BANDA ACEH – Bank Indonesia menyebutkan pertumbuhan ekonomi Aceh masih berada di bawah rata-rata Sumatera dan Nasional. Bahkan, Aceh masih menjadi provinsi dengan perekonomian ketiga terkecil di Sumatera.
Dikutip portalsatu.com/ dari Laporan Perekonomian Provinsi Aceh November 2019, dipublikasikan Bank Indonesia melalui bi.go.id, awal bulan ini, ekonomi Aceh triwulan III-2019 tumbuh 3,76 persen, lebih tinggi dibanding triwulan II yang tumbuh 3,71 persen. “Dengan kinerja pertumbuhan ekonomi tersebut, Aceh masih berada di bawah pertumbuhan ekonomi Sumatera (4,49%, yoy) dan Nasional (5,02%, yoy),” tulis Bank Indonesia.
Bank Indonesia menjelaskan, perekonomian Indonesia pada triwulan III-2019 tumbuh 5,02 persen, relatif sama dengan capaian pertumbuhan triwulan sebelumnya 5,05 persen. Perkembangan tersebut dipengaruhi permintaan domestik yang tetap terjaga dan kinerja sektor eksternal yang membaik di tengah permintaan global dan harga komoditas global yang menurun.
Berbeda dengan relatif stabilnya perekonomian Nasional, pertumbuhan ekonomi Sumatera triwulan III-2019 tercatat tumbuh melambat dari 4,61 persen pada triwulan II menjadi 4,49 persen. Perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut dipengaruhi konsumsi rumah tangga (RT), konsumsi pemerintah dan investasi yang melambat. Di sisi lapangan usaha (LU), perlambatan terjadi pada hampir seluruh LU utama Sumatera, yaitu pertanian, industri pengolahan, pertambangan dan penggalian, serta konstruksi.
Perlambatan ekonomi Sumatera tersebut dialami oleh mayoritas provinsi, di antaranya Sumatera Utara (5,11%, yoy), Riau (2,74%, yoy), Bengkulu (4,95%, yoy), Jambi (4,31%, yoy), Sumatera Selatan (5,67%, yoy), Kepuluan Bangka Belitung (3,05%, yoy), dan Lampung (5,16%, yoy).
Pada triwulan III-2019, perekonomian Aceh tercatat memiliki pangsa 5,61 persen terhadap perekonomian Sumatera. Sumbangan tersebut relatif tidak mangalami banyak perubahan dibanding periode-periode sebelumnya. Dengan proporsi tersebut, Aceh masih menjadi provinsi dengan perekonomian ketiga terkecil di Sumatera setelah Riau dan Kepulauan Bangka Belitung.
Di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi kawasan Sumatera, perekonomian Aceh pada triwulan laporan menunjukan kinerja yang cukup baik, dimana Aceh mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 3,76%(yoy) atau meningkat dibandingkan dengan periode sebelumnya yang hanya sebesar 3,71%(yoy).
Ditinjau dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Aceh pada triwulan III-2019 ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah yang masing-masing memberikan andil pertumbuhan 2,07 persen, 1,26 persen, dan 0,70 persen terhadap pertumbuhan pada triwulan laporan.
Terjaganya momentum pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebagai dampak dari pola konsumsi masyarakat pada saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yakni Idul Adha dan tradisi masyarakat Aceh, yakni Hari Meugang. Selanjutnya, masuknya periode tahun ajaran baru sekolah/perguruan tinggi juga turut memperkuat konsumsi masyarakat. Faktor lain yang menopang kinerja pertumbuhan komponen ini adalah adanya berbagai event nasional dan internasional, di antaranya adalah Pulau Banyak Internasional Festival (23-27 Juli); Banda Aceh Coffee Festival (1-3 Agustus); Festival Danau Lut Tawar (2-4 Agustus); Aceh Culinary Festival (5-7 Agustus); Saman Gayo Alas Festival (18-19 Agustus), serta adanya kegiatan MTQ Nasional (28 Juli-4 Agustus).
Di sisi lain, kredit konsumsi mengalami perlambatan pertumbuhan dari sebesar 5,37 persen di triwulan II-2019 menjadi hanya 3,83 persen pada triwulan laporan. Hal tersebut menjadi penahan pertumbuhan komponen konsumsi rumah tangga, sehingga dengan berbagai faktor tersebut, komponen konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 3,90 persen, relatif sama dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 3,96 persen.
Komponen lain yang menjadi penopang ekonomi pada triwulan III-2019 berasal dari komponen investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto) tercatat tumbuh 6,91 persen, naik dibanding periode sama di tahun sebelumnya yang tumbuh 5,96 persen. Sumber pertumbuhan komponen investasi terutama investasi yang berasal dari asing, yakni Penanaman Modal Asing (PMA).
Lebih lanjut komponen konsumsi pemerintah tercatat tumbuh lebih tinggi pada triwulan laporan (10,58 persen) dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 3,11 persen. Dengan pertumbuhan tersebut, komponen konsumsi pemerintah menjadi penyumbang ketiga terbesar bagi pertumbuhan ekonomi Aceh di triwulan laporan.
