“Orang mengenal kita sebagai serambi Mekkah. Orang yang akan pergi haji dahulu dikarantina lebih dahulu di Aceh. Dan Aceh telah menjadi pusat studi Islam di Asia Tenggara pada ratusan abad yang lalu.” 

Demikian kata Fadhlan ketika menguraikan bahwa religi sebagai salah satu potensi di antara lima potensi wisata Aceh lainnya. Juga ke lima potensi tersebut dikemas dalam satu pelayanan kini sedang dijalankan di Aceh termasuk salah satunya adalah CV. Buanasmesta Group milik Fadhlan Amini. 

“Dalam potensi itu ada sesi mengunjungi dayah-dayah, yang akan menjadi daya tarik bagi wisatawan muslim Malaysia,” katanya pada Kamis 2 Agustus 2018.

Potensi kedua, katanya, adalah sejarah. Maka dengan sendirinya potensi itu akan melibatkan sejarah berbicara Turki di Aceh, tentang makam Turki, tentang Sultan Iskandar Tsani, mengenai Putri Pahang, dan lain-lain.

“Adalah satu kerinduan bagi orang-orang Malaysia, atau menjadi nostalgia untuk kembali lagi ke Aceh setelah kunjungan pertama,” kata Fadhlan. 

Ketiga, adalah potensi tsunami. Wisata yang bertujuan untuk menyadarkan umat, mereka akan menyaksikan PLTD apung, terkait dengan tsunami, orang Aceh berbeda dengan Jepang, mereka trauma setelah tsunami dan takut tinggal di pantai.

Bagi orang Aceh, tsunami menurut pengalaman Fadhlan adalah hanyalah musibah dan dengan itu, bisa menambahkan kesadaran dan iman bagi orang Aceh yang relegius berbeda dengan orang Jepang. Mereka (Jepang) ketika lahir beragama Shinto ketika muda Kristen ketika tua menjadi Budha, dan ketika akan meninggal kembali ke Shinto. Dan penilaian mereka tentang cara menanggapi tsunami pun berbeda.

“Wisata tsunami ini akan meningkatkan kesadaran keimanan bagi tamu dan menambah kesadaran,” katanya.

Keempat adalah potensi wisata kuliner. Dalam hal kopi, kata Fadhlan kopi Aceh adalah sudah terkenal dengan kualitas dunia . Dan itu didukung dengan alamnya yang cukup kaya dengan keasaman tanah hingga menghasilkan kopi terbaik di dunia. Dan daging ayam khas Aceh.

Kelima adalah potensi wisata eco turisme yang berbicara tentang kehijauan alam, Fadhlan memberikan contoh terkait potensi tersebut seperti Taman Nasional Leuser, Trumon Wildlife Coridor TWC Trumon, Conservation Respon Unit CRU yang ada di Sampoinit, di Gampong Naca, di Saree, dan juga System Birding di Blangkejren, di kawasan Bener Meriah, dan lain-lain.

Sedangkan untuk kawasan Sabang, katanya, akan diperkenalkan makam Peuet Ploh Peuet, kuburan aulia, makam Umi Sarah Rubiah, dan Tgk. di Iboih, akan dikemas menjadi wisata alam, sejarah, dan religi di Sabang.

Kunjungan masyarakat Malaysia ke Aceh biasanya selama empat hari tiga malam, karena itu hari cuti atau hari libur. Terkadang ada juga yang mengunjungi Aceh selama enam hari dan itu biasanya mereka dari kalangan kerajaan dan dibiayai oleh kerajaan.

“Peluang wisatawan Malaysia sangat besar, Aceh adalah daerah yang spesifik, dengan itu wisatawan yang berkunjung pun harus menunjukakan sifat spesifik,” katanya.

Untuk menunjang semua potensi itu berkembang, maka tour guide- guide Aceh telah menyiapkan tempat menginap di home stay seperti di Lhok Nga misalnya, atau hotel-hotel kecil, karena masyarakat Melayu tidak menyukai hal-yang canggih-canggih. Maka program wisata halal di Aceh menjadi nostalgia wisata religi dan dengan itu Aceh menjadi distenasi wisata peradaban melayu yang masih asli belum tersentuh dengan kehidupan modern.

“Di Aceh mereka masih bisa mendengar dalail khairat yang masih terdengar lantang dari cerobong-cerobong speaker balai sedangkan kini di Malaysia mulai ditinggalkan,” katanya.

Fadhlan akan mengajak tamu-taunya ke tempat-tempat pembuatan souvenir seperti Rincong di Lambaet, dan lain-lain. Secara ekonomi masyarakat kota Banda Aceh kini telah bangkit.

Sedangkan dengan wisatawan kulit putih persyaratan itu tidak terpenuhi, Fadhlan melihat itu terjadi karena budaya mereka berbeda, di Aceh turis kulit putih juga mereka tidak membeli dari masyarakat. Karena uang mereka terbatas  disebabkan telah mengunjungi banyak daerah lain. Seperti Bali, Toba, dan daerah lainnya. Sedangkan Malaysia khusus berkunjung ke Aceh.

Dalam pengalamannya menjadi tour guide, tahun ini Fadhlan juga pernah juga berkesempatan memandu 27 orang tim pencari kedamaian dari Afganistan setelah kunjungan mereka bertemu Jokowi di Jakarta, kemudian bertemu dengan Wagub Nova, Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud. Dan sebagai seorang sipil ia berkesempatan berbicara banyak hal selama tiga hari tentang Aceh kepada tamu Afganistannya.

“Saya buat satu riset kecil di sewaktu kuliah di Amerika, ingin melihat warga Amerika yang bagaimana yang datang ke Aceh, yang tidak mau membeli, sombong, merusak alam (terumbu karang). Pertama factor mentalitas, orang-orang kulit yang datang ke Asia Tenggara, berdasarkan hasil penelitian tersebut, mereka berasal kalangan pekerja keras, seperti pemetik buah, pengutip sampah, pengantar barang, tukang pos, dan bergaji sekitar 60 juta jika dikurs dengan Rupiah,” katanya.

Menceritakan perjalanannya, Fadhlan pada tahun 2010 bertemu dengan Ustaz Mujib, dan dengan ketua asosiasi HPI,  dengan itu kemudian ia terinspirasi dengan konsep Islamic Tourism Center of Malaysia ITC Malaysia.

Berbicara tentang dunia tour guide ternyata Fadhlan telah belajar menjadi pemandu sejak kelas tiga SMA tahun 1989. dan pernah bekerja di media cetak Aceh Serambi Indonesia selama dua tahun.

“Setelah melihat potensi wisata di Aceh yang sangat kaya, sesuai dengan turis Malaysia,” katanya.[]