HARI menjelang senja. Suasana di dalam hutan mulai terasa lengang, tak seriuh siang tadi. Suara jangkrik dan beberapa binatang lain menambah mistis suasana. Ditambah gigitan nyamuk yang tak mau bersahabat membuat siapa saja enggan berada di Hutan Rawa Nipah. Kecuali Riza dan seorang pria yang disebutnya sebagai pawang, bernama Abu Yazid.
Kedua sejawat ini sepakat, bertahan atau pulang tanpa hasil. Pemburuan harus tetap berlanjut. “40 meter di atas tanah, di pohon bersama lebah,” kenang Riza saat menceritakan pengalaman pertamanya memburu madu, ketika ditemui portalsatu.com/, di kediamannya Gampong Cot Lampise, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, 23 Mei 2018.
Alhasil, keduanya tak pulang dengan tangan hampa. Tiga botol madu dapat mereka bawa pulang hari itu. Sejak saat itu, lelaki kelahiran Cot Lampise, 1 Januari 1993 ini memutuskan untuk menjadi seorang pemburu madu lebah. Sebuah pekerjaan yang menurutnya cukup menantang, dan memicu adrenalin.
Butuh keberanian untuk menekuni pekerjaan ini. Pada pengalaman pertamanya, Riza mengaku cukup tergidik demi melihat ratusan lebah pekerja yang mengerumuni sarang madu buruannya.
Namun bagi Riza, rasa takut akan tersengat lebah berangsur-angsur hilang dengan sendirinya seiring semakin tinggi jam terbang seorang pemburu madu. Lebah, menurutnya, bukan lagi sesuatu yang perlu ditakutkan.
“Untuk menekuni pekerjaan ini kita harus fokus dan penuh konsentrasi. Keduanya harus padu ditambah keberanian,” terang Riza saat ditanyai trik apa yang digunakannya selama mengambil madu dari sarang lebah.
“Tidak perlu doa-doa tertentu, agar selamat dan mendapat hasil, hanya modal ‘bismillah’, dan nekat,. Kita hanya modal dedaunan yang diasapkan, setelah sebelumnya dibakar terlebih dahulu,” ia bertestimoni.
Riza bernama panjang Riza Arifin, merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara, anak dari pasangan Risnawa (almarhum) dan Tasarudin.
Lahir di tengah keluarga yang cukup keras dalam hal pendidikan, Riza kecil terlatih untuk mandiri dan berdikari. Hal ini pula yang mendasari tekad lelaki lulusan salah satu perguruan tinggi negeri di Meulaboh ini untuk tidak berpangku dan berharap dapat bekerja di pemerintahan, atau menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).
“PNS bukan tujuan dan capaian, yang terpenting usaha dan kemandirian. Lulus dari kampus, kita harus banyak berusaha,” tegasnya.
Saat masih di bangku kuliah, Riza sempat berkebun. Dari hasil berkebun, ia berhasil membeli sepeda motor.
“Ya, saya sempat berkebun cabai, semangka, melon, dan ragam macam sayuran lain. Saat itu saya ingin membuktikan kepada orang-orang, bahwasanya, orang-orang seperti saya dapat mandiri secara ekonomi tanpa harus membebani keluarga,” kata dia yang berkebun dengan menyewa tanah milik orang lain.
Bagi Riza, berkebun mengajarkannya bagaimana berdiskusi dengan alam. Dialektika alam, demikian sebutnya, merujuk pada bagaimana manusia dan alam menjadi jalinan yang tak terpisah.
“Manusia hidup memanfaatkan alam. Alam bersifat ada dan berguna atas ciptaan Tuhan karena adanya usaha manusia untuk memanfaatkan alam,” demikian dia memfalsifikasi.
Usaha berkebun ditekuninya hingga ia menamatkan kuliah. Namun, Riza mengaku banyak jatuh bangun dalam usahanya tersebut. Hal ini pula yang telah mendorongnya untuk mencari profesi lain. Memburu madu pun jadi pilihan pria berbahu tegap berdada bidang ini.