Dari sisi lapangan usaha, kinerja ekonomi pada triwulan laporan terutama didorong oleh lapangan usaha pertanian, perdagangan dan konstruksi. Lapangan usaha pertanian tercatat memberikan andil paling besar (1,04 persen) terhadap pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan. Sementara itu, lapangan usaha perdagangan tercatat memberikan andil 0,56 persen.
Di sisi lain, lapangan usaha konstruksi tercatat menjadi kontributor pertumbuhan ekonomi terbesar ketiga dengan konstribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 0,36 persen. Secara andil, lapangan usaha pertanian masih menjadi penyumbang terbesar terhadap perekonomian Aceh. Namun demikian secara pertumbuhan tahunan, lapangan usaha pertanian mengalami perlambatan pertumbuhan pada triwulan laporan. Perlambatan tersebut utamanya berasal dari sublapangan usaha perkebunan seiring dengan melemahnya industri pengolahan kelapa sawit yang menyebabkan lemahnya harga kelapa sawit.
Selanjutnya sama seperti lapangan usaha pertanian, lapangan usaha perdagangan pun memberikan andil pertumbuhan yang besar terhadap perekonomian Aceh, namun mengalami perlambatan kinerja pada triwulan laporan.
Di sisi lain, lapangan usaha konstruksi selain memiliki kontribusi yang besar terhadap perekonomian Aceh, lapangan usaha dimaksud pun mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan. Peningkatan pertumbuhan lapangan usaha konstruksi tersebut didorong berbagai proyek pembangunan, baik itu proyek milik Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, maupun proyek milik swasta.
Kinerja perekonomian Aceh pada triwulan IV-2019 diperkirakan akan meningkat dibanding triwulan laporan. Apabila dilihat dari sisi pengeluaran, komponen konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan ekspor luar negeri diperkirakan akan semakin dominan perannya dalam meningkatkan kinerja ekonomi.
Peningkatan pada komponen konsumsi rumah tangga diperkirakan berasal dari dampak HBKN, yakni Maulid Nabi serta datangnya periode liburan panjang akhir tahun. Selanjutnya, realisasi APBD terdiri dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Kab/Kota (APBK) juga diperkirakan akan lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya seiring dengan berbagai proyek yang berjalan.
Ditinjau dari sisi lapangan usaha, peningkatan diprediksi berasal dari lapangan usaha pertanian, perdagangan, konstruksi serta pertambangan dan penggalian. Faktor pendorong peningkatan di lapangan usaha pertanian terutama berasal dari tanaman perkebunan, yakni kopi dan kelapa sawit. Masuknya masa panen raya kopi dan membaiknya harga Crude Palm Oil (CPO) yang diperkirakan akan diikuti oleh perbaikan harga kelapa sawit diyakini akan menjadi penopang utama pertumbuhan lapangan usaha pertanian.
Dari sisi lapangan usaha perdagangan, peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat pada saat HBKN Maulid Nabi dan periode liburan panjang akhir tahun diperkirakan akan membantu meningkatkan kinerja lapangan usaha perdagangan di triwulan IV-2019. Kondisi tersebut juga didukung oleh adanya perkiraan realisasi anggaran yang meningkat di akhir tahun sehingga meningkatkan kinerja lapangan usaha administrasi pemerintahan.
Pada triwulan IV-2019, prakiraan peningkatan realisasi anggaran pemerintah juga diyakini akan berdampak langsung pada peningkatan kinerja lapangan konstruksi. Melihat pada kondisi tersebut, triwulan IV-2019 perekonomian Aceh diperkirakan akan berada di kisaran 4,30 persen – 4,70 persen.
SISI PENGELUARAN
Dari sisi pengeluaran, andil pertumbuhan ekonomi tertinggi sepanjang triwulan III-2019 berasal dari tiga komponen yakni konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh sebesar 3,90 persen pada triwulan laporan atau relatif sama dengan pertumbuhan pada triwulan II-2019 (3,96 persen). Dengan pertumbuhan tersebut, komponen ini memberikan andil pertumbuhan sebesar 2,07 persen pada pertumbuhan ekonomi.
Selanjutnya, komponen investasi atau PMTB (Pembentukan Modal Tetap Bruto) tumbuh 6,91 persen, lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,96 persen atau memberikan andil 1,26 persen pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Sementara itu, komponen pengeluaran pemerintah terakselerasi dari tumbuh sebesar 3,11 persen pada triwulan II-2019 menjadi tumbuh 10,58 persen pada triwulan laporan dengan kontribusi pada pertumbuhan sebesar 0,70 persen.
Dengan capaian pertumbuhan sebesar 3,76 persen ini, kinerja perekonomian Aceh kembali berada di bawah level pertumbuhan ekonomi Sumatera dan Nasional. Perekonomian Sumatera pada triwulan laporan tercatat tumbuh 4,49%(yoy), sedangkan Nasional tumbuh sebesar 5,02%(yoy).
Konsumsi Rumah Tangga
Secara keseluruhan, pengeluaran konsumsi rumah tangga mencatatkan pertumbuhan yang relatif terjaga dibanding triwulan sebelumnya. Konsumsi rumah tangga pada triwulan III-2019 tumbuh 3,90%(yoy), relatif sama dibanding triwulan sebelumnya (3,96%, yoy). Namun demikian, angka tersebut tercatat lebih tinggi dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya (2,82%, yoy).
