ACEH UTARA – Usaha kerajinan tangan ‘Rumoh Souvenir Babah Roet’ di Gampong Pinto Makmu, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, masih bertahan di tengah pandemi Covid-19, meskipun omzetnya merosot tajam.
Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) itu juga mendapat pembinaan dari pihak PT PLN untuk pengembangan produksi tas bordir motif Aceh.
Rumah suvenir ini milik Fitri Yanti (40), didirikan tahun 2015, memproduksi tas berbagai motif. Di antaranya, tas motif pinto Aceh, pucok reubong, dan kerawang Gayo, yang dijual Rp5 ribu hingga Rp250 ribu. Ada pula motif batik, motif kacang dan liris.
Selama pandemi Covid-19, permintaan tas menurun sehingga berpengaruh terhadap pendapatan. Namun, Fitri tetap mempertahankan usahanya dengan mengurangi jumlah produksi.
“Kendala yang kita hadapi selama pandemi ini, minat pembeli menurun drastis. Kemudian masalah pengiriman barang jika ada pemesan dari luar daerah, ongkos terlalu mahal, dan prosesnya lambat,” kata Fitri kepada portalsatu.com/, Ahad, 28 Februari 2021.

(Foto: portalsatu.com/Fazil)
Saat ini, Fitri memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan tas berbagai motif dengan harapan permintaan kembali meningkat. Jauh sebelumnya, dia memperkenalkan hasil kerajinan ini dengan cara mengikuti pameran-pameran. Dulunya, permintaan tas motif Aceh datang dari berbagai daerah, seperti Medan, Magelang, Yogyakarta, Bandung, dan Bali. Bahkan, pernah diekspor ke Amerika Serikat tahun 2017.
“Jauh sebelum pandemi Covid-19 cukup banyak permintaan, sehingga kita memproduksi tas ukuran kecil, sedang dan besar, berbagai motif. Apalagi ketika ada kegiatan seminar di instansi pemerintahan, pesanannya sampai ribuan tas. Sekarang acara seperti itu tidak ada lagi, permintaan maupun pendapatan menurun drastis,” ungkap Fitri.
Fitri menyebut omzet usahanya sebelum Covid-19 mencapai Rp40 juta per bulan. “Sekarang hanya Rp10 juta hingga Rp15 juta per bulan,” katanya.
Meski demikian, Fitri tidak memangkas jumlah pekerja, tapi hanya mengurangi produksi. “Jumlah pekerja untuk yang rakit (membuat) tas enam orang, bekerja di sini (tempat usaha). Sedangkan yang menjahit atau menangani bordir 30 orang, bekerja di rumahnya masing-masing. Pendapatan pekerja bukan per bulan, tapi dihitung dari jumlah tas yang diproduksi,” tutur dia.[]





