BLANGKEJEREN – Pengadaan  bibit untuk proyek reboisasi itu berasal dari BP Dashl Wampu Sei Ular Medan. Bibit yang didatankan ke Agusen, Gayo Lues tersebut batannya terlihat kecil, daun menguning, serta pendek.

Bibit yang terlihat kurus dan daunya kekuningan itu adalah bibit kopi, bibit lamtoro, bibit pokat, dan beberapa jenis tanaman kehutanan lainnya yang disimpan di dekat Gudang Dinas Pertanian Gayo Lues tepatnya di Jalan Blangkejeren-Agusen, dan di Simpang Tiga Jalan Budi Waseso (Buwas) daerah Agusen.

Menurut informasi dari masyarakat, bibit itu bukan untuk dibagi kepada masyarakat atau petani, melainkan sekalian dengan penanamannya diupahkan oleh pihak terkait kepada masyarakat setempat dengan sistem ditanam per batang di kawasan hutan lindung.

Kepala KPH wilayah Gayo Lues, Kamaruzaman, Senin, 11 November 2019, menjelaskan, KPH Gayo Lues hanya selaku penerima manfaat dari kegiatan itu. Sedangkan anggaran, proses tender, pengawasan dan pelaksana, semuanya dari BP Dashl Wampu Sei Ular Medan.

“Memang ada sebagian bibit kemarin itu dikirim fotonya ke saya sangat kecil, tapi sudah saya suruh diganti sama penyedianya, dan bibit yang diganti itu adalah lamtoro dan bibit kopi,” katanya.

Kamaruzaman mengaku tidak tahu berapa jumlah bibit dan penyedia bibit itu lantaran pihaknya hanya sebagai penerima manfaat. Begitu juga dengan tim pengawas dan penerima barang, bukan dari pihaknya.

Namun, Kamaruzaman menduga bibit tersebut kurus dan kecil karena harga satuannya sangat murah, tidak sama seperti standar harga pembelian bibit yang dikeluarkan Pemerintah Kabupaten Gayo Lues.

“Di Gayo Lues ada dua blok penghijuan, dengan luas lahan 125 hektare, memang biasanya tinggi pohon untuk penghijauan sekitar 30 centimeter, mungkin ini lantaran harga satuannya murah disebabkan harga bibit dalam standar harga di Medan dengan Gayo Lues tidak sama,” katanya.

Fuadi RHL penyedia bibit lamtoro, jengkol, petai, alpukat, kemiri, dan kopi mengakui adanya bibit yang tidak sesuai spek itu. Akan tetapi pihaknya mengaku sudah menggantikannya karena jumlah bibit yang didatangkanya ke lokasi melebihi dari yang semestinya.

“Anggarannya Rp 600 juta, untuk jumlah batang bibitnya saya tidak tahu, mengenai yang tidak sesuai spek, sudah kami ganti, hanya yang sesuai saja yang ditanam,” jelasnya.[Win Porang]