Obligasi Cinta Terharu

Karya: Jamaluddin Sulaiman
Peminat budaya

Kegelapan
Dalam fikiran sepi
Debu-debu menerjang wajah
Dengan pukulan-pukulan permintaan

Biduk kosong yang menepi dilepaskan tali melaju terhenti terjebak di kedustaan membatu
Menjadi berlumut dan lapuk bersejarah
Usang

Amarah membuat tersandung
Tersenyum dirajakan
berdusta disangka santun

Ratap pilu saat tak berdaya
Saat berkuasa hilang hati

Kolam kering pemilik dirajam
Musafir asing dahaga jadi mulia

Kepala mungkin ditegak
Kaki telapak paksa menekan

Ingin kembali tapi kemana

Sesabar daun-daun kering
Terhempas menjadi lunak
Pasrah
Tak salahkan angin

Obligasi cinta itu
Juga kan berlalu
Ditinggal sepi

Di atas pelupuk mata
Biduk kembali dikayuh
berjalan kembali asin

Koin muncul dari sebalik debu
Tembok-tembok menghadang
Artefak tersembunyi retak berlumpur

Ujung panah mengarah ke langit dipenggal
Lelaki pasukan dipanggil
sehidang daging kelinci

Riak di seberang
Menepi bunga-bunga
Di pantai ini belulang menepi

Angin badai menerjang
Si lantang
Putaran zamannya keruntuhan pasti

Yang hilang bersatu
Sesujud sufi-sufi
Rerumputan terbentang
Menjadi masjidi

Jemari ber-adang
Suluh menyinari
Mengenal wajah Tuan(ku)
Dalam gelap dikabari

Oh obligasi cinta haru

Loh Angen, Aleuhad, 23 Mei, 2021/puisi.[]