TRUK hitam mini itu berhenti di tepi jalan. Tumpukan semangka memenuhi gerobak belakangnya. Kegiatan bongkar muat semangka pun berlangsung.

Mukhlis terus mencatat jumlah semangka-semangka yang dibongkar dari truk. Lembaran catatan kecil yang ada di tangannya sesekali ditoreh dengan catatan-catatan perniagaannya hari itu, Pasar Lambaro, Aceh Besar, Kamis, 10 Mei 2018.

Ia dengan teliti terus memeriksa semangka-semangka itu dan terus mencatat dan menghitung.

“Semangka-semangka itu tadi pagi di datangkan dari Lamlo, dan lainnya berasal dari Trienggadeng, dan Laweueng,” katanya setelah selesai membongkar muat semangka.

Mukhlis mengatakan harga eceran semangka di Pasar Lambaro, ia menjual dengan harga yang bervariasi, bila yang non biji dijual seharga 6-7 ribu per kilogram, yang biji seharga 3-4 ribu per kilogram, dan yang kuning dijual seharga 5-6 ribu per kilogram.

“Semangka kuning lebih disukai pembeli, dan terkait dengan harga itu berubah dengan terjadinya perubahan produksi, jika banyak maka menjadi murah,” ujar pemuda berperawakan khas Pidie itu sambil sesekali ia menebar senyum.

Mukhlis mengatakan, semangka Pidie kini sedang panen level menengah, yakni produksinya tidak sedang panen raya atau kurang.

Mukhlis mengatakan semangka-semangka tersebut dalam satu hari terjual sekitar 30 ton untuk seluruh Aceh Besar dan kota Banda Aceh. Ketika ditemui @portalsatu di tempat jualannya saat itu hari belum mencapai siang saja, ia telah menjual 10 ton nangka.

Kesibukan Pasar Lambaro kini tidak lagi bisa dibedakan, karena setiap hari kesibukan pasar itu tetap terlihat seperti biasa, selalu ramai. Dahulu tiap hari Jumat di sana dijadikan sebagai hari pekan bagi masyarakat Lambaro dan sekitar, namun sekarang tiap hari adalah bagai hari pekan.

Mukhlis bersama ayahnya Tgk. Muntazar adalah aktif bekerja sebagai pedagang semangka, namun ia dan ayahnya berjualan terpisah di tempat jualan berbeda.

Di sana sebuah tempat sejarak beberapa puluh meter dari Mukhlis jualan, di bawah atap di sana di antara kedai-kedai terlihat Tgk. Muntazar tengah duduk di atas sebuah kursi, sementara di belakangnya juga ada berton-ton semangka segar.

Sementara di seberang jalan, berhadapan dengan tempat Mukhlis jualan, sebuah toko buah-buahan lainnya juga terlihat dengan kardus-kardus berisi apel dan pir.

Penjual ini mengatakan buah-buahan tersebut dijualnya sekitar tiga ratus ribuan per kardus, apel dan pear itu adalah barang impor dari Cina, dan lain-lain.

Di sepanjang jalan yang menjadi pasar tersebut, di sisi kiri ujung jalan area pasar berbarislah toko-toko kecil penjual pakaian jadi wanita dan lain-lain. Jalan Pasar Lambaro yang terletak di sisi kiri Masjid Jami’ itu juga berfungsi sebagai jalan pintas penghubung ke jembatan Pango.

Di tengah kota kecil Lambaro Masjid Jami’ berdirilah dengan megah. Masjid tersebut kini masih tengah dibangun.

Masjid Jami’ Lambaro berdiri kukuh dengan dua menara, empat kubah kecil, dan satu kubah induk yang berposisi di tengah di antara empat yang kecil lainnya. Di atas ujung kubah tertata satu bulan bintang yang umpama persis huruf ‘nun’.

Di sudut kanan halaman masjid itu terlihat satu papan informasi pembangunan masjid, di sana tertulis, masjid itu dibangun dengan anggaran dari dana Otsus 2017 oleh Dinas Syariat Islam Aceh Besar, sebesar 1.950.000.000.

Nanas Tarutung

Sekitar beberapa belas meter dari kedai  semangka Tgk. Muntazar, terlihat juga pedagang dengan jenis barang dagangan yang berbeda.

Satu truk kuning berdinding papan kayu di gerobak belakangnya bermuatan nenas-nenas ranum, di depan mobil itu dijajakan nanas-nanas untuk di jual eceran.

Salah satu pedagang nenas itu bernama Mulyadi, ia juga berasal dari Pidie.

“Harga nanas tersebut kami jual seharga 6-10 ribu per kilogram,” ujarnya.

Mulyadi juga mengatakan, ia dan rekan-rekannya dalam sehari harus menyediakan stok nenas lebih kurang 5000 nanas untuk memenuhi permintaan dari pembeli dari seluruh Aceh Besar.

“Selain dari Tarutung, kadang juga kami ambil nenas dari Seribu Dolok, Brastagi,” kata Mulyadi.

Soal mengapa di Aceh tidak ada dihasilkan nanas, apakah karena tanahnya kurang cocok untuk tanaman nanas, kepada @portalsatu, ia mengatakan, di Aceh tengah dahulu ada nanas dan kulitasnya juga baik. Namun kini, pemberdayaan terhadap tanaman kopi secara besar-besaran dan juga tebu, membuat keberadaan nanas terabaikan.

Lambaro Kota yang Strategis

Suasana Pasar Lambaro pagi itu terlihat sama seperti biasa dengan kesibukan dan kepadatan arus lalu lintas tanpa henti kecuali tengah malam.

Dengan memiliki lataknya yang strategis, Pasar Lambaro dengan sendirinya berfungsi sebagai pasar induk bagi Aceh Besar dan Kota Banda Aceh.

Dari kota ini masyarakat bisa menjangkau ke segala arah, jalur sebelah barat mengarah ke Keutapang, dan ke Meulaboh, arah ke utara mengarah ke Kota Banda Aceh, arah ke utara mengarah ke Bandara Sultan Iskandar Muda, dan arah ke timur mengarah ke Pidie, dan lintasan timur.

Selain Mukhlis, di sisi jalan utama juga terlihat dua mobil pikup standing berjualan buah-buahan di sana, tak jauh dari dua mobil itu di seberang pagar ada sebuah bangunan di atas Area Pasar Percontohan Lambaro.

Di sana telah dibangun satu bangunan kokoh dengan bentuk modern dengan perpaduan warna merah, silver, dan krim, di bawahnya terlihat banyak pakaian-pakaian barang dagangan.[]

Penulis: Jamaluddin