Oleh: Taufik Sentana
Dalam Kumpulan Terbaru Gerbang Musafir

Setiap kita memaknai perjalanan dan penderitaan dengan berbeda. Apakah karena nilai normatif atau subjektifitas tertentu, itu yang membedakan.

Para penempuh dan pencari, pada awalnya masih tersilau oleh gemerlap bahagia dan kegembiraan yang bendawi. Secara bertahap mereka menemukan makna baru bahwa, penderitaan dalam perjalanan, atau perjalanan itu sendiri, memiliki makna yang otonom. Sampai akhirnya dipahami, bukan diketahui, bahwa penderitaan adalah kegembiraan yang tersembunyi, yang terselubung dibalik pencarian diri sendiri.

Perjalanan menjadi dua sisi sungai yang tidak mungkin dipisahkan: itulah derita dan gembira.itulah lapang dan sempit. Perjalanan dan penderitaan tidak mesti mengisahkan kesedihan dan kepahitan. Kandungannya tergantung cara kita mengambil saripati makna. Seperti cara kita menggunakan jeruk purut yang sangat asam: sang bijak, mungkin bersabar akannya dan menjadikannya kompos, atau langsung mengolahnya menjadi sajian jus, atau manisan dan disajikan dengan varian menu lainnya. Begitupun hidup dan perjalanan kita. Penderitaan yang engkau mengerti selama ini hanyalah sisiannya, mungkin sisian terkecilnya saja.[]