SIGLI – Ti Asma (49), warga Gampong Jijiem, Kecamatan Keumala, Pidie, meninggal dunia dalam perawatan di Rumah Sakit Umum Tgk. Abdullah Syafii (RSUTAS) Beureunuen. Anggota DPRK Pidie menduga pasien menderita muntah darah itu, sebelum meninggal, tidak mendapatkan penanganan maksimal dari pihak RSUTAS.
Informasi diperoleh portalsatu.com/ dari Zamzami, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie, Sabtu, 18 Februari 2023, pasien tersebut meninggal dunia, Sabtu, sekira pukul 05:00 WIB dini hari.
“Saya membesuknya tadi malam, dan melihat pasien yang kritis itu diinapkan dalam ruangan ramai-ramai. Semestinya pasien itu dirawat khusus dalam ruangan Intensive Care Unit (ICU),” kata Zamzami.
Menurut Zamzami, Ti Asma yang dibawa keluarga ke RSUTAS Beureunuen, beberapa hari lalu. Setelah dilayani di Instalasi Gawat Darurat (IGD), pasien ditangani perawat dan dokter umum. Lalu, pasien itu dialihkan ke ruang rawat inap untuk proses perawatan lebih lanjut.
Zamzami sangat menyesalkan melihat kondisi pelayanan rumah sakit, ketika pasien butuh pelayanan, terutama tenaga dokter yang semestinya harus berada di lokasi melihat langsung kondisi pasien. Namun, kata dia, kenyataannya dokter berada di rumah.
“Melihat kondisi pasien semakin kritis , pihak keluarga meminta dirujuk ke RSU Tgk Chik Ditiro, Sigli. Tetapi perawat tidak berani mengeluarkan surat rujukan dengan alasan itu harus seizin dokter atau pimpinan,” ungkap Zamzami, Sabtu.
Begitu Zamzami datang ke rumah sakit dan mendengar keluhan keluarga, dirinya minta perawat menghubungi dokter yang lagi tidur di rumah. Izinpun dikeluarkan untuk rujuk ke RSU Tgk. Chik Ditiro. Setelah itu pihak RSUTAS menghubungi pihak RSU Tgk. Chik Ditiro, tapi jawabannya, mereka menolak dengan alasan ICU penuh.
“Karena ditolak, akhirnya pasien tetap dirawat di kamar semula dalam kondisi tambah parah, hingga akhirnya Ti Asma mengembuskan nafas terakhir pada pukul 05:00 WIB,” ujar Zamzami.
Direktur Rumah Sakit Umum Tgk Abdullah Syafii, dr. Kamaruzzaman, kepada portalsatu.com/, Sabtu, 18 Februari 2023, mengatakan tidak benar seperti cerita yang beredar bahwa pasien meninggal karena penanganan kurang baik.
“Tidak benar bahwa pasien tidak ditangani dengan baik oleh dokter. Kemarin kondisi pasien setelah ditangani dokter Meta, sudah membaik. Bahkan pasien sudah minta pulang. Tetapi dokter Meta melarangnya, karena besok dikontrol ulang. Jika sudah benar-benar sehat, baru bisa pulang,” ujar Kamaruzzaman.
Pada malam tadi, pasien muntah darah lagi, dokter Meta yang sudah di rumah meminta dokter umum mengeceknya. Dari pengecekan ditemukan ada cairan di paru. Lalu, dilakukan konsultasi dengan keluarga karena harus dirawat di ruangan isolasi khusus.
“Karena di tempat kita tidak ada ruangan isolasi, akhirnya kita sepakat rujuk ke RSU Tgk. Chik Ditiro. Sebelum kita rujuk, kita komunikasi dulu dengan pihak RSU penerima tentang adanya tempat. Jawaban dari RS penerima, ruang ICU penuh pasien, sehingga harus menunggu,” tutur Kamaruzzaman.
Jika di sana dirawat di ruang biasa, lanjut Kamaruzzaman, lebih baik tunggu saja dulu. Jika sudah ada tempat baru dirujuk. Karena pasien penderita paru tidak bisa dirawat di IGD, berbahaya pasien lain.
“Akhirnya, sepakat dengan keluarga tetap rawat di sini dan pasien pun sudah membaik setelah diberi obat. Baru sekira pukul 03:00 WIB dini hari, pasien kembali muntah dan langsung drop, akhirnya pada pukul 05:00 WIB meninggal dunia,” jelas Kamaruzzaman sembari kembali menyebut tidak benar RSU Tgk. Chik Ditiro menolak pasien rujukan.[](Zamahsari)






