BANDA ACEH – Aceh Lamuri Foundation (ALIF) memamerkan “peudeueng on jok” baru buatan Utoh Ishak Abdullah dari Aceh Utara, di Ruang Aceh History Expo, PKA ke-7 di Museum Aceh, 7-14 Agustus 2018. 

Ketua ALIF, Mawardi Usman, mengatakan, pihaknya memamerkan peudeueng on jok (“pedang daun enau”) di acara Aceh History Expo PKA ke-7 Lantai 2 Museum Aceh yang baru saja selesai dibuat oleh Utoh Ishak Abdullah dan anaknya Utoh Juliadi asal Gampong Blang, Tanah Pasir, Aceh Utara.

“Pameran ini sengaja menampilkan peudeueng on jok sebagai tanda bahwa khazanah lama Aceh masih ada. Apalagi utoh original Aceh tinggal satu-satunya yang membuat senjata Aceh secara manual,” kata Mawardi, Sabtu 11 Agustus 2018.

Menurut Mawardi, senjata yang dipamerkannya di stan ALIF itu adalah atas permintaan Cut Putri (Tuan Putri Mehran), seorang pejuang wanita tangguh yang concern ikut menyelamatkan situs sejarah Aceh yang terbengkalai.

“Cut Putri meminta dibuatkan peudeueng on jok tiga buah, yaitu pedang Sultan, Sultanah, dan Panglima. Teungku Utoh Ishak Abdullah menyanggupi pembuatan ketiga pedang ini. Permintaan pembuatan pedang on jok ini cukup lama, memakan waktu bulanan sehingga siap dengan sempurna disertai pemasangan tali dari kulit,” katanya.

Pembuatan senjata tersebut, kata Mawardi, juga mengikuti kearifan lokal dimulai hari baik dan setiap memulai pembuatan senjata dimulai dengan bismillah tak lupa juga dibacakan Al-Fatihah.

“Teungku Utoh juga berdoa agar pemilik pedang diberkahi oleh Allah, senjata pedang menjadi rahmat, pedang jika hilang kembali ke pemiliknya dan semoga pedang ini juga membawa berkah, dll. Pembuatan pedang ini cukup lama karena masih kental nuansa tradisional Aceh,” kata Mawardi.

 Ketua ALIF memuji pembuatan pedang ini. Bahkan banyak tamu dari dalam dan luar negeri berfoto dengan pedang on jok ini dan mengaku pedang ini luar biasa. Peudeueng on jok dibuat dari beuso meulila (waja).

“Teknik senjata Aceh dari dulu sangat terkenal banyak pedang Aceh diekspor keluar Kesultanan Aceh pada era kejayaannya karena pedang Aceh dulu terkenal menggunakan besi Damaskus yang diajarkan oleh pandai besi Turki pada masa Sultan Alaidin Riayat Syah Al-Kahhar (1539-1572) ketika Aceh melawan Portugis di Malaka,” kata Mawardi.

Para pembuat senjata mewariskan ilmunya ke anak cucunya dan di Aceh hanya Utoh Ishak Abdullah satu-satunya yang masih tercatat sebagai utoh original yang bisa membuat senjata seperti era zaman lampau. 

“Karena itu kita meminta semua pihak peduli dan terus menjaga khazanah Aceh agar tidak hilang dan membangkitkan kebesaran sejarah Aceh. Jika ada yang berkata kita harus berpikir modern maka jawablah siapa lebih modern Aceh dengan Jepang. Namun Jepang tidak pernah menghilangkan pedang samurainya yang malah menjadi suvenir bagi turis,” ujar Mawardi.

Mawardi mempertanyakan kenapa Aceh tidak menjadikan rincong dan peudeueng on jok sebagai suvenir (cenderamata) yang berkelas dan berseni tinggi bagi turis yang berkunjung ke Aceh Darussalam.

“Kami berharap ke depan agar ada perhelatan pertandingan pembuatan pedang-pedang tradisional Aceh kembali agar kita dapat menyambung kembali koneksi antara masa lalu di dalam kekinian,” harap Ketua ALIF.[]