Sabtu, Juni 22, 2024

Jelang Pilkada Subulussalam, Fajri...

SUBULUSSALAM - Komunikasi elit partai politik jelang Pilkada Subulussalam mulai terlihat intens. Terbaru,...

Jemaah Haji Aceh Dipulangkan...

BANDA ACEH – Jemaah Haji Debarkasi Aceh (BTJ) akan dipulangkan dari Arab Saudi...

Kapolsek Baru Bongkar Sabu...

LHOKSEUMAWE - Kapolsek Dewantara Ipda Fadhulillah bersama anggotanya berhasil menangkap pemuda berinisial MM...

Pilkada Subulussalam: Resmi Daftar...

SUBULUSSALAM - Bakal Calon Wali Kota Subulussalam, Fajri Munthe menyerahkan berkas pendaftaran sebagai...
BerandaNewsPanduan Keselamatan bagi...

Panduan Keselamatan bagi Generasi Media Sosial

Generasi Z unik karena mereka telah bergelut dengan internet sejak lahir. Fenomena ini berpotensi mengantarkan mereka pada perundungan, depresi, tapi juga koneksi, empati, dan harapan.

Anda sebenarnya tak perlu mengkhawatirkan orang-orang yang mengenal dunia digital sejak lahir–kini mereka yang berusia di bawah 20 tahun dapat dikategorikan sebagai kelompok manusia yang tumbuh dewasa bersama media sosial.

Mereka menjalani kehidupan mereka bersama Facebook. Pertanyaannya, bagaimana mereka mengantisipasi tantangan spesifik di dunia maya?

Saya menghabiskan satu bulan terakhir untuk #LikeMinded, serial khusus tentang media sosial dan dampaknya terhadap kesehatan jiwa.

Proyek itu mendorong saya mempertanyakan apakah saya yang kini berumur 23 tahun cukup kuat menghadapi serangan gencar foto dan pesan singkat yang saya terima sejak remaja.

Sebagian anak-anak menghadapi hal-hal tersebut di usia yang terlalu dini. Diperkirakan setidaknya 7,5 juta pengguna media sosial di Amerika Serikat berumur di bawah 13 tahun, meski itu adalah usia legal untuk memiliki akun pribadi.

Bagi kelompok ini, media sosial telah membentuk hampir seluruh sendi kehidupan mereka. Itulah alasan mereka merupakan orang-orang yang paling memperhatikan dampak teknologi tersebut pada kehidupan mereka.

Para remaja cepat menyuarakan rasa ingin tahu terhadap platform media sosial. Kecenderungan itu terlihat pada jajak pendapat tahun 2017 di mana hampir 1500 remaja menyebut Instagram merupakan media sosial terburuk untuk mental mereka.

Jadi, siapa yang dapat menjamin kehidupan di dunia maya itu sehat dan membahagiakan?

Dukungan sekolah dan pemerintah

Orang-orang muda sepertinya memiliki hubungan erat dengan teman-teman mereka, terlihat dengan ribuan teman atau pengikut di Facebook dan Twitter.

Namun media sosial tidak muncul tanpa sisi negatif.

Katy Mckenzie, blogger berumur 19 tahun asal Derby, Inggris, rutin menulis tentang kecantikan, gaya hidup, dan kesehatan jiwa. Baginya media sosial adalah pintu menyebarkan pemikirannya ke seluruh penjuru dunia.

Seperti kebayakan remaja, Mckenzie tak mendapatkan pelajaran di bangku sekolah tentang cara bermedia sosial. Ia hanya memperoleh dasar-dasar berselancar di internet secara aman–perihal yang telah ia mengerti sebelumnya.

“Saya pikir perusahaan media sosial harus mafhum saat penggunanya meminta bantuan,” ujar Mckenzie.

Ketika Anda mendalami fenomena ini, muncul dua isu vital, yaitu tentang perusahaan media sosial yang tak berbuat lebih menanggulangi ekses penggunaan produk mereka dan sekolah yang tak mempedulikan perkembangan digital.

Kondisi itu tidak mengantisipasi kelompok anak muda yang begitu terikat dengan media sosial sejak usia dini.

Melalui gerakan #StatusofMind, Perkumpulan untuk Kesehatan Masyarakat Inggris menyoroti mental anak muda dan menemukan fakta soal media sosial yang rentan menimbulkan kegelisahan, depresi, dan pengurangan jam tidur.

