Karya: Taufik Sentana

Otak yang selalu bersiasat
agar kita takluk
dan bertekuk lutut.

Otak yang mencahayai janji janji
untuk kebaikan kita
dengan mengutip ayat ayat suci

Otak yang mengilhami perasan anggur
agar kita mabuk-mendengkur
dan saat tersadar semua jadi nanar:
yang di genggaman tinggallah tanah hitam yang kering.
Atau yang dipijak tinggallah
lubang kecemasan.

Otak Belanda itu memandang tanah kita
selalu perawan. Siapapun akan sanggup menghunus pedang dan bedil untuk menjarah apapun dari kita.
Atau dengan otak itu
kita disetubuhi lewat negosiasi tingkat tinggi, setidaknya demi investasi, hitungan laba-rugi kaum elite.

Otak Belanda itu mengemas kehancuran kita demi kepentingan pusat dan perjanjian Global, dengannya harapan kita tergantung dan cita cita kita terserak di jalanan berlumpur.[]

*Disadur dan diadaptasi dengan bebas dari puisi “Seperti Belanda”, Fikar W. Eda 1999. Seperti terkabar, Seperti Belanda menjadi Judul Buku Puisi mengenang 15 tahun perdamaian di Aceh, yang berisikan karya penyair nasional dan Aceh.