Semua berawal saat Abu Yazid atau sang pawang mengajak Riza untuk menemaninya mencari madu di tengah rimba Rawa Nipah, sebuah hutan di Kecamatan Bubon, Aceh Barat awal 2018 lalu. Belakangan pekerjaan ini semakin ditekuni dan dicintainya.
Untuk mengambil madu lebah dari sarangnya, para pemburu madu lebah biasa memanfaatkan asap dari dedaunan tertentu yang telah mereka bakar sebelumnya.
“Saat sarang lebah terkena asap, lebah akan bereaksi seakan-akan sarangnya terbakar. Lebah akan membasahi tubuhnya dengan madu dan menjadi lemah, sehingga berpindah ke bawah sarang, dan tidak banyak melawan. Sementara lebah lainnya juga ada yang pergi menjauh,” terangnya.
Antara profesi dan ekspedisi
Soal jam terbang, meski baru seumur jagung, lelaki yang tengah tekun memelihara berewok ini mengaku telah menjelajahi banyak hutan rimba khususnya di Aceh Barat, Nagan Raya hingga Aceh Selatan.
Baginya, ini bukan hanya soal profesi, tetapi juga ekspedisi. “My Hunting, My Adventure,” demikian mottonya.
Ada kenikmatan tersendiri bagi Riza ketika menjelajah ke dalam hutan yang baru dikenalinya.
Adakalanya, di dalam rimba antah berantah, ia mengaku terbebas. Apa yang tak ditemukannya di hiruk pikuk kota yang menurutnya penuh keomongkosongan, dapat ditemukannya di hutan.
“Di tengah rimba, antara kita, alam dan sang pencipta seperti tiada hijab (pembatas, red). Kita dapat begitu dekat, merasakan indah alam karyanya tersebut,” katanya seraya menambahkan, bahwa terdapat “kode etik” tertentu yang mesti dijaga jika berada di dalam hutan. Seperti tidak boleh berisik atau berhura-hura.
Dari teman ke teman
Untuk harga, satu botol madu original hasil buruannya dihargai Rp300.000. Saat ini, madu buruannya belum dipasarkan secara massal.
Strategi yang digunakan dengan memanfaatkan hubungan pertemanan. Riza lebih banyak menawarkan madu buruannya kepada rekan sejawat atau orang yang dikenalnya saja.
“Belum dipasarkan massal, karena takut permintaan membludak. Sedangkan untuk mendapatkan madu ori (original) itu ada waktu-waktunya. Tidak tiap bulan madu ada di sarang lebah. Dan untuk mencari sarang lebah yang terdapat madu juga susah. Saat ini hanya ke teman sejawat, dan alhamdulillah banyak yang minat,” testimoni dia.
Untuk promosi, Riza sering memanfaatkan sosial media, facebook. Ia yang mengaku hobi mancing ini sering meng-upload foto-foto madu hasil buruannya di raksasa media sosial besutan Mark Zuckerberg tersebut.
Untuk membedakan mana madu yang asli, dan palsu, kata dia, dapat dilihat dari perbedaan berat keduanya jika diperbandingkan saat dimasukkan ke dalam botol.
“Madu asli biasanya lebih berat, sedangkan madu manisan, itu ringan,” jelasnya.
Riza mewanti-wanti, bagi para penyuka madu, agar tidak mudah terpedaya atau terkecoh dengan madu yang dijual dengan harga murah.
“Itu biasanya madu campuran. Bukan ori. Mana mungkin madu dijual dengan harga Rp100.000, atau Rp50.000 perbotolnya,” kata dia yang terpaksa mengakhiri perbincangannya dengan portalsatu.com/ lantaran sirine berbuka puasa telah berbunyi.[]
Penulis: Rino Abonita