Pusat layanan kesehatan Skotlandia membuat petunjuk online agar petugas medis semakin memahami resiko yang dihadapi remaja.

Data yang mereka sajikan cukup beragam, yaitu rincian tentang pola pikir anak muda yang terdisorientasi, kebiasaan bertukar teks atau gambar seksual, mengumbar perihal seksual sebagai balas dendam, informasi personal, judi, hingga konten tak senonoh lainnya.

Hal-hal yang baru saja disebut tadi secara spesifik muncul akibat media sosial.

Adapun, perusahaan media sosial secara perlahan menyadari tekanan negatif yang menjangkiti mental serta kasus penggunaan akun oleh anak di bawah umur.

Undang-undang perlindungan privasi anak di internet merupakan aturan di tingkat negara federal yang mengharuskan pengguna media sosial setidaknya harus berusia 13 tahun.

Jika kita tahu bahwa terdapat jutaan pengguna media sosial yang belum mencapai umur itu, perhatian tentang kesehatan jiwa kita seharusnya juga diarahkan kepada para remaja itu.

Aplikasi penolong

Menarik, bahwa aplikasi online saat ini berupaya melibatkan remaja dengan mendekatkan mereka ke inti persoalan ini: ponsel pintar mereka. Namun cara itu malah terlihat rumit.

Contohnya adalah aplikasi TalkLife yang memiliki motto 'bagilah pasang surut kehidupan anda'. Mereka menyebut diri sebagai jejaring dukungan untuk kesehatan mental pemuda.

Anda dapat mengunggah apapun tanpa nama atau menggunakan nama pengguna.

Pada sebuah poster tertulis, “Saya tak ingin hidup. Saya bahkan tak merasa layak mengunggah ini. Saya tak pantas. Saya seharusnya mengatasi ini sendiri. Apa yang saya lakukan? Saya tersesat.”

Dua orang lantas membalas, “anda dapat melalui kondisi itu, Sayang” dan “Jika anda percaya pada perkataan anda sendiri, anda tak akan mengucapkan hal itu. Pikirkanlah. Anda akan menemukan alasan betapa anda ingin hidup.”

Unggahan berisi hal-hal yang mudah menyinggung perasaan orang lain, seperti potret kekerasan diwarnai merah dan muncul dengan peringatan, “Unggahan ini mungkin berdampak pada anda.”

Sebagai platform, TalkLife begitu menarik bagi orang-orang yang gemar berbagi di media sosial, terutama mereka yang menginginkan perhatian dan anonimitas, dua hal yang mustahil didapatkan dalam media sosial arus utama.

Bagaimanapun, tak ada bantuan psikiatrik atau saran kesehatan di dalam aplikasi itu. Sejumlah persoalan yang sangat kentara dapat muncul dari kondisi itu.

Aplikasi di Arab Saudi yang viral, Sarahah, memungkinkan penggunanya berkomunikasi tanpa nama. Akibat layanan itu, Sarahah dicoret oleh Google dan Apple atas dugaan memfasilitasi perundungan.

Jadi, sebagai solusi, persoalan apa yang sebenarnya dituntaskan aplikasi itu?

Yang disediakan Sarahah dan TalkLife sesungguhnya merupakan selera Generasi Z: berhubungan dengan kolega secara online untuk berbagi tips, kecemasan, dan kisah lainnya.

Peluang tersebut semestinya dimanfaatkan dengan pengawasan yang lebih ketat.

Penggunaan media sosial untuk kebaikan

Suatu website yang dipuji oleh psikolog ternama adalah Big White Wall. Aplikasi ini tersedia di Kanada, Selandia Baru, dan Inggris.

Terinspirasi oleh periode awal perkembangan jejaring sosial, aplikasi ini merupakan komunitas yang saling mendukung. Mereka telah bekerja sama dengan institusi kesehatan nasional untuk menyediakan prosedur dan metode terkini.

Aplikasi ini juga tergolong platform yang serba guna. Anda tetap tak bernama dan dapat mendesain ekspresi pemikiran anda secara artistik di Bricks.

Terdapat penjelasan yang memandu anda mempelajari cara mengelola depresi hingga niat berhenti merokok. Aplikasi itu juga memberikan saran personal agar anda merasa lebih nyaman menghadapi persoalan, berbasis hal-hal yang anda senangi.

