Oleh: Taufik Sentana*

Cara orangtua dalam bereaksi terhadap sikap anak sering kali tak terkendali. Hal itu karena reaksi yang muncul adalah spontanitas. Bisa jadi, reaksi itu adalah akumulasi dari problematika pribadi orangtua dan harapannya terhadap anak. Maka bertindak reaktif-reaksionis dianggap tidak efektif dalam memengaruhi sikap anak, dan tidak membantunya menyelesaikan masalah.

Agar orangtua terhindar dari reaksi yang berlebihan dan mubazir, maka saat  ada benturan prilaku anak dengan prinsip bersama, hendaknya kita segera menakar reaksi yang akan kita ambil, biasa cukup dengan jeda puluhan detik sebelum mengambil keputusan yang responsif (bukan reaktif). Dalam skala ini, si anak juga sekan berlatih bagaimana manakar prilakunya sendiri dan belajar mengendalikan diri.

Pada waktu lain, orangtua bisa membuat daftar tentang hal hal yang sering memicu reaksi spontan terhadap sikap anak (biasanya prilaku yang negatif). Daftar ini diperlukan agar menjadi alat bantu mempersiapkan teknik responsif yang bisa kita kembangkan sehingga terbangun komunikasi yang konstruktif.

Dalam kata responsif mengandung kata penghargaan, pengertian, perhatian dan dukungan. Hasil dari sikap ini akan membantu anak dalam mengembangkan nalar, kreativitas dan motivasi internal si anak.

Berikut ada beberapa langkah dalam menyikapi prilaku anak dengan responsif dan konstruktif:
Pertama, memahami dan megelaborasi keinginan anak dan menggali masalah pokoknya. Kedua, meminimalisir intruksi dan larangan kecuali pada hal urgen. Ketiga, membangun komunikasi empatik agar sampai pada emosi si anak. Keempat, memberi dorongan, alternatif, perhargaan, komitmen, ataupun sanksi. Kelima, mengembangkan relasi-edukatif anatara orangtua-anak dalam mencapai tujuan pendidikan dalam keluarga.

Demikian beberapa dasar dan langkah tentang pentingnya bersikap responsif dalam interaksi orangtua-anak agar terbangun hubungan yang kuat dan efektif.[]

*Praktisi pendidikan Islam.