PULAU Weh terlihat menghitam di bawah langit kelabu pekat di seberang Selat Banda Aceh. Ada beberapa kumpulan cahaya buatan dari lampu listrik, jingga dan putih, di sebelah kaki gunung menghadap laut. Jika anda pernah ke Sabang, tahu bahwa itu lampu jalan dan rumah-rumah di dekatnya, jalanan yang mengitari sebagian Pulau Weh.

Seorang nelayan keluar dari bawah Jembatan Alue Naga, Banda Aceh. Suara perahunya menguasai telinga. Sejenak, suara ombak memukul batu penahan ombak di pantai seberang sungai seakan menghilang. Begitu pula suara riak bergolak di batu dekat kakiku.

Perahu itu melaju ke Utara, ke arah Pulau Weh, walaupun semua orang tahu, perahu itu tidak akan ke pulau, tapi mengail ikan di laut yang mulai surut.

Perahu itu menghilang di kegelapan malam. Suaranya pun mulai sayup dan lenyap entah ke mana. Maka, terdengarlah lagi suara ombak memukul batu penahan ombak di pantai seberang sungai. Ditambah suara remaja membaca Alquran dengan suaranya yang tertahan-tahan. Tadarus Ramadan 1439 H, Ahad, 27 Mei 2018.

Suara riak menggolak di batu dekat kakiku pun terdengar lagi. Suara suara itu datang dan menghilang dan datang lagi menghilang lagi. Suara itu muncul dari gesekan air pada batu, tapi ke mana mereka menghilang. 

Batu-batu gunung ini disusun dengan alat berat, berbaris sepanjang pantai, untuk menahan ombak supaya tidak menghantam pemukiman. Jika, ombaknya kurang dari tiga meter.

Ratusan meter jalan dari ujungnya sampai beberapa ratus meter ke selatan jembatan, adalah tumpukan batu, bukan daratan asli. Ia terlihat seperti tumpukan batu yang berbaris memanjang mengikuti tepi sungai sebelah barat, supaya terlihat ada sungai kecil, yang agak ke selatan ada jembatan, Jembatan Alue Naga. Sungai kecil ini dipisahkan oleh jalan timbunan batu lalu diaspal, dengan sungai besar di sebelah timur, yang apabila ke selatan ada jembatan besar panjang, Jembatan Krueng Cut dan Jembatan Lamnyong. 

Tempatku berdiri ini adalah babah (mulut) kuala. Mungkin sebelum tsunami 26 Desember 2004, di sini ada daratan, sebagai jalan dan pijakan jembatan dari Alue Naga Barat ke bagian timur di seberang sungai besar, yang digali di masa Ibrahim Hasan sebagai Gubernur Aceh.

Suara ombak dan riak itu terus terdengar. Itulah suara alam, suara sejarah dan masa hadapan. Apa yang terjadi di Kuala dan pantai ini dua ratus tahun lalu, apa yang terjadi di sini dua ratus tahun ke depan. 

Di perairan yang dilalui nelayan tadi, dulu, ada ratusan kapal sultan berlayar. Ada ratusan kapal barang berlayar, dari Krueng Raya ke Penang, Melaka, Selat Persia, dan Eropa. Ke mana kapal-kapal itu menghilang. 

Perahu nelayan tadi lenyap ditelan warna kelabu kelam malam di laut. Tidak seorang pun yang tahu, kapan perahu itu akan kembali, membawa pulang ikan untuk kita dan keluarganya.

Di langit, awan gemawan bersisik menutupi bulan. Awan-awan itu bergerak pelan. Ketika mereka menjauh, kemanakah awan-awan itu menghilang.

Suara ombak dan riak masih terdengar. Datang dan hilang. Dua orang pemuda yang mengail ikan menggulung benang. Mereka berbicara bahasa Melayu, lalu menuju sepeda motor. Beberapa saat setelahnya, suara sepeda motor mereka sayup dan menghilang. Menuju kota. Ke mana suara-suara itu menghilang.[]