LHOKSEUMAWE – Pasar Induk di Jalan Lingkar Gampong Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, dibangun sejak tahun anggaran 2015 sampai 2018. Namun, Pemko Lhokseumawe baru akan meresmikan pasar yang disebut terpadu itu melalui kegiatan bertajuk 'Lhokseumawe city expo', 9 – 15 November 2019.
Kepala Disperindagkop-UKM Lhokseumawe, Ramli, ditemui portalsatu.com/ di ruangan kerjanya, Selasa, 29 Oktober 2019, mengatakan untuk peresmian Pasar Induk itu pihaknya terus melakukan koordinasi dengan pihak terkait. Berdasarkan rencana sebelumnya, kata dia, pihaknya mengundang Direktur Sarana dan Logistik Kementerian Perdagangan, Sihar Hadjopan Pohan, untuk meresmikan pasar tersebut.
“Intinya adalah bukan masalah peresmiannya saja, setelah peresmian apa yang bisa kita lakukan. Maka untuk tahap awal kita sudah membangun komunikasi dengan pihak-pihak pengusaha supaya bisa berjalan, minimal nanti setelah peresmian itu gudang-gudang atau bangunan Pasar Induk itu ada yang menggunakannya,” kata Ramli.
Artinya, menurut Ramli, diharapkan ada aktivitas secara perlahan di Pasar Induk itu setelah diresmikan. “Ada sarana berupa gudang tiga unit 16 x 32 meter. Jika ada pengusaha yang butuh gudang kapasitas besar maka itu bisa digunakan untuk menyimpan komoditas,” ujarnya.
“Jadi, setelah dilakukan peresmian, kita akan melakukan MoU atau nota kesepahaman dengan mereka (pengusaha). Bagaimana mekanismenya ini juga sedang kita diskusikan sehingga tidak menjadi masalah hukum ke depan, karena itu akan menjadi retribusi atau pendapatan bagi daerah, maka regulasi-regulasinya yang perlu kita jaga,” tutur Ramli.
Ditanya terkait kondisi bangunan “Pasar Rakyat Ujong Blang” dan “Pasar Rakyat Terpadu” dalam Kompleks Pasar Induk itu yang sebagian dindingnya sudah retak, Ramli mengatakan, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Inspektorat Kementerian Perdagangan sudah turun ke lapangan melakukan pemeriksaan. Pasalnya, pembangunan pasar itu pada tahun 2018 menggunakan APBN.
“Kita sedang menunggu hasil dari verifikasi atau pemeriksaan mereka di lapangan, karena sebelumnya mereka berada di sini (Lhokseumawe) untuk melakukan pemeriksaan secara detail. Tapi sejauh ini kita belum mendapatkan hasilnya seperti apa dari PPK RI,” ujar Ramli.
Ramli melanjutkan, setelah mendapat hasil pemeriksaan itu, baru pihaknya mengetahui tindak lanjut yang harus dilakukan. “Pada intinya setelah pasar itu diresmikan, apa yang bisa kita lakukan sehingga masyarakat dapat terbantu dan aset negara ini bisa dikelola dengan baik. Sehingga kita terus berupaya membangun hubungan dengan pihak pengusaha agar Pasar Induk itu hidup,” ucapnya.
Diberitakan sebelumnya, Pemko Lhokseumawe sampai saat ini belum memfungsikan Pasar Induk yang dibangun di Jalan Lingkar, Gampong Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti. Bangunan pasar itu dibangun sejak tahun 2015 sampai 2018 menghabiskan dana miliaran rupiah.
Pantauan portalsatu.com/, Selasa, 15 Oktober 2019, di muka tembok bertuliskan “Pasar Induk (Terpadu) Kota Lhokseumawe, Banda Sakti, Lhokseumawe” tampak rumput liar menutupi tulisan tersebut. Rumput tebal juga menyemakkan halaman Pasar Induk itu.
Pintu gerbang kompleks pasar itu tertutup rapat dan dikunci berantai dan bergembok. Tidak terlihat petugas keamanan di pos penjagaan.
Di dalam Kompleks Pasar Induk itu terdapat tiga “gudang komoditas” berdampingan dengan salah satu “gudang pendingin (cold storage)”. Selain itu, dua bangunan pasar yakni “Pasar Rakyat Ujong Blang”, dan “Pasar Rakyat Terpadu Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe”.
Sejumlah jendela kaca pada tiga “gudang komoditas” itu sudah hancur, seperti terkena batu.
Selain tiga gudang dan dua “pasar rakyat”, juga terdapat tempat bongkar muat barang yang berdiri tegak berwarna merah maron persis di samping “Pasar Rakyat Ujong Blang” dan “Pasar Rakyat Terpadu”. Namun, beberapa lembar atap spandek galvalum berwana merah maron itu sudah terlepas seperti diterpa angin.
Sedangkan di sejumlah titik dinding bagian dalam kedua pasar itu (“Pasar Rakyat Ujong Blang” dan “Pasar Rakyat Terpadu”) bercat warna hijau terlihat sudah retak-retak. Kondisi retak juga tampak di beberapa dinding lapak jualan yang terbuat dari beton di dalam bangunan pasar tersebut.
Kedua pasar itu memiliki 30 “kios” yang kabarnya akan diperuntukkan kepada para pedagang. Sebagian sudah dipasang pintu, sisanya terlihat masih terbuka.
Di dalam lapak jualan “Pasar Rakyat” tersebut, juga sudah terpasang bola lampu serta fasilitas pendukung lainnya, seperti kamar mandi yang sudah siap dimanfaatkan. Namun, bangunan menghabiskan anggaran negara miliaran rupiah itu belum difungsikan.
Data dilihat portalsatu.com/ pada laman resmi Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Lhokseumawe, paket pembangunan Pasar Induk itu ditenderkan sejak tahun anggaran 2015 hingga 2018. Anggaran proyek tersebut di bawah Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop-UKM) Lhokseumawe.
Tahun 2015, Pembangunan Pasar Induk Kota Lhokseumawe Tahap I dengan nilai pagu Rp2,75 miliar lebih dan HPS paket Rp2,75 miliar. Tahun 2016, Pembangunan Pasar Induk Kota Lhokseumawe Tahap II nilai pagu dan HPS paket Rp4,85 miliar lebih. Tahun 2017, Pembangunan Pasar Induk Kota Lhokseumawe Tahap III nilai pagu Rp2,5 miliar dan HPS paket Rp2,49 miliar lebih.
Tahun 2018, nama paketnya menjadi Biaya Jasa Konstruksi Fisik Pembangunan/Revitalisasi Pasar Rakyat Induk Terpadu Kec. Banda Sakti nilai pagu dan HPS paket Rp5,80 miliar lebih bersumber dari APBN. Selain itu, tahun 2018 juga ada paket Biaya Jasa Konstruksi Fisik Pembangunan/Revitalisasi Pasar Rakyat Ujong Blang nilai pagu dan HPS paket Rp5,68 miliar lebih, juga dari APBN.(Baca: Pasar Induk Lhokseumawe, Belum Difungsikan Sudah Retak)[]







