SUBULUSSALAM – Jumlah pasien gangguan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) di Kota Subulussalam dilaporkan meningkat 50 persen diduga dampak kabut asap  menyelimuti Bumi Sada Kata dalam beberapa hari terakhir.

Peningkatan pasien ISPA seperti batuk kering dan sakit tenggorokan disampaikan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Subulussalam, dr. Armansyah kepada portalsatu.com/, Selasa, 24 September 2019, di sela-sela kegiatan bagi-bagi masker bersama jajaran Polsek Penanggalan, di Jalan Teuku Umar, depan Hotel Hermes One Subulussalam.

Armansyah mengatakan, meningkatnya pasien ISPA disebabkan kabut asap akibat Karhutla terhirup melalui hidung atau masuk lewat mulut karena masih banyak masyarakat saat beraktivitas di luar rumah, terutama  berkendara tidak memakai masker.

Akibatnya, dalam beberapa hari terakhir jumlah pasien ISPA meningkat dari sebelumnya. Gejala ISPA akibat kabut asap ini dapat berdampak pada siapa saja, terutama anak-anak dan orang tua yang sangat rentan terserang penyakit itu.

“Gejalanya bisa langsung, bisa beberapa hari ke depan, tergantung ketahanan tubuh. Namun untuk anak-anak dan orang tua itu sangat rentan,” kata Armansyah didampingi mantan Direktur RSUD Kota Subulussalam, dr. Sarifin Usman dan Kapolsek Penanggalan, Iptu Syahril saat  bagi-bagi masker di Jalan Teuku Umar.

Jumlah pasien ISPA di Klinik dr. Sarifin Usman, di Jalan Teuku Umar, Kecamatan Simpang Kiri, juga dilaporkan meningkat drastis mencapai 15 pasien satu malam dari sebelumnya sekitar 5 pasien yang berobat di sana.

“Meningkat memang tadi malam ada 15 pasien ISPA, batuk kering dan sakit tenggorokan, biasanya 5 satu malam,” ungkap Sarifin Usman.

Sementara Kapolsek Penanggalan, Iptu Syahril mengimbau pengguna jalan khususnya pengendara kendaraan roda dua agar menggunakan masker, sebab wilayah Kota Subulussalam hingga hari ini masih diselimuti kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan.

“Hari kami menurunkan seluruh personel Polsek Penanggalan untuk ikut bersama-sama dengan IDI turun ke jalan bagi-bagi masker kepada masyarakat, karena sampai hari ini wilayah Subulussalam masih diselimuti kabut asap,” kata Syahril.[]