BENER MERIAH – Pantan Senaku adalah salah satu desa yang berada di kecamatan pintu Rime Gayo. Pantai ini berjarak lebih kurang 15 km dari jalan lintas Banda Aceh-Medan. Masyarakat Pantan Senaku kebanyakan dihuni oleh pendatang yang berasal dari luar Aceh.

Setidaknya demikian catatan administrasi yang didapat penulis hingga Rabu, 25 Januari 2017.
Seluruh masyarakat Pantan Senaku bermata pencaharian di bidang perkebunan, khususnya kopi. Jenis kopi yang dihasilkan petani Senaku beragam, mulai dari kopi robusta, sampai ke legenda kopi long berry. 

Perjalanan untuk mencapai Pantan Senaku menghabiskan waktu lebih kurang 40 menit dari jalan raya. Pemandangannya begitu indah dengan hamparan kebun kopi yang melegenda, sepeti Long Berry. Sayangnya akses jalan disini masih berbatu. Selain itu, akses jalan disini juga licin sehingga jika musim penghujan akan membuat para petani kesulitan menjual hasil kebunnya.

Di musim penghujan, aktivitas masyarakat Pantan Senaku menjadi lumpuh total. Sepeda motor para petani tak mampu menembus hamparan kerikil tajam dan licin. Saat-saat seperti ini, tidak banyak kegiatan yang dapat dilakukan pekebun, selain membersihkan kopi yang sudah mengering.

Hal ini diakui Yusril, salah satu pekebun di Pantan Senaku. Dia menyebutkan  program perencanaan pengaspalan jalan sudah diusulkan dari tahun 2008. Namun, sayangnya sampai saat ini akses jalan yang menghubungkan Desa Pantan Sinaku dengan Desa Jelebok belum terlaksana dengan baik. 

Padahal, jenis kopi yang dihasilkan masyarakat Pantan Sinaku memiliki nilai harga jual tinggi. Jenis kopi Timtim  atau lebih dikenal dengan sebutan Long Berry menjadi primadona di kawasan ini yang laku dijual seharga Rp50 ribu hingga Rp55 ribu per kilogram.

Selain akses jalan yang buruk, masyarakat Pantan Senaku juga belum memiliki fasilitas jaringan telekomunikasi dan listrik yang merata.

Fakta di lapangan ini diakui Dr. Muttaqin Mansur, SH., MH, seorang dosen Universitas Syiah Kuala yang sedang membimbing mahasiswa program Kuliah Kerja Nyata. Muttaqin mengatakan keindahan perkebunan kopi di Pantan Senaku adalah sebuah anugerah dari Allah SWT. Namun, akses jalan yang belum memadai membuat para pekebun dan masyarakat kesulitan. 

“Apabila turun hujan, akses jalan menuju ke jalan lintas mati total karena disebabkan medan jalan yang licin,” katanya.

Masyarakat mengharapkan adanya perhatian pemerintah untuk pengerasan akses jalan yang menghubungkan desa Pantan Senaku dengan Desa Jilebok. Akses jalan ini diharapkan bisa mempermudah warga untuk memasarkan hasil perkebunan mereka.

Laporan: Muhammad Rizayani Alumni Psp Unsyiah, Ketua Asrama Mahasiswa Pidie.