BANDA ACEH – Komunitas peduli sejarah Aceh kini bisa sedikit bernafas lega. Kenapa tidak? Pemerintah kini dinilai sudah mulai sedikit melirik situs-situs sejarah yang sempat diabaikan. Situs yang disebut-sebut bakal menjadi ATM generasi Aceh di masa depan.

Ya, situs yang dimaksud adalah bekas tapak Kerajaan Lamuri yang berada di perbukitan Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar.

Disebutkan, di perbukitan tersebut pernah berdiri sebuah kerajaan kuno sebelum lahirnya Kerajaan Aceh Darussalam. Bahkan, Kerajaan Lamuri diduga telah ada sejak terbentuknya jaringan lalu lintas internasional. Sejumlah penulis telah mencatatnya sejak abad ke-8, di antaranya penulis Arab, Ibnu Khordadhbeh (844-848), menuliskan Lamuri dengan nama “Ramni”. Dia menyebut Lamuri tempat kapur barus serta hasil bumi.

Sejumlah catatan dari China menyebutkan Lamuri (Lan-wu-li) sebagai jajahan Sriwijaya (San-fo-ts’i). Cerita ini terdapat dalam tulisan Chau-Yu-Kwa dalam bukunya Chu-Fan-Shi, yang terbit pada 1225 Masehi.

Buku ini menukilkan Lamuri belum menganut Islam. Sehari-hari sang raja mengendarai gajah. “Di istananya ada dua ruangan untuk menerima tamu.”

Cerita Chau-Yu-Kwa berbeda dengan Marco Polo yang pernah singgah ke Pulau Sumatera pada 1292. Dia menemukan Kerajaan Lamuri yang tunduk pada Kaisar China dan wajib membayar upeti.

Keterangan Marco Polo sesuai dengan buku Dinasti Ming yang mencatat pernah mengirim sebuah cap dan surat ke Lamuri pada 1405 M. Enam tahun kemudian, Kerajaan Lamuri mengirim utusan ke China berikut dengan upetinya.

Laksamana Cheng Ho pun pernah singgah ke Lamuri untuk memberikan hadiah dari China pada 1430.

Sudah lama situs ini menjadi pusat penelitian sejarawan lokal di Aceh. Sejarawan mancanegara juga pernah mengunjungi kawasan tersebut. Sebut saja diantaranya E. Edwards McKinnon dari Inggris dan Othman Yatim dari Malaysia. 

“Pemerintah sudah mulai peduli dengan Lamuri,” ujar Arkeolog Unsyiah Dr. Husaini Ibrahim, Senin, 14 November 2016.

Husaini yang juga akademisi dari FKIP Unsyiah tersebut mengatakan penelitian di Lamuri kini melibatkan tiga pihak. Selain FKIP Unsyiah, tim juga terdiri dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh dan peneliti asing dari Malaysia.

Situs Lamuri yang sudah lama diperjuangkan untuk menjadi cagar budaya di Aceh ini kini mulai ramai dikunjungi. Apalagi tiga lembaga yang bekerjasama untuk mengungkap rahasia di balik bukit itu sedang dalam tahap pembebasan lahan masyarakat setempat. 

“Minimal 300 hektar lahan yang akan dibebaskan. Dominan berada di Gampong Lamreh, dan juga nantinya bisa saja mengarah ke perbatasan Laweung, Pidie,” kata Husaini yang sudah lama meneliti daerah tersebut.

Dia mengaku tim peneliti yang berjumlah 15 orang lebih tersebut, sudah beberapa hari berada di kawasan Lamuri. Banyak tahapan yang akan dikerjakan hingga nantinya mengarah ke eskavasi. “Sekarang saya juga sedang mengurus segala administrasi untuk keperluan penelitian. Intinya, pemerintah sudah peduli dengan Lamuri,” kata Husaini tersenyum lebar.[]