KUALA LUMPUR – Dewan Menteri Luar Negeri OKI (Organisasi Konferensi Islam) menggelar Sidang Luar Biasa di Kuala Lumpur Convention Center, Malaysia, Kamis, 19 Januari 2017.  Sidang tersebut  membahas issu penghormatan terhadap hak asasi manusia dan situasi kemanusiaan etnis muslim Rohingya di Myanmar.

Konferensi ini dibuka oleh Perdana Menteri Malaysia, Dato’ Seri Haji Mohammad Najib bin Tun Haji Abdul Razak. Dalam acara itu, Yayasan Geutanyoe sebagai komunitas internasional yang kerap memperjuangkan isu Rohingya di tingkat internasional turut diundang termasuk Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi.

“Perdana Menteri menyatakan bahwa terlalu banyak orang yang telah kehilangan nyawa mereka di Myanmar. Banyak yang menderita, dan mereka yang hidup di bawah kekejaman telah menyaksikan atau mengalami langsung kekerasan dan kekejaman,” kata Direktur Internasional Yayasan Geutanyoe, Lilianne Fin, mengutip pernyataan PM Malaysia dalam siaran pers yang diterima portalsatu.com, Sabtu, 21 Januari 2017.

Lilianne menyebutkan, merespon kondisi ini PM Malaysia berkata akan menampung sekitar 56.000 pengungsi Rohingya pria, wanita dan anak-anak yang telah berhasil melarikan diri dari negara bagian Rakhine ke Malaysia.

“PM Malaysia mengaku negaranya merupakan pendukung yang sangatlah besar bagi Myanmar di segala bidang kerjasama, termasuk yang mendorong agar Myanmar dapat bergabung dengan ASEAN. Namun, krisis kemanusian yang terjadi di Rakhine telah menyebabkan ketidakstabilan terhadap seluruh region,” sebut Lilianne Fin seperti disampaikan PM Malaysia.

Dalam kesempatan itu, Lilianne Fan juga menyampaikan konferensi ini merupakan sebuah demonstrasi  solidaritas yang kuat bagi minoritas Rohingya di negara bagian Rakhine, dan tercapainya komitmen yang kolektif dari salah satu organisasi terbesar antar pemerintah di dunia untuk mengakhiri kekerasan dan kekejaman terhadap rakyat Rohingya.

“Kami sangat senang melihat bahwa komitmen juga dilakukan untuk memberikan perlindungan yang lebih kuat, termasuk di Malaysia, Indonesia, dan Bangladesh. Mudah-mudahan konferensi ini akan menjadi langkah awal yang penting menuju pemulihan kewarganegaraan dan martabat semua etnis Rohingya dan untuk mengakhiri masa yang  penuh tragedi di negara bagian Rakhine,” kata Lilianne Fan.[]