Pertumbuhan daya beli masyarakat yang masih terjaga tersebut sejalan dengan peningkatan konsumsi masyarakat pada saat HBKN Hari Raya Idul Adha, yang mana masyarakat Aceh memiliki tradisi dalam menyambut Hari Raya Idul Adha, yakni Hari Meugang. Pada perayaan tersebut, sebagian masyarakat di Aceh khususnya pegawai pemerintah daerah mendapatkan tunjangan dalam bentuk uang tunai.
Di samping itu, dimulainya momentum tahun ajaran baru sekolah/perguruan tinggi juga mendorong kinerja komponen konsumsi rumah tangga seiring dengan meningkatnya pengeluaran untuk biaya pendidikan. Di sisi lain, adanya kegiatan bertaraf nasional seperti MTQ Nasional pada akhir Juli hingga awal Agustus yang mendatangkan ribuan orang ke Aceh juga turut serta menjadi faktor yang menopang kinerja pertumbuhan komponen konsumsi rumah tangga.
Tetap positifnya kinerja konsumsi rumah tangga pada triwulan laporan terkonfirmasi dari meningkatnya nilai berbagai indeks yang digunakan untuk mencerminkan kecenderungan masyarakat untuk konsumsi, dia ntaranya adalah Indeks Penghasilan, Indeks Ekonomi Saat Ini (IKE), dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). Hasil Survei Konsumen yang dilakukan oleh KPw BI Provinsi Aceh menunjukkan bahwa rata-rata Indeks Penghasilan meningkat dari sebesar 123,5 poin pada triwulan II-2019 menjadi 126,0 poin pada triwulan laporan. Sementara itu, IKE dan IKK masing-masing meningkat sebesar 4,60 poin dan 1,00 poin ke level 112,90 dan 113,60.
Pengeluaran konsumsi rumah tangga di Aceh diperkirakan akan lebih tinggi pada triwulan IV-2019 dibandingkan dengan triwulan laporan. Beberapa faktor yang diyakini akan mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan IV-2019 di antaranya adalah peningkatan konsumsi masyarakat seiring dengan perayaan HBKN Maulid Nabi yang mana perayaannya dapat berlangsung selama tiga bulan. Prakiraan peningkatan pola konsumsi yang meningkat pun turut didorong oleh masuknya periode liburan panjang di akhir tahun. Adanya penyelenggaraan beberapa top event wisata di Aceh, seperti Sabang International Freediving Championship (2-9 November), Festival Panen Kopi (23-24 November), Kejurnas Road Race Motor Prix (7-8 Desember), Peringatan 15 Tahun Tsunami Aceh (26 Desember) dan Haul Iskandar Muda (27 Desember) juga diprakirakan memiliki dampak yang positif terhadap pertumbuhan konsumsi rumah tangga.
Selanjutnya, akselerasi realisasi APBA yang diprakirakan terjadi pada triwulan IV-2019 (sesuai dengan pola musimannya) juga diyakini mampu meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat.
Namun demikian, secara keseluruhan tahun 2019, pertumbuhan komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga diperkirakan akan tumbuh lebih lambat dibanding dengan pertumbuhan di tahun 2018. Hal tersebut sejalan dengan melemahnya Nilai Tukar Petani (NTP). Secara year to date (Januari s.d. September 2019), rata-rata NTP di Aceh berada di level 91,99 atau lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata NTP di tahun 2018 yang mencapai 94,73. NTP yang lebih rendah tersebut menggambarkan bahwa pendapatan petani di Aceh pada tahun 2019 secara umum lebih rendah dibandingkan dengan pendapatan yang diterimanya di tahun 2018, sehingga hal tersebut diyakini akan menahan pertumbuhan komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga.
Konsumsi Pemerintah
Kinerja komponen konsumsi pemerintah pada triwulan laporan tercatat mengalami pertumbuhan positif di angka 10,58%(yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (3,11%, yoy). Namun demikian, pertumbuhan tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan di triwulan yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 23,49%.
eningkatan pertumbuhan pada triwulan laporan tersebut sejalan dengan berlanjutnya pembangunan Program Strategis Nasional (PSN) milik pemerintah, diantaranya pembangunan jalan tol Banda Aceh-Sigli dan Bendungan Keureuto di Aceh Utara. Untuk jalan tol Banda Aceh – Sigli, proses pembangunan berlangsung lebih cepat dari rencana, khususnya untuk seksi 4 (Indrapuri – Blang Bintang) yang pada bulan September 2019 fase konstruksi telah mencapai 57,71%.
Lebih lanjut, adanya penyaluran tunjangan uang meugang untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Daerah Aceh di Hari Raya Idul Adha juga turut diyakini mendorong komponen konsumsi pemerintah.
Selanjutnya, belanja pemerintah khususnya untuk komponen belanja barang dan jasa serta belanja lainnya tercatat mengalami peningkatan realisasi pada triwulan laporan dengan masing-masing mencapai 42,2% dan 106,05% dari pagu keseluruhan atau setara dengan Rp5,31 triliun dan Rp971,20 miliar. Dengan realisasi tersebut, pada triwulan laporan komponen konsumsi pemerintah memiliki andil sebesar 0,70% atau sedikit meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang memberikan andil 0,69%.
