LHOKSEUMAWE – United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) merespons terkait jumlah pengungsi Rohingya di tempat penampungan Balai Latihan Kerja (BLK) Gampong Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, yang sebelumnya 352 orang, terus berkurang dan kini tersisa 103 orang.
Associate External Relations/Public Information Officer UNHCR, Mitra Suryono, menyampaikan bahwa tim UNHCR di lapangan melakukan penghitungan jumlah secara rutin dan terakhir pada 8 Januari 2021. Saat itu terhitung sebanyak 103 pengungsi. Pihaknya telah dan secara terus menerus meningkatkan kesadaran para pengungsi akan bahaya dan risiko dari aktivitas penyelundupan dan perdagangan manusia.
"Hal ini kami lakukan secara rutin melalui berbagai sesi Fokus Group Discussion (FGD) dan konseling yang kami berikan bagi para pengungsi. Selain itu, kami juga memiliki tim penjaga yang menangani keamanan di lokasi tinggal para pengungsi," kata Mitra Suryono dalam keterangannya kepada portalsatu.com/ via WhatsApp, Senin, 11 Januari 2021, malam.
Menurut Mitra, pengungsi itu merupakan orang-orang yang meninggalkan negara asalnya untuk menghindari penganiayaan. Orang-orang rentan seperti mereka yang terdiri dari anak-anak, wanita dan pria tetap berani menempuh perjalanan yang berkelanjutan, menunjukkan betapa putus asanya pengungsi Rohingya.
“Pengungsi Rohingya adalah etnis minoritas yang paling teraniaya di seluruh dunia, dan karenanya banyak di antara mereka yang akan selalu berupaya untuk mencari masa depan yang lebih baik bagi dirinya dan keluarga mereka,” ujar Mitra.
Diberitakan sebelumnya, jumlah pengungsi imigran Rohingya di tempat penampungan Balai Latihan Kerja (BLK) Gampong Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, yang sebelumnya 352 orang, terus berkurang dan kini tersisa 103 orang
Semakin berkurangnya jumlah mereka diduga sejak setelah Pemerintah Kota Lhokseumawe melalui Satgas Penanganan Pengungsi Rohingya menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab kepada UNHCR pada Desember 2020.[]



