Matahari baru saja mengintip di ufuk timur Aceh Utara, namun bagi puluhan anak di Dusun Biram, Gampong Plu Pakam, Kecamatan Tanah Luas, sekolah bukan sekadar perjalanan kaki yang santai. Di depan mereka, aliran Krueng Keureuto yang lebar dan dalam telah menanti—sebuah rintangan alam yang harus ditaklukkan setiap hari sebelum sampai ke bangku kelas.

Tanpa jembatan yang megah, mereka hanya punya satu pilihan: sebuah speedboat tua tanpa mesin. Alat transportasi swadaya hasil patungan warga sejak 2004 ini digerakkan secara manual. Seutas tali melintang di atas sungai, menjadi satu-satunya pegangan hidup yang menarik perahu dari tepi ke tepi.

“Sejak saya kecil, begini jugalah caranya. Bedanya dulu cuma pakai sampan kecil,” kenang Nariman, Kepala Dusun Biram, saat berbincang dengan wartawan, Kamis, 23 April 2026.

Nariman menatap nanar anak-anak yang berdesakan di atas perahu. Wajah-wajah mungil itu tampak terbiasa, meski bahaya mengintai di bawah arus air yang keruh.

Taruhan Nyawa di Balik Angka Rp2 Ribu

[Foto: Fazil/portalsatu]

Bagi sekitar 40 siswa dari Dusun Biram yang bersekolah di SD Negeri 7 Paya Bakong di Gampong Blang Pante, pendidikan bukan sekadar gratis. Orang tua mereka harus menyisihkan Rp2.000 setiap hari untuk biaya penyeberangan pulang-pergi. Bagi masyarakat desa, nominal ini adalah beban tambahan di tengah keterbatasan ekonomi.

Namun, bukan hanya soal rupiah, ini soal keselamatan. Nariman menceritakan momen-momen mencekam saat tali penarik itu putus.

“Pernah kejadian anak-anak tercebur ke sungai. Beruntung saat itu nyawa mereka masih tertolong. Tapi apakah kami harus menunggu ada korban jiwa dulu baru pemerintah bergerak?” tanya Nariman getir.

Jika debit air rendah, mereka terpaksa melintasi sungai dengan berjalan kaki. Akibatnya, seragam dan celana basah kuyup saat tiba di sekolah. Sebaliknya, jika hujan mengguyur dan sungai meluap, pintu ilmu bagi mereka tertutup rapat karena arus yang terlalu ganas untuk diseberangi.

Asa yang Menggantung di Atas Tali

Rina Fariani, salah satu guru di SD Negeri 7 Paya Bakong, mengakui betapa perjuangan fisik ini menguras energi siswanya. Dari 201 murid, 40 anak dari seberang sungai adalah yang paling menderita.

“Kalau air tinggi, mereka telat atau bahkan tidak masuk sama sekali. Kasihan melihat mereka, perjuangannya sangat berat hanya untuk sampai ke sekolah,” ungkap Rina.

Ironisnya, usulan pembangunan jembatan telah diajukan ke Pemkab Aceh Utara sejak 2020. Peninjauan lapangan pun sudah dilakukan bertahun-tahun lalu. Namun, hingga detik ini, janji pembangunan itu seolah hanyut terbawa arus Krueng Keureuto. Harapan warga tetap menggantung, sama seperti tali penarik perahu yang kini sudah mulai usang.

Akses ke pusat Kecamatan Tanah Luas yang mencapai 15 kilometer membuat mereka tak punya pilihan selain menyeberang ke Kecamatan Paya Bakong yang lebih dekat secara geografis, namun jauh secara aksesibilitas.

Menanti Ketukan Hati Pemimpin

Masyarakat Dusun Biram kini hanya bisa berharap suara mereka menembus dinding gedung pemerintahan di Lhoksukon hingga Banda Aceh. Mereka tidak meminta jembatan beton yang mewah, sekadar jembatan gantung yang kokoh sudah cukup untuk memastikan anak-anak mereka pulang ke rumah dalam keadaan selamat.

“Kami berharap perhatian serius dari Pemkab Aceh Utara, Gubernur Aceh, anggota DPRA maupun DPRK. Jangan sampai ada korban jiwa baru kemudian ditindaklanjuti,” ucap Nariman.

Tanpa jembatan itu, setiap pagi di Krueng Keureuto akan tetap menjadi panggung keberanian sekaligus potret pilu pendidikan di pelosok Aceh Utara. Sebuah perjuangan di mana nyawa menjadi taruhan demi secercah harapan di masa depan.[]