LHOKSUKON – Harga kakao anjlok dalam dua bulan terakhir selama memasuki musim hujan, seperti halnya yang terjadi di Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara. Meski saat ini petani kakao sedang panen raya, kualitas kakao menurun karena basah.
“Saat ini di Paya Bakong sedang panen raya, tapi harga jual kakao malah menurun. Kondisi ini kerap terjadi di musim hujan. Saat ini kakao kering dibeli pengepul (agen) dengan harga Rp 30 ribu, itu pun harus benar-benar kering. Untuk kakao basah tergantung tingkat basahnya seperti apa, biasanya berkisar antara Rp 14 ribu hingga Rp 17 ribu,” kata Alatif, 34 tahun, petani kakao asal Gampông Blang Dalam saat ditemui portalsatu.com, Minggu, 6 November 2016.
Ia menyebutkan, pada bulan Juli dan Agustus lalu harga kakao kering mencapai Rp 37 ribu, karena cuaca cerah yang membuat kakao kering dengan baik saat dijemur.
Sementara itu, Jailani, 33 tahun, pengepul asal Gampông Teungku Dibanda Pirak mengatakan, “Sekali jalan saya membutuhkan modal Rp 5 juta untuk 300 kilogram kakao yang akan saya beli dari petani. Harga kakao kering yang saya beli saat ini Rp 29 ribu, sedangkan sebelumnya mencapai Rp 38 ribu. Selain kakao, saya juga membeli pinang.”
Hal senada diungkap Tgk Mukhtaruddin, pengepul asal Gampông Meunasah Punti, Kecamatan Matangkuli. “Harga kakao saat ini memang menurun. Untuk kakao basah, saya membeli dengan kisaran harga Rp 12 ribu hingga Rp 14 ribu, tergantung tingkat basahnya seperti apa. Kakao kering berkisar antara Rp 29 ribu dan Rp 30 ribu,” katanya.
Pantauan portalsatu.com, petani kakao di pedalaman Aceh Utara itu menggelar terpal di pinggiran jalan lintas desa untuk menjemur kakao. Aroma kakao tercium hampir di sepanjang jalan desa di kecamatan tersebut.
Sempat terlihat juga transaksi jual beli kakao antara petani dan pengepul. Mulai dari proses tawar-menawar, kakao ditimbang, hingga uang hasil penjualan yang diserahkan pengepul ke petani.
“Get that na teuh, yum meuka dipeugah manteung. Bunoe sikilo dilake Rp 11 ribe, pane tatem. Akhe but rhet yum Rp 12.500 sikilo, asai glah ke bloe ungkot,” ucap salah seorang perempuan paruh baya usai menjual kakaonya.[]



