Biarkan remuk,

lebam oleh amuk!

Cekam 

dalam padam

yang bisu.

Sebab tiada jalan

untuk dendam,

dan biarkan tunas sabar

terbit dari cadas

yang terbakar.

 

Amarah kesumat

biarlah lapuk!,

menjadi batas kesadaran

tentang hari kemarin.

Sebab dendam

mempersempit Telaga Kautsar.[]

Penulis: Taufik Sentana, Peminat sastra sufistik