Pada triwulan IV-2019 konsumsi pemerintah diperkirakan akan mengalami peningkatan dibanding triwulan sebelumnya sejalan dengan tracking pada bulan November2 2019, konsumsi Pemerintah Provinsi Aceh (APBA) tercatat telah mencapai 63,3%, lebih tinggi dibanding periode yang sama di tahun 2018 sebesar 60%. Peningkatan konsumsi pemerintah daerah pada triwulan IV-2019 seiring dengan realisasi belanja anggaran yang masih rendah hingga triwulan III-2019 sehingga diperkirakan akan terakumulasi pada triwulan IV tahun ini.
Pada triwulan I-2019 dan triwulan II-2019, kegiatan pengadaan berbagai proyek telah mulai dilaksanakan, kemudian pada triwulan III-2019 realisasi pembangunan dari proyek-proyek tersebut mulai terealisasi, sehingga diperkirakan pembangunan proyek tersebut akan dipercepat prosesnya pada triwulan IV-2019.
Sejalan dengan perkiraan adanya akselerasi yang terjadi di triwulan IV-2019, komponen pengeluaran konsumsi pemerintah secara keseluruhan tahun 2019 pun diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan di tahun 2018. Hal tersebut seiring dengan adanya peningkatan pagu belanja pemerintah daerah dalam lingkup Aceh (APBA dan APBD) yang pada tahun 2019 tercatat sebesar Rp47,78 triliun, lebih tinggi dibandingkan dengan pagu tahun sebelumnya di angka Rp43,06 triliun.
Pembentukan Modal Tetap Bruto (Investasi)
Komponen investasi pada triwulan laporan tumbuh sebesar 6,91%(yoy), lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,96%(yoy). Angka pertumbuhan tersebut juga tercatat lebih tinggi dibanding capaian di triwulan yang sama di tahun sebelumnya yang terkontraksi 1,53%(yoy) (Grafik 1.6). Dengan capaian tersebut, komponen investasi memberikan andil 1,26% pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan di triwulan laporan, naik dibanding triwulan sebelumnya yang memberikan andil 1,14%.
Adanya peningkatan kinerja dari komponen tersebut seiring dengan telah berakhirnya wait and see investor pada saat pelaksanaan pemilihan umum presiden dan anggota legislatif yang terjadi pada triwulan sebelumnya.
Pada triwulan III-2019, investasi asing (Penanaman Modal Asing/PMA) menjadi motor penggerak utama peningkatan investasi di Aceh. PMA pada triwulan laporan tercatat tumbuh sebesar 1.298%(yoy), meningkat signifikan dibandingkan pada triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar 74%(yoy). Secara nominal, PMA pada triwulan laporan mencapai USD80,52 juta, meningkat signifikan dibandingkan periode sebelumnya yang hanya USD11,89 juta.
Peningkatan PMA tersebut utamanya berasal dari investasi yang cukup besar di lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum, khususnya hotel yang mencapai USD70,30 juta atau 87,30% dari total PMA pada triwulan laporan.
Peningkatan investasi tersebut terkonfirmasi dari hasil survei liaison Kantor Bank Indonesia Provinsi Aceh yang tercermin dari nilai likert scale investasi yang meningkat. Likert scale investasi pada triwulan III-2019 tercatat sebesar 0,93 atau naik 0,20 poin dari posisinya di periode sebelumnya sebesar 0,73.
Namun demikian, di tengah akselerasi kinerja PMA yang signifikan, investasi domestik yang tercermin dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) memiliki pertumbuhan yang tidak sekuat PMA. Pada triwulan III-2019, PMDN di Aceh tercatat sebesar Rp433,04 miliar atau tumbuh sebesar 18,53%(yoy).
Memasuki triwulan IV tahun 2019, investasi di Aceh diperkirakan akan tetap tumbuh positif namun tidak sekuat triwulan sebelumnya. Perlambatan pada triwulan IV-2019 tersebut sejalan dengan adanya pembatasan kegiatan eksplorasi migas salah satu perusahaan swasta di Aceh sebagai dampak dari keputusan manajemen untuk memindahkan sebagian biaya ke perusahaan yang sama di wilayah lain.
Namun demikian secara keseluruhan tahun 2019, pertumbuhan komponen investasi di Aceh diperkirakan akan lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2018. Peningkatan pertumbuhan tersebut diyakini didorong oleh peningkatan investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Lhokseumawe yang ditopang dengan pendirian pabrik NPK (Nitrogen, Phosphat, Kalium) baru yang telah dimulai pada awal tahun 2019 dan akan berlanjut hingga tahun 2020.
Sementara itu, adanya kelanjutan pembangunan berbagai program strategis nasional, khususnya pembuatan jalan tol sepanjang Banda Aceh hingga Sigli diperkirakan akan mampu membantu menopang pertumbuhan investasi pada tahun 2019. Sampai dengan Oktober 2019, kegiatan pembangunan jalan tol tersebut masih terfokus pada penyelesaian seksi 3 dan seksi 4, dari Jantho ke Blangbintang yang kemudian menuju Indrapuri.
