ISTANBUL – Ada dua simposium mengenai isu-isu Palestina, dan al-Quds di akhir pekan ini di Istanbul.

Simposium pertama adalah “Deklarasi Balfour: 100 Tahun dan Tanggung Jawab Historis”. Sejarawan Adel Manna dari Palestina, dan Ilan Papee (sejarawan Israel) menghadiri simposium yang diselenggarakan oleh gerakan Palestinian “BDS” (Boycott, Divestment, Sanctions) tersebut. Acara ini dilaksanakan pada Sabtu, 9 Desember 2017

Simposium kedua diselenggarakan di Yayasan Studi Beytulmakdis. Judul simposium ini adalah “Kolonisasi Barat di Yerusalem Islam” (Western Colonization in Islamic Jerusalem). Acara ini dilaksanakan pada Sabtu, Ahad-Senin 10-11 Desember 2017.

Seorang peserta, Dr Mehmet Ozay, yang merupakan pakar tentang Asia Tenggara mengatakan, para ahli akademik dari Turki, Malaysia, Qatar, Indonesia, Aljazair, Kuwait, Palestina dan Mesir, membicarakan sekitar Baitulmakdis dari aspek historis, geo-politik, dan religiusnya.

“Dari fakultas ilmu Islam Assoc. Dr. Mohd. Roslan dari Universitas Melayu, Kuala Lumpur mempresentasikan deklarasi keinginan Zionis di Konferensi Paris pada tahun 1919, setelah perang dunia I Dr. Tiar Anwar Bachtiar dari Padjadjaran Universitas, Bandung, membicarakan tentang reaksi media Islam di Indonesia terhadap pendudukan Zionis antara tahun 1917-1948,” kata Mehmet.

Mehmet Ozay menyebutkan, Dr. Esaa Kaddoumi dari Instutisi Waqaf Kuwait, mempresentasikan reaksi pendudukan Zionis dalam publikasi Arab disajikan dalam contoh Majalah Fatah yang terbit di Mesir (1926-1948).

“Prof. Dr. Abd al-Fattah al-Awasi, direktur Pusat Studi di Beytulmakdis, Istanbul, menunjukkan bahwa ada kekurangan informasi di dasar masalahnya dan pusat kerja Baitulmakdis buka di mana-mana. Disebutkan bahwa gerakan Zionis, yang dimulai pada tahun 1840an, mencapai tujuannya setelah satu abad,” kata Mehmet Ozay.[]