Oleh Taufik Sentana*

Diantara nilai lebih pendidikan Islam adalah nilai transformatif dan relevansinya dengan  kondisi apapun. Sehingga pendidikan Islam dapat menawarkan gambaran hidup yang utuh.  Sejatinya pendidikan Islam tidak hanya menyoal siap pakai lulusan, tidak pula hanya menyoal capaian materialistic dan usaha menjadi warga negara (dan warga dunia) yang baik.

Munculnya pandemi  covid 19 sejak Desember lalu dan merebak ke seluruh dunia telah menelan jutaan korban meninggal ataupun terinfeksi. Sendi sendi social dan ekonomipun terdampak secara nyata. Dari perubahan gaya hidup, tekanan ekonomi, potensi gangguan pangan dan manajemen stress.  Usaha pengadaan vaksin dan preventif lainnya terus berlangsung.  Sampai sejauh ini masyarakat seakan dihadapkan pada fakta dan fiktif, atau dihadapkan pada “ketidakberdayaan yang berani”, sebab, bagaimanapun masyarakat perlu melanjutkan hidupnya dan generasi terdidik perlu mengambil saripati dari musibah global ini.

Dalam catatan Azyumardi Azra, Republika, 25 Agustus 2020, Pendidikan Islam Indonesia bisa dipastikan juga sangat terdampak wabah korona. Memang belum ada survei atau penelitian tentang dampak wabah korona terhadap pendidikan Islam khususnya; tapi yakinlah tanpa survei pun, lembaga pendidikan Islam Indonesia jelas terkena dampak signifikan wabah Covid-19.

Dampak wabah korona terhadap pendidikan Islam—dalam hal ini tingkat dasar dan menengah—bisa dipastikan lebih parah dari pendidikan negeri. Hal ini tidak lain karena antara sekitar 90 persen lembaga pendidikan Islam Indonesia adalah swasta—milik komunitas dan umat Islam. Lembaga pendidikan Islam didirikan, dibina, dan dikembangkan dengan inisiatif dan swadaya perseorangan, yayasan, komunitas, dan jamaah umat Islam sendiri. Padahal, komunitas, jamaah, dan umat Islam sendiri kini mengalami konstrain keuangan luar biasa akibat wabah korona.

Bisa dipastikan pula, lembaga pendidikan Islam Indonesia merupakan sistem pendidikan berbasis keagamaan terbesar di dunia. Lembaga pendidikan Islam Indonesia tertua adalah pesantren yang berjumlah antara lebih 28 ribu sampai 30 ribu.  Pesantren ada di seluruh Tanah Air: terbanyak berada di wilayah perdesaan, tetapi juga semakin banyak ada di perkotaan—urban dan suburban.  

Sebagai Paradigma

Bila kita yakin bahwa pendidkan Islam sebagai paradigma dalam pembangun SDM dan pemakmur kehidupan, tentulah pendidikan Islam selalu sejalan dengan solusi dari setiap keabnormalan yang dihadapi, termasuk menghadapi pandemic Covid 19 ini. Kesigapan lembaga islam dalam merspon merumuskan kebijakan akan sangat memengaruhi masa depan pendidikan Islam. Adapun afirmasi dari pemerintah, tidsk bias menjadi patokan dalam menghadapi adaptasi baru yang sedang berlangsung sekarang.

Sudah menjadi standar umum bahwa tantangan dan harapan selalu menyertai dalam situasi apapun. Terlebih nilai transenden pendidikan Islam yang terhubung pada takdir, ikhtiyar, tawakkal, ridha dan sabar akan menjadi tameng moral yang mujarab. Adapun kreativitas, waktu-jarak, materi ajar, metode dan kendala social menjadi bagian dari ikhtiyar yang tak bisa ditawar dalam bersikap pada masa pandemi.

Pendidikan islam mesti menjadi balancing dalam pergulatan pendidikan secara umum. Artinya, pendidikan Islam mesti menjadi tumpuan yang kokoh secara falsafi dan dapat bersinergi dengan pranata social lainnya dalam mencapai tujuan luhur pendidikan, baik untuk kehidupan dunia ataupun akhirat.

Adapun yang menjadi kekhasan pendidikan Islam dalam masa adaptasi pandemic serta upaya yang riil yang relevan adalah sebagai berikut:

Pertama, kesejatian pendidikan Islam tidak membatasi ruang dan jarak. Pendidikan Islam tidak mutlak pada materi materi ajar yang tekstual-metodologis. Pendidikan Islam yang berbasis Alquran dan Hadis mmenyediakan banyak jalan untuk digali dan dikembangkan yang disesuaikan dengan kondisi dan memanfaatkan jaringan teknologi didgital.

Kedua, fleksibelitas pendidikan Islam sangat menentukan. Artinya, penyederhanaan kompetensi dan meramu prioritas baru dalam kurikulum, setidaknya untuk tiga sampai lima tahun ke depan. Utama dalam segi kemandirian, peluang kreativitas dan nilai nilai produktif.

Ketiga, nilai amaliyah. Yakni, menyelaraskan konten ajar dan program belajar yang berorientasi pengamalan langsung secara pribadi ataupun social. Misal, mengarahkan focus kompetensi dasar pada pengamalan ajaran Islam yang dasar dan utama, seperti mencintai ilmu, tradisi iqra, memahami Alquran, ibadah shalat, berbakti dan tanggung jawab social, yang kesemuanya terangkum dalam ‘bingkai’ ibadah karena dirujuk berdasarkan nilai normatif pendidikan Islam.

Demikianlah sepintas ulasan tentang adaptasi pendidikan Islam dslam fase pandemic yang masih terasa mengancam. Semoga semua ini cepat berlalu dan pendidikan Islam dapat kembali menjadi mercu suar peradaban dunia.[]

*Praktisi Pendidikan Islam. Menulis Buku Hijrah Pendidikan.

Bergiat di Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Aceh Barat