40 ribu perbatang. Nah kalau sudah dipotong kecil-kecil harganya cuma Rp5 ribu sampai Rp10 ribu,” tuturnya.
Lokasi pembuatan lemang di kawasan Lamdingin ini sudah ada sejak 1994. Saban bulan puasa, tak pernah sepi dari pembeli. Di sepanjang Jalan Syiah Kuala ini selalu ramai penjual takjil musiman, meski di tengah pandemi Covid-19 pedagang tetap menjual aneka makanan untuk berbuka puasa.[]