Selanjutnya, terdapat juga program strategis nasional berupa pembangunan Waduk Keureuto yang sampai dengan saat ini masih dalam proses penyelesaian bagian bendungan inti. Beberapa investasi dari pihak swasta juga diprakirakan akan mendorong tingkat investasi secara keseluruhan, seperti pengembangan investasi di lapangan usaha pertambangan dan penggalian, penyediaan akomodasi dan makan minum, serta industri pengolahan.
Selain proyek dari Pemerintah Pusat dan swasta, Pemerintah Daerah pun sepanjang tahun 2019 ini memiliki berbagai macam proyek dengan jumlah sebanyak 1.604 paket kegiatan pengadaan barang/jasa dengan total nilai sekitar Rp 3,04 triliun.
Ekspor-Impor
Kinerja ekspor Provinsi Aceh pada triwulan III-2019 tercatat tumbuh 26,97%(yoy), lebih tinggi dibanding dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang berada di angka 24,44%(yoy). Total ekspor Aceh sejak awal tahun hingga triwulan III2019 tercatat sebesar USD241,41 juta yang utamanya berasal dari ekspor komoditas bahan bakar mineral (batubara) dan komoditas kopi.
Ekspor komoditas batubara dari Aceh secara akumulasi sejak awal tahun hingga triwulan laporan tercatat sebesar USD115,02 juta, meningkat 21,33% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya yang tercatat sebesar USD94,79 juta. Peningkatan ekspor komoditas tersebut utamanya berasal dari peningkatan permintaan India sebagai konsumen batubara terbesar ke dua di dunia. Meningkatnya permintaan batubara dari India tersebut seiring dengan ekspansi produksi baja domestik yang mana dalam industri tersebut terdapat restriksi penggunaan petroleum coke sehingga mendorong peralihan ke coking coal (batubara). Selain itu, saat ini India sedang membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang memiliki kapasitas sebesar 39 Gigawatt (GW) yang akan menggunakan batubara sebagai salah satu sumber energi utamanya.
Namun demikian, terdapat penurunan harga batubara di pasar internasional pada triwulan III-2019 dan dijual dengan rata-rata harga pada level $62,36 per metric ton atau menurun dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya ($71,85 per metric ton).
Lebih lanjut, kinerja ekspor luar negeri Aceh juga didukung oleh peningkatan ekspor untuk komoditas kopi. Sampai dengan triwulan III-2019, komoditas kopi yang di ekspor ke luar negeri mencapai USD91,26 juta atau meningkat cukup signifikan sebesar 70,13% dibanding nilai ekspor di tahun sebelumnya yang berada di angka USD53,64 juta. Peningkatan ekspor kopi tersebut seiring dengan melimpahnya pasokan biji kopi di tahun 2019 sebagai dampak dari kondisi cuaca dan alam yang lebih mendukung dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Secara umum, dengan pertumbuhan sebesar 26,97%(yoy) pada triwulan laporan, maka ekspor Aceh memberikan kontribusi sebesar 0,12% terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh secara keseluruhan pada triwulan III-2019. Komponen impor luar negeri pada triwulan III-2019 tercatat tumbuh lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya maupun triwulan yang sama di tahun sebelumnya. Jenis barang impor yang mendominasi pada triwulan laporan didominasi oleh mesin dan peralatan listrik.
Pada triwulan III-2019, Aceh tercatat mengimpor barang senilai USD76,45 juta yang berarti sampai dengan triwulan laporan, total impor barang Aceh adalah sebesar USD122,90 juta. Sumber impor paling dominan berasal Eropa khususnya untuk komoditas mesin dan peralatan listrik. Nilai impor komoditas tersebut mencapai USD107,31 juta atau setara dengan 87,31% dari total nilai impor Aceh (year to date).
Secara umum, Peningkatan nilai impor tersebut menjadi penekan bagi pertumbuhan ekonomi triwulan laporan. Namun demikian, adanya impor barangbarang berupa mesin dan peralatan listrik tersebut memberikan sinyal positif bahwa beberapa perusahaan sedang bersiap-siap untuk melakukan akselerasi produksi di masa yang akan datang, yang mana akan mendorong pertumbuhan ekonomi ke level yang lebih tinggi.
Pada triwulan IV-2019, pertumbuhan ekspor diproyeksikan akan mengalami peningkatan. Sementara pertumbuhan impor akan mengalami perlambatan. Peningkatan ekspor tersebut diperkirakan utamanya akan didorong oleh peningkatan ekspor kopi, batubara, dan CPO. Prakiraan meningkatnya eskpor kopi pada triwulan IV-2019 seiring dengan masuknya masa panen raya komoditas kopi pada bulan Oktober di wilayah sentra kopi gayo, yakni di Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Selain adanya peningkatan volume, harga komoditas kopi pun menunjukan adanya perbaikan.
Pada dua bulan pertama di triwulan IV-2019, rata-rata harga jual komoditas kopi arabika di pasar internasional mencapai angka BRL437,25 per Bag, meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang berada di angka BRL 422,00 per Bag.
