Air beriak tanda tak dalam.
Tong kosong nyaring bunyinya.
Kedua ungkapan dengan nada menyindir ini tentu masih cukup kita kenali sebagai pepatah dari khazanah lama. Arti keduanya bermiripan, kurang lebih: orang yang banyak cakap biasanya justru bodoh atau tidak mengerti apa yang menjadi pokok pembicaraan. Tidak mengerti inilah rupanya yang mendorong dia menuturkan banyak cakap angin, omong kosong, tak lain dengan maksud mengelabui belaka.
Barangkali ada yang bertanya, kenapa memperkatakan satu hal mesti memakai bahasa berbunga-bunga, tidak langsung ke pokok soal. Saya kira kita hanya bisa menduga-duga, penuturnya tidak ingin sampai menyinggung perasaan orang lain.
Jangan lupa, ungkapan ini, bersama banyak sekali bentuk sejenis, adalah bagian dari pertuturan biasa sehari-hari dalam masyarakat lama. Yaitu tatkala hubungan sosial masih sangat diwarnai kehangatan. Anehnya, sebagai pertuturan biasa, “selubung” berupa siratan pada bahasa figuratif itu sangat mungkin bukan tidak dimengerti oleh masyarakat bahasa yang bersangkutan. Sembunyi sambil menampakkan diri.
Sindiran pada perumpamaan dari khazanah lama kita itu, seraya memotret perikehidupan di sekitar, membawa pesan tentang adab yang patut dalam hidup bermasyarakat.
Ada lagi jenis ungkapan yang lebih terbuka dan memanfaatkan sarana literer, dalam hal ini rima yang lumayan ketat. Contoh: Biar lambat asal selamat (versi Jawa: Alon-alon waton kelakon), atau Sedikit-demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Tampak oleh kita bahwa pesannya adalah nasihat, yang hari ini bisa jadi malah mengundang tawa. Lebih hidup adalah Siapa cepat dia dapat, atau Waktu adalah uang.
Bandingkanlah dengan peribahasa yang luar biasa ini:
Berburu ke padang datar
dapat rusa belang kaki
Berguru kepalang ajar
bagai bunga kembang tak jadi
Dewasa ini, jangankan memproduksi, sekadar mempergunakan idiom-idiom seperti peribahasa pun sudah semakin ditinggalkan oleh sebagian besar dari kita, penutur bahasa Indonesia.[]
Sumber: (beritagar.id oleh Eko Endarmoko)




