ACEH UTARA — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menuntaskan rehabilitasi Bendung Daerah Irigasi (DI) Krueng Pase di Aceh Utara, sehingga sistem irigasi yang sebelumnya jebol akibat diterjang banjir pada pengujung tahun 2020 dan diperparah banjir bandang akhir November 2025, kini kembali berfungsi untuk mendukung pemulihan sektor pertanian.
Menteri PU, Dody Hanggodo, meninjau langsung hasil rehabilitasi tersebut sekaligus memastikan air irigasi kembali mengalir ke lahan pertanian. Secara simbolis, Dody menekan tombol pembuka pintu air Bendung Krueng Pase sebagai tanda berfungsinya kembali sistem irigasi yang berada di antara Kecamatan Meurah Mulia dan Nibong, Aceh Utara, Selasa, 5 Mei 2026.
Turut hadir Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I, Asyari, Wakil Bupati Aceh Utara, Tarmizi Panyang, Kepala Dinas PUPR Aceh Utara, Jaffar, unsur Forkopimda dan Muskida setempat.
Dody mengatakan percepatan penyelesaian rehabilitasi ini bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk segera memulihkan kondisi masyarakat, khususnya petani agar dapat kembali berproduksi.
“Perbaikan ini kita dorong cepat agar air bisa kembali mengalir ke sawah-sawah. Harapannya petani di sembilan kecamatan di Aceh Utara bisa kembali menanam dan panen minimal dua kali dalam setahun,” kata Menteri Dody.
Menurut Dody, rehabilitasi ini menjadi krusial karena Bendung Krueng Pase sebelumnya tidak berfungsi selama sekitar 4,5 tahun. Upaya perbaikan yang dimulai pada tahun anggaran 2025 sempat terdampak banjir bandang pada November 2025, sehingga percepatan penyelesaian menjadi prioritas untuk memulihkan layanan irigasi bagi petani.
Dengan selesainya rehabilitasi, kata Dody, sistem irigasi DI Krueng Pase kini kembali berfungsi dalam mendukung pemulihan pertanian di wilayah terdampak serta meningkatkan ketersediaan air irigasi dari hulu hingga hilir. Kehadiran DI itu diharapkan mampu mengatasi kendala kekeringan saat musim kemarau serta mempercepat normalisasi lahan yang sebelumnya tertutup sedimen pascabanjir.
DI Krueng Pase melayani area pertanian seluas 8.922 hektare di 9 kecamatan meliputi Meurah Mulia, Samudera, Syamtalira Bayu, Nibong, Tanah Luas, Matang Kuli, Syamtalira Aron, Tanah Pasir (Aceh Utara) dan Kecamatan Blang Mangat (Lhokseumawe).
Adapun jaringan irigasi yang direhabilitasi mencakup saluran induk sepanjang 32,82 km, saluran sekunder 112,36 km, serta jaringan tersier dan pendukung lainnya.
Rehabilitasi ini mengembalikan layanan irigasi pada area kanan seluas 5.614 hektare dan area kiri seluas 3.308 hektare. Peningkatan kinerja irigasi juga mendorong kenaikan Indeks Pertanaman (IP) dari sekitar 65 persen menjadi hingga 250 persen, yang berdampak langsung pada peningkatan produksi beras dan pendapatan petani.
Dody menambahkan, selain mendukung pemulihan lahan pascabencana, keberfungsian kembali DI Krueng Pase juga diharapkan dapat membantu menjaga ketersediaan air saat musim kemarau serta meningkatkan produktivitas pertanian secara bertahap.
Pada kesempatan tersebut, Menteri Dody juga berdialog dengan para petani. Salah satu petani Warga Gampong Paya Kambuk, Kecamatan Meurah Mulia, Mochtar Ahmad, menyampaikan apresiasi atas selesainya rehabilitasi irigasi yang telah lama dinantikan.
“Kami sangat bersyukur bendung ini sudah kembali berfungsi. Setelah banjir kemarin (November), kami sempat kesulitan air. Sekarang sudah mulai normal kembali dan kami bisa kembali bertani,” ujar Mochtar.
Sebagai bagian dari pemulihan pascabencana, Kementerian PU juga mendorong langkah lanjutan seperti pembersihan sedimen di lahan pertanian serta pengembangan demplot seluas 2 hektare guna mendukung peningkatan produktivitas.
“Kami berharap berfungsinya kembali DI Krueng Pase ini, pemulihan sektor pertanian di Aceh Utara dapat berlangsung lebih cepat serta memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan petani,” ucap Dody.[]






