TAPAKTUAN – Di pinggiran pantai Kampung Baru, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan, ada sekitar 100 orang lebih masyarakat yang menggantungkan hidupnya bekerja mengumpulkan pasir dan kerikil.

Ironisnya, mayoritas dari pekerja tersebut berasal dari kaum perempuan yang terpaksa harus banting tulang di bawah sengatan mata hari demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Mereka harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, meskipun di tempat lain banyak wanita atau ibu rumah tangga yang sibuk dengan kegiatan sendiri bahkan ada juga yang  sibuk dengan dunia maya. 

Karena desakan kebutuhan, suasana nyaman dan santai itu rela mereka tinggalkan. Para perempuan “perkasa” dari Samadua ini, terpaksa banting tulang dan bercucuran keringat demi membantu suami mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup dan masa depan pendidikan anak-anak mereka.

Asmiar, 34 tahun, salah seorang pekerja yang ditemui di lokasi, Jumat, 3 Februari 2017, menuturkan, kegiatan mengumpulkan pasir dan kerikil di pantai Kampung Baru tersebut telah dilakoninya bersama puluhan perempuan lain sejak puluhan tahun silam.

“Saya bekerja seperti ini untuk membantu suami yang juga bekerja di lokasi yang sama demi terpenuhinya kebutuhan hidup keluarga. Tapi ada juga sebagian perempuan lain yang memang benar-benar menggantungkan hidupnya bekerja mengumpulkan pasir dan kerikil karena sudah berstatus janda demi menghidupi anak-anaknya,” ujar Asmiar.

Didampingi rekan-rekannya Lasmi (35) dan Umi (40), Asmiar menceritakan bahwa rutinitas mereka bekerja mengumpulkan pasir dan kerikil setiap harinya dimulai sejak pagi hingga selesai dan tiba di rumah kembali menjelang magrib.

Setiap hari, pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh kalangan laki-laki itu mereka lakoni. Terkadang, ketika sang suami mereka berhalangan datang di lokasi, maka pekerjaan mengumpul pasir dan kerikil itu terpaksa mereka lakukan sendiri. 

“Pekerjaan ini kami lakukan, karena tidak ada pekerjaan lain, sementara anak-anak perlu biaya pendidikan. Saya membantu suami mengumpulkan pasir maupun kerikil, kebetulan hari ini suami saya berhalangan datang, sehingga saya sendiri yang mengumpulkannya,” ucap Asmiar.

Saat ditanya, dalam sehari material mampu dikumpulkan berapa mobil?, Asmiar menjelaskan terkait jumlahnya sangat tergantung kesanggupan mereka melangsir pasir atau kerikil dari pinggir laut ke pinggir jalan setapak yang berjarak sekitar 50 meter dari bibir pantai. Untuk muatan satu mobil pick-up berisi material pasir atau kerikil sebanyak 15 lori.

“Jika kondisi fisik sedang fix, kadang-kadang bisa terkumpul 2 – 3 mobil pick-up ukuran kecil, namun jika sedang tidak fix bisa hanya 1 atau 2 mobil perharinya,” jelasnya.

Selain tergantung kondisi fisik, lanjut dia, pengumpulan material pasir dan kerikil juga sangat tergantung dengan permukaan air laut. Sebab jika ombak sedang besar dan air laut sedang pasang, akan menyulitkan pihaknya dalam mengumpulkan material pasir atau kerikil.

“Sebab jika ingin mendapatkan material pasir atau kerikil kualitas super (yang terbaik) maka para penambang harus mengambilnya dari dalam air laut. Sehingga jika kondisi ombak sedang ganas atau air laut sedang pasang, maka sangat menyulitkan para penambang bekerja,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, untuk satu mobil pick-up ukuran kecil harga pasir atau kerikil sebesar Rp 50.000. Namun jumlah sebesar itu tidak seluruhnya mereka terima, karena ada terjadi pemotongan sebesar Rp 5.000 untuk retribusi yang menjadi Pendapatan Asli Desa (PAD) setempat.[]

Laporan: Hendrik Meukek