Selanjutnya, prakiraan peningkatan ekspor komoditas batubara sejalan dengan meningkatnya permintaan dari India sebagai konsumen utama batubara Aceh. Peningkatan tersebut sejalan dengan ekspansi industri baja domestik yang diringi dengan pengalihan penggunaan sumber energi dari petroleum coke ke coking coal. Di sisi lain, harga komoditas batubara pun pada paruh pertama triwulan laporan mengalami peningkatan, yang sebelumnya berada di level USD62,42/MT menjadi USD65,23 MT.
Lebih lanjut, prakiraan peningkatan ekspor Aceh pun didorong oleh adanya ekspor perdana komoditas CPO yang dilakukan di Aceh Jaya sebanyak 4.900 MT pada Oktober 2019 serta yang dilakukan di Lhokseumawe sebanyak 5.442 MT pada November 2019. Ekspor komoditas tersebut baik dari Aceh Jaya maupun Lhokseumawe ditujukan ke negara India. Secara keseluruhan tahun 2019, pertumbuhan komponen pengeluaran ekspor luar negeri Aceh diperkirakan akan lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2018.
Hal tersebut utamanya disebabkan oleh akselerasi ekspor dari komoditas batubara seiring dengan target produksi tahun 2019 yang mencapai 8 juta metric ton, meningkat signifikan dibandingkan dengan produksi di tahun 2018 (5 juta metric ton). Selain itu, komoditas kopi pun diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekspor luar negeri dikarenakan kondisi cuaca di wilayah Dataran Tinggi Gayo (DTG) pada tahun ini relatif lebih baik dibandingkan dengan cuaca tahun sebelumnya, sehingga dapat menghasilkan produksi kopi yang lebih banyak dan lebih berkualitas.
Selanjutnya, ekspor perdana komoditas CPO yang dilakukan di tahun 2019 pun diperkirakan mampu mendorong pertumbuhan ekspor luar negeri ke level yang lebih tinggi. Sejalan dengan ekspor luar negeri yang meningkat, komponen impor luar negeri pun secara keseluruhan di tahun 2019 diperkirakan akan mengalami peningkatan. Hal tersebut dikarenakan oleh adanya impor mesin/peralatan listrik yang cukup besar sejalan dengan adanya ekspansi perusahaan swasta khususnya di lapangan usaha industri pengolahan di wilayah Aceh.
SISI LAPANGAN USAHA
Peningkatan kinerja ekonomi pada triwulan laporan utamanya bersumber dari lapangan usaha konstruksi serta pertambangan dan penggalian. Secara andil terhadap pertumbuhan, lapangan usaha pertanian; perdagangan; dan konstruksi adalah lapangan usaha dengan andil tertinggi terhadap pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan. Masing-masing lapangan usaha memberikan kontribusi sebesar 0,53%; 0,29%; dan 0,18% secara berurutan terhadap perekonomian.
Tingginya andil pertumbuhan dari tiga lapangan usaha tersebut sejalan dengan besarnya distribusi terhadap perekonomian Aceh pada triwulan laporan. Lapangan usaha pertanian memberikan distribusi sebesar 30,4% dari total perekonomian Aceh, sementara lapangan usaha perdagangan serta konstruksi masing-masing memberikan distribusi sebesar 15,7% dan 10,0%.
Namun demikian secara pertumbuhan tahunan, lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan yang meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya adalah lapangan usaha konstruksi dan lapangan usaha pertambangan dan penggalian.
Lapangan usaha Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kinerja lapangan usaha pertanian pada triwulan III-2019 secara umum masih tumbuh positif di angka 4,01%(yoy). Namun demikian, angka pertumbuhan tersebut lebih lambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang berada di level 4,26%(yoy). Pada triwulan III-2019 lapangan usaha pertanian tercatat tumbuh 4,01%(yoy) atau mengalami sedikit perlambatan dibanding triwulan sebelumnya (4,26%, yoy). Perlambatan pertumbuhan tersebut utamanya seiring dengan belum membaiknya harga rata-rata komoditas CPO pada triwulan laporan sehingga berdampak terhadap harga komoditas sawit yang belum setinggi tahun sebelumnya.
Selanjutnya, melambatnya pertumbuhan lapangan usaha pertanian pada triwulan laporan juga disebabkan oleh penurunan realisasi panen padi. Pada triwulan III-2019, realisasi luas panen padi di Aceh tercatat sebesar 71,04 ribu Ha atau lebih rendah dibandingkan dengan luas panen pada triwulan sebelumnya (83 ribu Ha). Dengan hasil pertumbuhan tersebut, lapangan usaha pertanian tercatat memberikan kontribusi terhadap perekonomian Aceh sebesar 0,53%.
Kondisi kinerja lapangan usaha pertanian pada triwulan laporan yang lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya juga terkonfirmasi dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang lebih rendah. Rata-rata NTP pada triwulan laporan adalah sebesar 90,71, lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang berada di level 91,47.
Pada triwulan IV-2019, lapangan usaha pertanian diproyeksikan akan mengalami peningkatan kinerja dibanding dengan triwulan sebelumnya. Peningkatan tersebut diperkirakan bersumber dari adanya peningkatan kinerja pada sublapangan usaha perkebunan dan hortikultura. Sublapangan usaha perkebunan diperkirakan memiliki kinerja positif di triwulan IV-2019, khususnya didorong oleh kinerja komoditas kopi dan kelapa sawit. Prakiraan meningkatnya produksi kopi pada triwulan IV-2019 seiring dengan masuknya masa panen raya komoditas kopi pada bulan Oktober di wilayah sentra kopi gayo, yakni di Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues.
Selain kopi, komoditas kelapa sawit pun diperkirakan akan turut mendorong kinerja sub lapangan usaha perkebunan. Meningkatnya kinerja komoditas kelapa sawit diyakini seiring dengan adanya perbaikan harga komoditas CPO di pasar internasional, sehingga akan turut mendorong harga kelapa sawit sebagai bahan baku.
Berdasarkan tracking hingga akhir bulan November 2019, harga komoditas CPO di pasar internasional secara rata-rata di triwulan IV-2019 berada di angka USD499,2 per MT, meningkat dibandingkan dengan rata-rata harga di triwulan sebelumnya di level USD484,54 per MT. Secara keseluruhan tahun 2019, kinerja lapangan usaha pertanian diperkirakan tumbuh relatif stabil dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Faktor pendorong pertumbuhan berasal dari meningkatnya target produksi komoditas padi (dalam bentuk gabah) di tahun laporan menjadi sebesar 2,7 juta ton dari produksi tahun sebelumnya (2,5 juta ton).
Selanjutnya, produksi komoditas kopi yang diperkirakan lebih besar dibandingkan dengan tahun sebelumnya diyakini turut mendorong pertumbuhan lapangan usaha pertanian. Namun demikian, penurunan kinerja industri CPO di tahun laporan turut menekan harga komoditas kelapa sawit sebagai bahan baku sehingga menahan laju pertumbuhan lapangan usaha pertanian secara keseluruhan.
Lapangan Usaha Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
Lapangan usaha perdagangan pada triwulan laporan tercatat mengalami pertumbuhan namun melambat dibanding dengan triwulan sebelumnya. Lapangan usaha perdagangan pada periode laporan tumbuh 1,39%(yoy), melambat dibanding pertumbuhan triwulan sebelumnya (6,84%, yoy). Angka tersebut juga tercatat lebih rendah apabila dibanding dengan capaian di periode yang sama tahun sebelumnya (3,18%, yoy).
ecara umum, perlambatan kinerja lapangan usaha perdagangan pada triwulan ini sejalan dengan pola historisnya yang mana pola belanja konsumen mengalami normalisasi pasca tingkat belanja yang tinggi di triwulan sebelumnya, tepatnya di perayaan Ramadan dan HBKN Hari Raya Idul Fitri. Perlambatan tersebut terkonfirmasi salah satunya dari angka penjualan kendaraan bermotor.
Pada triwulan III-2019, penjualan kendaraan bermotor di Provinsi Aceh tercatat hanya tumbuh rata-rata sebesar 4,87% per bulan di triwulan laporan, jauh lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan di triwulan sebelumnya yang mencapai 29,64% per bulan.
Pada triwulan IV-2019 lapangan usaha perdagangan diperkirakan akan meningkat dibanding triwulan sebelumnya. Perkiraan meningkatnya kinerja lapangan usaha perdagangan pada triwulan IV-2019 sejalan dengan adanya perkiraan peningkatan pada konsumsi rumah tangga. Belanja rumah tangga pada triwulan IV-2019 diyakini meningkat seiring dengan perayaan HBKN Maulid Nabi yang mana perayaannya dapat berlangsung selama tiga bulan. Prakiraan peningkatan pola konsumsi yang meningkat pun juga turut didorong oleh masuknya periode liburan panjang di akhir tahun. Adanya penyelenggaraan beberapa top event wisata di Aceh, seperti Sabang International Freediving Championship (2-9 November), Festival Panen Kopi (23-24 November), Kejurnas Road Race Motor Prix (7-8 Desember), Peringatan 15 Tahun Tsunami Aceh (26 Desember) dan Haul Iskandar Muda (27 Desember) juga diprakirakan memiliki dampak yang positif terhadap pola belanja masyarakat.
Selanjutnya, akselerasi realisasi APBA yang diprakirakan terjadi pada triwulan IV-2019 (sesuai dengan pola musimannya) juga diyakini mampu meningkatkan pendapatan masyarakat yang pada akhirnya akan membuat pola belanja masyarakat meningkat. Sejalan dengan perkiraan positifnya kinerja di akhir tahun, secara keseluruhan tahun 2019 pun lapangan usaha perdagangan diperkirakan memiliki kinerja positif dibandingkan dengan tahun 2018. Hal tersebut seiring dengan adanya peningkatan rata-rata indeks pengeluaran untuk konsumsi barang tahan lama dari sebesar 125,70 di tahun 2018 menjadi sebesar 129,6 di tahun 2019.
Lapangan usaha Konstruksi
Secara umum pada triwulan III-2019, kinerja lapangan usaha konstruksi mengalami peningkatan dibanding dengan triwulan sebelumnya. Pada triwulan laporan, lapangan usaha konstruksi tumbuh sebesar 3,07%(yoy), naik cukup signifikan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang terkontraksi 0,69%(yoy). Capaian pertumbuhan tersebut juga tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya (tumbuh 3,07%, yoy).