Big White Wall memberi saya testimoni pada suatu contoh kasus, “Saya pikir tak masuk akal berdiskusi dengan orang tua. Saya sedikit khawatir membuka persoalan ini kepada teman-teman saya.

“Dapat berbincang secara online dengan orang lain sungguh berguna. Jika tidak ada aplikasi ini, saya mungkin sudah menutup diri.”

Direktur komersial James de Bathe mengatakan, “daripada melihat jumlah solusi online yang tersedia untuk anak muda, kami lebih fokus pada kualitas dan keamanan aplikasi ini.”

“Setiap orang dan organisasi dapat menciptakan jasa online, namun tanggung jawab terhadap kesehatan mental seseorang bisa berupa hidup dan mati.”

“Kami yakin, pandangan klinis, evaluasi presisi, dan asuransi berkualitas akan membentuk fondasi jasa pendampingan online,” kata de Bathe.

Barangkali, solusi nyata terhadap beragam kesulitan yang dihadapi generasi Z seharusnya berbentuk seperti Big White Wall–jawaban yang berada di luar ketertarikan perusahaan media sosial arus utama dan mempersilakan anak muda di bawah 20 tahun saling berjejaring dengan cara yang mereka kuasai di sejumlah platform online.

Seberapa realistis perusahaan seperti Facebook dan Twitter membuat aplikasi mereka tidak adiktif demi kesehatan mental anak muda?

Guru besar pemasaran, Adam Alter, dari Universitas New York, menyebut insentif tidak memicu mereka mempertimbangkan kepentingan konsumen.

“Jika anda berkompetisi memperebutkan perhatian, terdapat perlombaan dan perusahaan tidak akan memunculkan isyarat menyerah jika kompetitor mereka melakukan hal yang sama.”

“Jika mereka tak bisa melekatkan anda dengan produk mereka, perusahaan itu tidak mungkin menarik pengiklan dan penghasilan,” kata dia.

Penyesuaian terhadap platform media sosial terkini

Insentif tidak menghentikan biro iklan yang berkedudukan di London, Studio Output, melancarkan kritik.

Tim mereka merancang sejumlah perubahan sederhana yang sebenarnya dapat dibuat oleh platform seperti Instagram jika meraih insentif mengurangi dampat mental para penggunanya.

Salah satu fitur yang diciptakan Studio Output adalah algoritma afeksi yang memasok berita positif jika sistem menganggap unggahan anda memuat kata-kata galau.

Konsep lainnya adalah notifikasi cerdas yang memungkinkan perangkat lunak memberikan respon tertentu berdasarkan titik koordinat jika anda membutuhkan waktu istirahat.

Alat pelacak aktivitas seperti pengukur langkah dan parameter fisik lain, sebetulnya menghitung kebiasaan anda dalam media sosial dan mendorong anda menetapkan target tertentu.

Perangkat itu juga memetakan profil berdasarkan warna tertentu, tergantung seberapa realistis figur dalam akun tersebut– profil yang rutin mengunggah hal-hal fana.

Foto yang diubah dengan Photoshop atau yang diberi berbagai efek visual juga akan dilabeli bendera merah.

Ketika saya bertanya pada Direktur Strategi Studio Output, David McDougall, kalau-kalau situs jejaring sosial akan mengimplementasikan gagasannya, dia berkata, “Jawabanya saya tentu saja ya.”

“Perubahan semacam ini memantik kepekaan bisnis untuk menjaga para penggunanya dan artinya menciptakan masyarakat yang bahagia, sehat, dan berkelanjutan.”

Entah media sosial raksasa seperti Facebook atau ruang sosial anyar seperti Big White Wall yang akhirnya akan menganjurkan perubahan untuk orang muda, sebagian orang menganggap transformasi datang terlalu lambat.

Namun, dengan nafsu berjejaring lintas benua dan membagi ide tentang lanskap media sosial yang lebih sehat, Generasi Z barangkali merupakan kelompok yang perbuatannya paling selaras dengan perasaan mereka.

Para orang tua yang khawatir anak-anak mereka menghabiskan waktu menatap monitor mungkin akan lebih mengendorkan otot karena yakin, orang-orang muda itu akan mendapatkan pendampingan yang mereka butuhkan.[] Sumber:bbc.com/Sophia Smith Galer

Baca juga: