26 Maret 1873, Belanda memaklumkan perang kepada Aceh. Itulah awal kejatuhan imperium Aceh. Sepanjang penaklukan Aceh, Belanda tidak pernah tenang menjalani otoritasnya.  Sepanjang waktu pejuang Aceh tiada henti mengobarkan perang fisabilillah. Atas dasar penaklukan itu pula kini Aceh menjadi bagian NKRI. Aceh sama-sama di jajah Belanda seperti belahan nusantara lainnya.

Namun sejarah tidak boleh ditutupi. Bahwa Aceh berbeda dengan wilayah lain di nusantara. Wilayah lain di nusantara di jajah Belanda lebih 300 tahun. Aceh mengalami hanya kurang dari 50 tahun masa penjajahan. Bila di wilayah lain perang berlangsung tidak lama. Bilapun  kemudian ada perang hanya bersifat sporadis. Tapi di Aceh perang semestalah yang terjadi. Tidak hanya kaum bangsawan yang direbut kuasanya, tapi seluruh rakyat bahu membahu memerangi Belanda.

Maka sejarah mencatat perang Aceh perang yang paling melelahkan bagi Belanda. Paling menguras biaya, dan memakan paling banyak korban. Dengan durasi terpanjang dalam sejarah kolonial manapun di dunia.

Sayangnya sejarah itu kurang dipahami generasi saat ini. Ini disebabkan para pemangku kepentingan adalah orang-orang ahistori. Peristiwa itu nyaris tanpa peringatan apapun yang diprakarsai pemerintah di Aceh. Peringatan itu hanya diperingati kecil-kecilan oleh komunitas tertentu. Pemerintah di Aceh saat ini baik di legislatif dan eksekutif didominasi mantan pejuang GAM. Dahulunya semasa perang mereka selalu mendengungkan jargon “keuneubah indatu“.

Selalu membangkitkan romantisme kegemilangan Aceh di masa lalu. Segala hal heroisme nenek moyang kita. Anehnya kini setelah mereka berkuasa semua itu hilang ditelan bumi. Hampir tidak kita dengar lagi suara lantang mereka tentang Aceh dan kepahlawanan masa lalu. Apakah kursi empuk telah meninabobokan mereka? Apakah suara mereka telah parau oleh makan minum mewah? 

Bukankah amat kontradiktif perilaku mereka saat ini? Bahkan para pemula penggerak GAM kini sibuk mengurus kekuasaannya daripada merenungi apa yang telah mereka janjikan kepada rakyat di masa lalu. Karena janji-janji manis yang ditaburkan, mereka dipercaya dan diikuti bahkan didukung dengan segala pertaruhan oleh rakyat. Banyak rakyat yang kehilangan harta bahkan nyawa.

Saat ini mereka berada di tampuk kekuasaan juga atas dukungan ràkyat. Atas keyakinan rakyat, atas jargon yang dahulu bergema di setiap ruang di masyarakat. Tentu saja mereka diberi kursi empuk untuk dua hal. Pertama untuk mewujudkan apa yang dahulu mereka teriakkan. Kedua rakyat juga berharap diperbaiki nasib kehidupan mereka.

Keduanya punya korelasi. Yaitu karena dulu mereka paling getol menyampaikan kegemilangan Aceh di masa lalu. Maka kini mereka diberi kuasa untuk mewujudkan kegemilangan Aceh seperti pernah dicapai nenek moyang kita.

Kita tidak bisa memahami pola pikir mereka kini. Apakah apa yang pernah mereka sampaikan dahulu hanya sebagai alat manipulatif. Alat bagi mereka untuk mendapat kekuasaan. Bila benar maka semua yang mereka sampaikan dahulu hanya “raket bak pisang“. Tidak penting lagi rakit itu setelah selesai mencapai seberang.

Semoga ini hanya dugaan semata. Mungkin 10 tahun ini mereka sedang menyiapkan sebuah sulap fantastik. Kita akan segera jatuh ke taman surga bak kisah zaman Iskandar Muda. Semoga mereka hanya sedang lupa, bukan sedang melupakan.[]