Adanya peningkatan kinerja lapangan usaha konstruksi seiring dengan adanya kelanjutan pembangunan berbagai Program Strategis Nasional (PSN) pada triwulan laporan, khususnya pembuatan jalan tol sepanjang Banda Aceh hingga Sigli. Lebih lanjut, terdapat pula pembangunan Waduk Keureuto yang masih berjalan pada triwulan laporan. Selain proyek dari pemerintah daerah atau pemerintah pusat, investasi bangunan dari pihak swasta pun meningkat pada triwulan laporan. Investasi fisik dari pihak swasta pada triwulan laporan diantaranya adalah pembangunan pabrik pupuk di wilayah Lhokseumawe, pembangunan hotel di Banda Aceh dan wilayah Tengah Aceh, serta pembangunan mall di Banda Aceh.
Lapangan usaha Konstruksi pada triwulan IV-2019 diperkirakan akan mengalami peningkatan kinerja dibanding triwulan sebelumnya. Peningkatan pertumbuhan tersebut didorong oleh akselerasi realisasi berbagai proyek pembangunan, khususnya dari pemerintah daerah. Hal tersebut sejalan dengan realisasi anggaran belanja pemerintah daerah (APBA+APBK), khususnya komponen belanja modal yang mana hingga triwulan III-2019 komponen tersebut baru terealisasi sebesar 28,02%.
Dengan realisasi tersebut, maka diperkirakan realisasi belanja modal pemerintah daerah akan digenjot pada akhir tahun yang pada akhirnya diyakini akan meningkatkan kinerja lapangan usaha konstruksi. Pembangunan proyek dengan dana dari pemerintah pusat pun seperti jalan tol Banda Aceh – Sigli dan Bendungan Keureuto akan tetap berlanjut di triwulan IV-2019.
Lebih lanjut, proses pembangunan pihak swasta utamanya dari lapangan usaha industri pengolahan, penyediaan akomodasi dan makan minum, serta perdagangan besar dan eceran pun diyakini akan terus berlanjut di akhir tahun 2019 sehingga diperkirakan akan mampu mendorong kinerja lapangan usaha konstruksi secara keseluruhan.
Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian
Pada triwulan laporan, kinerja lapangan usaha pertambangan dan penggalian tercatat tumbuh 4,36%(yoy), lebih tinggi dibanding dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh 3,60%(yoy). Berdasarkan komponen penyusunnya, peningkatan kinerja lapangan usaha ini berasal dari akselerasi sublapangan usaha pertambangan dan penggalian non migas.
Pertumbuhan sublapangan usaha pertambangan dan penggalian non migas pada triwulan laporan tercatat sebesar 12,09%(yoy), lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya (9,83%, yoy). Akselerasi kinerja tersebut utamanya berasal dari adanya peningkatan produksi komoditas batubara pada triwulan laporan, sejalan dengan peningkatan permintaan dari pasar luar negeri (ekspor).
Peningkatan permintaan komoditas tersebut utamanya berasal dari India sebagai konsumen batubara terbesar ke dua di dunia. Meningkatnya permintaan India seiring dengan ekspansi produksi baja domestik yang mana dalam industri tersebut terdapat restriksi penggunaan petroleum coke sehingga mendorong peralihan ke coking coal (batubara). Selain itu, saat ini India sedang membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang memiliki kapasitas sebesar 39 Gigawatt (GW) yang akan menggunakan batubara sebagai salah satu sumber energi utamanya.
Namun demikian, peningkatan produksi tersebut belum diiringi dengan peningkatan harga, karena pada triwulan III-2019 harga komoditas batubara di pasar internasioal dijual dengan rata-rata harga pada level $62,36 per metric ton atau menurun dibandingkan triwulan sebelumnya ($70,69 per metric ton). Hal tersebut menyebabkan pertumbuhan lapangan usaha pertambangan dan penggalian secara keseluruhan tidak dapat lebih tinggi lagi dan tertahan di level 4,36%(yoy).
Lapangan usaha pertambangan dan penggalian pada triwulan IV-2019 diperkirakan akan mengalami perbaikan ditengah perbaikan harga batubara. Perbaikan kinerja lapangan usaha pertambangan dan penggalian di triwulan IV-2019 utamanya diyakini akan didorong oleh performa komoditas batubara. Tracking harga batubara di pasar internasional hingga akhir bulan November 2019 memperlihatkan adanya tandatanda perbaikan harga komoditas tersebut. Pada bulan Oktober dan November 2019, rata-rata harga batubara tercatat sebesar USD 65,23 per MT, naik dibandingkan dengan periode sebelumnya di level USD62,36 per MT.
Secara keseluruhan tahun 2019, produksi batubara diperkirakan akan naik seiring dengan adanya perkiraan kenaikan produksi dari 5 juta MT pada tahun 2018 menjadi kisaran 8 juta MT pada tahun 2019. Selanjutnya, lifting gas bumi pun di tahun 2019 diperkirakan akan meningkat dibandingkan dengan tahun 2018, dari sebesar 18.720 MMSCF menjadi sebesar 34.193 MMSCF. (Selengkapnya lihat Laporan Perekonomian Provinsi Aceh November 2019)[](*/nsy)







