BANGUNAN Pasar Sayur dan Kios maupun Pasar Ikan dan Pelelangan Ikan itu masih tampak “babak belur”. Atap bangunan pasar di Dusun Kuta Kareung, Gampong Meunasah Mesjid, Cunda, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe itu sudah lama “digunduli”. Berbagai material lainnya dilaporkan ikut “dijarah” lantaran pasar tersebut tak kunjung difungsikan.

Bedanya, pertengahan tahun 2015 lalu, halaman depan bangunan pasar itu tertutup rumput tebal setinggi lutut orang dewasa, kini sudah dipasang paving block (bata beton). Sedangkan di halaman belakang bangunan tersebut masih terlihat tumbuhan liar, termasuk bak reubek.

Baca juga: Terbengkalai, Pasar Ikan Jadi ‘Bengkel Drakula’

“Semakin lama dibiarkan terbengkalai, bangunan (pasar) itu akan semakin hancur. Mestinya pemerintah segera menyelamatkan bangunan itu, membangun kembali atapnya, lalu difungsikan agar berputar roda perekonomian masyarakat. Jika tidak maka hanya menjadi proyek mubazir,” kata Armia, salah seorang warga di kawasan itu kepada portalsatu.com/, 30 September 2016.

Siapa pun yang melintasi Jalan Merdeka Barat—jalur  masuk ke pusat kota Lhokseumawe—dapat dengan mudah melihat bangunan pasar itu. Jarak antara jalur masuk ke pusat kota dengan lokasi bangunan pasar itu kurang dari 100 meter. Berdiri di jembatan Cunda, lalu menoleh ke kiri langsung tampak bangunan pasar yang sebagian sudah “hancur” itu.

Pembangunan Pasar Sayur dan Kios maupun Pasar Ikan dan Pelelangan Ikan itu menelan anggaran miliaran rupiah dari dana Otsus tahun 2011-2012. Pastinya, bangunan pasar tersebut dibangun untuk difungsikan, sehingga menjadi tempat perputaran ekonomi masyarakat. Tapi tujuan itu belum tercapai sampai saat ini.

“Waktu itu, tahun 2012, belum masuk saya (belum dilantik sebagai kepala dinas/kadis). Setelah masuk (menjadi kadis), saya lihat tidak ada jalan (penghubung dari Jalan Merdeka Barat) ke lokasi pasar itu,” kata Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Perindagkop) Lhokseumawe Halimuddin dihubungi portalsatu.com/ lewat telpon seluler, 1 Oktober 2016, malam.

Halimuddin mengatakan, setelah menjadi Kadis Perindagkop, dirinya langsung mengusulkan kepada Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk membangun jalan penghubung ke lokasi bangunan pasar itu. “Sudah dibangun jalan tahun 2015. Jadi, waktu itu tidak ada jalan, bukan tidak difungsikan (bangunan pasar),” ujarnya.

Jika sebelumnya tidak ada jalan, lantas bagaimana bisa direalisasikan proyek pembangunan pasar itu (untuk  mengangkut material bangunan/proyek butuh akses jalan)? “Nyan keuh hana kutuoh nyan. Nyoe baroe na jalan pengerasan (itulah saya tidak tahu. Ini baru ada jalan pengerasan (belum diaspal),” kata Halimuddin.

Halimuddin melanjutkan, tahun ini pihaknya sudah memasang paving block di halaman bangunan pasar tersebut. “Untuk dapat difungsikan (bangunan pasar itu), sudah kami usulkan anggaran pembangunan atap dalam rancangan anggaran tahun 2017. Jadi, tahun depan kita harapkan dapat difungsikan,” ujarnya.

“Rencana kami, bangunan itu bisa menjadi pasar distribusi. Misalnya begini, saat dipasok sayur mayur dari Takengon maupun Berastagi, tidak perlu lagi dibawa ke Pasar Inpres (di Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe), tapi masuk ke pasar itu. Selain itu, pedagang ikan di depan pintu masuk eks-gedung Cunda Plaza yang beroperasi setelah waktu Subuh, juga bisa pindah ke pasar itu,” kata Halimuddin.

Artinya, butuh waktu sekitar setahun lagi untuk mewujudkan program tersebut. Selama itu pula, bangunan pasar tersebut masih “babak belur”. Halimuddin pun tidak merasa khawatir jika sisa-sisa material bangunan tersebut akan terus “dijarah” oleh tangan-tangan jahil. “Sudah ditangkap pencurinya, kalau tidak salah saat ini pencuri itu sedang menjalani hukuman (pidana penjara),” ujarnya.[](idg)