Rasa bahagia ataupun kebahagian merupakan kodrat asasi yang disediakan Pencipta (Allah SWT) kepada kita. Disediakan bermakna, mudah diakses dan berlimpah. Di samping lengkapnya sarana yang telah kita terima, berupa akal, perasaan, pendengaran ,penglihatan dan alam eksternal yang memungkinkan untuk dieksplor.
Bila kita belajar dari betapa bahagianya Nabi adam dan Istrinya di surga, lalu tergelincir karena kelalaian dan dosa. Sehingga menyebabkan mereka mesti “bersusah-susah” di dunia untuk kemudian selalu terus diuji sepanjang waktu.
Tapi, penyelasan dan rasa bersalah Nabi Adam serta kalimat taubat yang ia terima menjadikan Rahmat Allah tetap ada di dunia, keduanya (kita) tetap akan bisa merasa bahagia di dunia, (bahagia yang temporer, “mata'un ila hin”), yang muncul dari rasa gembira dan kesenangan dalam menyelaraskan diri dengan aktivitas hidup.
Maka kita tetap berusaha agar kebahagiaan kita yang kecil dan temporer di dunia ini tidak dirusak oleh prilaku kita sendiri dengan melanggar batasan ilahi dan norma universal. Sebab itu akan berdampak pada sunnatullah (hukum alam) yang memghambat bahagia itu datang.
Taufik Sentana.
Peminat Kajian Psikologi Populer
Catatan Bahagia Setiap Saat (3)


