LHOKSUKON – Pinang muda diasapi atau sale yang disebut pineung nyen menarik perhatian peserta pertemuan penyuluh dan expo komoditi unggulan di Gedung Panglateh, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, Rabu, 14 Desember 2016. Ada pula olahan pineung nyen yang dicampur telur dan kopi untuk “menambah” stamina.
Pineung nyen merupakan salah satu komuditi unggulan yang dipamerkan dalam pertemuan 298 penyuluh dari 27 kecamatan se-Aceh Utara. Pineung nyen itu pun “diserbu” para penyuluh. Selain itu juga dipamerkan padi, bawang merah, jahe putih, salak, mangga, dan bawang merah. Aneka olahan makanan, dan ikan, serta kambing berukuran besar di bidang peternakan.
Pertemuan itu dalam rangka menyukseskan Penas KTNA XV 2017 Aceh.
Penyuluh penting
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Dr. Ir. Agus Sabti, M.Si., yang hadir sebagai pemateri menyebutkan, sukses itu adalah kemampuan untuk mencapai tujuan diri, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Faktor penyebab kemiskinan bukanlah modal, tapi karena tidak kreatif.
“Selama ini ada daerah yang menganggap penyuluh tidak penting, alokasi anggaran kecil, dan itu lebih parah dari sebelumnya, teknis. Sementara daerah yang menganggap penyuluh penting, maka menjadi otonom dan anggaran pun semakin besar. Sehingga lebih banyak berkontribusi meningkatkan penguatan kompetensi petani di lapangan,” ujarnya.
Agus Sabti menyebutkan, seandainya alokasi anggaran kecil, maka lebih baik ke teknis. Di bawah teknis punya anggaran khusus dan bisa diimplementasikan. Namun seandainya di teknis tetap dianggap sub-koordinat, maka di sini penyuluh akan terkebiri lagi.
Dalam hal ini, kata Agus, dibutuhkan kebijakan pimpinan daerah. “Penyuluh itu sangat penting untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Saya optimis dengan catatan visi harus sejalan dengan pemda,” pungkasnya.
Turut hadir dalam pertemuan itu Plt. Bupati Aceh Utara Muhammad Jamil, Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKP-Luh) Aceh Utara Ir. Syarifuddin, dan kalangan terkait lainnya.[]



