BANDA ACEH Partai Atjeh Hijau (PAH) menggelar kongres perdana yang disebut Duek Pakat Raya, di Hotel Lading, Banda Aceh, 20-22 Mei 2017.
Sebagai partai politik lokal baru, PAH lahir karena anugerah dan rahmat Allah swt., melalui Memorandum of Understanding antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (MoU Helsinki, 2005). PAH didirikan dan dideklarasi pada 5 Juni 2013 di Banda Aceh yang berhaluan hijau yang berarti lingkungan,” kata pendiri PAH Zahrul, S.H., kepada portalsatu.com, 19 Mei 2017.
Zahrul menyebutkan, PAH didirikan sebagai alat perjuangan politik dalam partisipasi terhadap perwujudan pembangunan Aceh berlandaskan prisip berkelanjutan guna tercapai kesejahteraan berkeadilan bagi seluruh rakyat Aceh.
PAH untuk pertama kali akan melaksanakan musyawarah raya dengan mengusung tema Tameusahoe, Tapeusaboh Droe, Tapeupah Nanggroe Meudeilat Bansa, kata Zahrul yang juga panitia Kongres-I PAH.
Zahrul menjelaskan, Duek Pakat Raya (Kongres-I) atau DPR (K-I) PAH akan diisi dengan empat agenda utama. Yaitu, perumusan dan penetapan konstitusi partai, menyusun dan menetapkan platform dan kebijakan strategis Politik Atjeh Hijau, memilih Presiden PAH 2017-2020 dan menetapkan roadmap atau peta jalan PAH untuk partisipasi pada Pileg 2019.
“Guna menuju kelengkapan administratif, konstitusional dan landasan ideologis serta platform strategis Politik Atjeh Hijau melalui sebuah proses demokratis dan jaminan keterwakilan kebutuhan seluruh daerah di Aceh secara berimbang dan berkeadilan,” ujarnya.
Ia menambahkan, Kongres PAH akan dihadiri Konselor Asia Pacific Greens Federation (APGF) Rikiya Adachi yang juga Sekretaris International Partai Hijau Jepang. PAH salah satu anggota dari APGF.[]
Laporan Taufan Mustafa

