SUBULUSSALAM – Sarwono, 30 tahun, warga Kampung Makmur Jaya, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam mengaku sangat senang setelah harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani naik Rp1.400 perkilogram. Sementara sebelumnya, harga TBS kelapa sawit berkisar antara Rp1.200 hingga Rp1.280 perkilogram.
“Saya bersyukur sekali harga sawit kembali naik, ini sangat menggembirakan bagi saya selaku petani karena kebutuhan hidup selama ini bergantung dari usaha kebun sawit,” kata Sarwono kepada portalsatu.com, Minggu, 20 November 2016.
Sarwono merupakan penduduk asal Jawa yang sudah menetap di Kampung Makmur Jaya atau yang sering disebut Bakal Buah. Di sana ia tinggal bersama ratusan warga Jaya lainnya, yang sudah puluhan tahun berdomisili di Bumi Sada Kata dan sudah menjadi warga Kota Subulussalam.
“Rata-rata kami yang tinggal di Bakal Buah ada kebun sawit walaupun tidak luas, minimal satu hektare ada,” kata Sarwono, saat ditemui di sela-sela mendodos (memanen) sawit milik majikannya.
Selain mengurus kebun sendiri, keseharian ia juga bekerja mendodos sawit warga lainnya untuk menambah pendapatan ekonomi keluarga. Pasalnya ia mengaku hanya memiliki sekitar satu hektare kebun sawit.
“Ya saya cuma punya kebun sedikit, kalau punya kebun luas pasti saya urus kebun sendiri saja. Apalagi harga TBS sekarang sudah naik lagi, lumayan Rp1.400 perkilogram,” katanya.
Namun, di saat harga sawit naik, kondisi buah justru mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya. Hal ini biasa terjadi akibat faktor cuaca menyebabkan produktivitas panen mengalami naik turun.
“Ada beberapa tempat saya panen, buah mengalami penurunan. Kebun warga di Penanggalan Barat itu cuma Rp500 kilogram. Biasa sebelumnya bisa mencapai Rp800 kilogram sekali panen,” katanya.[]



